[Latepost] Wedding DIY | Bridal Shower Invitation alias Undangan Siraman

HAAAAAAH siraman aja pakai undangan?

Kira-kira gitu deh komen saya waktu si mamah bilang minta bikin undangan buat siraman. Alasan si mamah, banyak tetua di keluarga yang naga-naganya nggak bisa hadir pada saat resepsi saya (karena faktor usia sehingga mungkin mereka lebih cepat lelah dan mengantuk kalau acara malam), pun berhalangan juga saat akad nikah (karena hari kerja dan kayaknya anak-anak mereka pada nggak bisa nganterin).

Padahal saya cukup dekat dengan keluarga nenek dari ibu saya sampai-sampai semuanya saya panggil Uti juga, cuma ditambah nama aja di belakangnya. Kalau nenek saya ya the original Uti jadi nggak perlu ditambah namanya lagi. Ini kok jadi ngelantuuur? OK intinya karena saya cukup dekat dengan mereka, rasanya lebih afdol kalau mereka bisa hadir menemani uti saya, sekaligus tugas mandiin anak gadis biar hawa pengantin makin meruap.

Karena acaranya sederhana aja, undangannya nggak perlu dong ya cetak di percetakan undangan nikahan. Emang saya angsa bertelur emas? Untungnya berkat dunia maya saya menemukan ide cemerlang undangan siraman yang sederhana, nggak ribet bikinnya tapi tetep manis. Cukup diprint di kertas A4, lipat 3, stapler, kirim. Terima kasih wahai Mbak Tia dimanapun kau berada *kecupdarijauh*

Nyambung sama bentukan souvenir siraman, maka temanya nyari sesuatu yang ada gambar burung-burungnya. Dan jadilah terereeeeeet…..

Final Version
Final Version

Cukup berbekal powerpoint dan googling lho ini :

  • Bird image found via google, pas dicari-cari lagi kok nggak bisa nemu lagi aslinya dimana.
  • Geometric triangle print borders downloaded from August Empress (thank you for being so generous).
  • Supaya masih nyambung dengan undangan pernikahan, font nya saya samakan, yaitu pakai font : Riesling, Andes, Caviar Dreams hasil browsingan dari website font gratisan hohoho.

Instruksi pembuatan (berhubung project jadul maap nggak keburu bikin foto step-by-step uuu beybeh, tapi ini gampang kok) :

  1. Cetak di kertas A4
  2. Lipat horizontal jadi 3 bagian. Box warna hijau dilipat menghadap atas, karena akan jadi cover untuk menuliskan nama yang diundang. Lipatan kedua silakan mengikuti.
  3. Kalau mau gampang, setelah dilipat tinggal di-stapler.
  4. Kalau mau lebih cantik dan agak usaha dikit, lubangi kertas (idealnya di sisi kanan atau kiri supaya nggak mengganggu tulisan isi undangan). Ikat dengan pita.

Saya sebenarnya lebih suka versi awal dibawah ini, karena halaman depannya lebih jelas maksud dan tujuan undangan untuk apa. Kalau versi yang di atas tadi, ngeri dipikir minta sumbangan terus dibuang hahaha. Ya alhamdulillah sih yang diundang datang semua, tapi mungkin karena secara paralel sudah ditelpon sama si mamah jadi undangan lebih untuk formalitas aja. Selamat mencoba!

First Draft
First Draft
Advertisements

Bali, Baby! – Seminyak

Where We Stayed

Uma Karan, Jl. Bidadari III/8, Kunti 2, Seminyak

Satu lagi hasil browsingan Agoda. Hotel ini buat saya juara! Meski dari luar terlihat mungil dan sederhana ala losmen, tapi dalamnya bagus. Layoutnya juga efisien banget, nggak ada ruang yang terbuang percuma. Masuk-masuk langsung ketemu reception area. Lurus dikit ada area sarapan ala rustic yang manis di ujung kolam renang, berseberangan dengan beberapa daybeds untuk berjemur di ujung lain kolam renang.

20130522-124131.jpg20130522-124652.jpg

Jumlah kamar di Uma Karan cuma 8, dan semuanya pool side. Jadi buka kamar bisa langsung nyebur kalau mau. Jangan tertipu sama penampakan luarnya, kamar di sini luaaaaaaas banget. Kesan luas ini semakin diperkuat karena banyaknya cahaya alami yang masuk, soalnya pintu kamar terbuat dari kaca. Dinding yang menghadap ke taman juga dipenuhi jendela ukuran besar soalnya, dan semua kaca ini ditutup dengan vitrage ajaib. Kenapa saya bilang ajaib? Soalnya dari dalam kamar kita bisa melihat ke luar, dan cahaya dari luar bisa masuk semua, tapi dari luar nggak kelihatan apa-apa lho. Burem aja gitu. Keren ya?

Fasilitas kamar terbilang lengkap : ada free wifi, ada teko untuk masak air panas lengkap dengan kopi/teh instan, bahkan ada sofa & coffee table segala. Kami juga disambut dengan welcome cookies rasa chocolate chip yang rasanya enak. Tau aja dia kalo gw demen gratisan. Saya beneran males keluar kamar jadinya.

20130522-125432.jpg

Kamar mandinya cukup luas dan terang. Yang saya suka, sebagian langit-langit kamar mandi dibuat transparan, sehingga banyak cahaya alami yang bisa masuk. Free breakfast juga enak dengan beberapa pilihan : American Style (ada 2 jenis), Continental Style & Indonesian Style. American style breakfast termasuk 2 butir telur (bisa pilih mau dadar, ceplok, rebus, rebus setengah matang), 2 potong roti, teh/kopi/jus dan sosis ayam.

Satu-satunya kekurangan Uma Karan adalah lo ka si. Doi kurang dekat dari pusat keramaian di Jalan Raya Seminyak ataupun Jalan Petitenget, dan sekitarnya masih agak sepi. Bahkan di seberang hotel ini masih berupa padang rumput lho. Ahahaha. Buat yang biasa liburan ala backpacker mungkin nggak masalah, tapi kalau suka manis manja lebih baik sewa vespa atau mobil. Apalagi dalam kasus kami, biasanya kekenyangan abis nyoba-nyoba makanan, jadi kebayang malesnya pulang jalan kaki *pantes timbangan gw nambah.

Where We Ate

Kafe Batan Waru Kuta, Jl. Kartika Plasa Street, Kuta – +62 361 766303

Bukan suami saya kalau nggak balik ke tempat favoritnya. Lagi-lagi pasti yang dipesan adalah sop buntut. Huahahaha gak kreatif. Untuk dessert kami pesan creme brulee yang enaaaaak banget. Aroma vanilla nya segar dan nggak terlalu eneg, rasa pahit manis karamelnya juga pas.

20130522-170856.jpg

Metis, Jl. Petitenget No 6, Seminyak – +62.361.4737.888

Ceritanya kami nih mau romantic dinner gitu deh. Hahaha. Setelah browsing sana-sini, Metis adalah salah satu restoran yang berkali-kali disebutkan dalam daftar fine dining terbaik di Bali (menurut para turis asing).

Jadilah kita bikin reservasi untuk mamam-mamam romantis malam minggu. Dandan sekece mungkin, meskipun tetep laid back ala Bali (baca : nggak bikin gerah). Naik mobil sewaan yang nggak terlalu istimewa. Pas sampai sana…HUWOW! Bagus amat restorannya! Kan tau sendiri ya di Bali suka susah tempat parkir, disini parkirannya gedeeeee dan bisa valet segala. Untuk masuk ke area makan kita harus melewati ruangan semacam galeri.

Menu makanan sih ala perancis banget ya, meskipun dengan menggunakan bahan lokal, seperti misalnya appetizer kami adalah salad kepiting soka. Rasanya? Tergantung selera masing-masing sih. Karena saya suka penasaran sama makanan-makanan baru, jadi saya bisa menikmati keunikan rasa yang ditawarkan. Tapi buat suami saya yang lidahnya Padang banget, tentu buat dia nggak ada enak-enaknya. Hahahaha, kasian diaaaa. Untungnya masih ada menu-menu yang ramah lidah seperti steak. Jadi kalau nggak berani berpetualang ya mending makan steak ajah.

Metis sebenarnya terkenal karena foie gras-nya alias hati bebek. Tadinya antara mau coba sama nggak, tapi akhirnya mengurungkan niat karena saya nggak suka hati ayaaaam hohoho. Saya juga tadinya berharap banyak dari raspberry souffle yang kami pesan untuk dessert, tapi ternyata masih kurang matang sehingga tekstur dalamnya masih basah. Kalah deh sama raspberry souffle di BakerzInn.

Yang jadi highlight malam itu sebenarnya adalah pemandangan. Metis ini konsepnya open air, jadi kita makan dengan disuguhi pemandangan taman teratai, dengan sinar temaram lilin. Ah aku sungguh merasakan aura romansa! Hahaha.

20130522-170407.jpg
From top left : Reservations are written on a leaf, tuna tataki appetizers and butter bar for bread, after meal napkins come in pill forms to be dipped in aromatherapic infused water to make them grow into hand sized

Biku, Jl. Raya Petitenget No 888, Seminyak – +62 361 8570888

Biku ini salah satu tempat yang ingin banget saya coba, karena terkenal untuk High Tea nya (itu lho, minum teh ala bangsawan inghris). Purely because I have a sweet tooth!

Saat kami ke sana, sempet deg-degan karena belum bikin reservasi. Sedangkan saya baru baca beberapa komentar di Trip Advisor bahwa sebaiknya reservasi dulu karena tempat terbatas dan bisa antri sampai 45 menit. Untungnya saat kami datang nggak pakai antri lho, langsung dapat tempat!

Restoran ini berbentuk pendopo ala arsitektur Jawa. Dekor interiornya pun kayu semua dengan nuansa Jawa, bergabung dengan satu pojokan yang berfungsi sebagai toko buku, dan ada juga barang antik yang dipajang di rak-rak sepanjang dinding. Antik-antik ini juga dijual lho, dan para bulay banyak yang belum duduk udah mungut-mungutin benda antik ini untuk nanti dibeli.

Sesuai tujuan awal untuk mencoba aneka kue, saya pesan paket High Tea. Kebetulan hari itu adalah hari ibu versi Australia, jadi ada paket Mother’s Day Special High Tea. Isinya : 1 poci teh pilihan kita, 6 potong sandwich (isi salmon, isi timun dan isi ayam), 2 scone, 3 mini cupcake, 1 biskuit jahe, quiche bayam, dan 1 mangkuk strawberry segar dengan fresh cream. Ternyata meski terlihat mungil, ngabisinnya susah banget lho, sampai rasanya begah. Ya ampun pulangnya diseret aja boleh gak ini? Mobil derek mana mobil derek?

20130522-164544.jpg

20130522-164440.jpg

Saya pilih Rose Tea yang sebenernya sih teh biasa, tapi pakai aroma mawar (yakaliii aroma jeruk?). Poci, cangkir, piring kecil untuk kue semuanya bermotif seragam dan ada bisik-bisik tetangga bahwa itu keramik merk Royal Albert. Huwow aku jadi ingin ganti pakai gaun cocktail, pakai topi-topi fascinator terus telpon Kate Middleton. “Halo, Kate? Gw lagi minum teh nih, would you care to join?” sambil pegang cangkir dengan kelingking ngetril tentunya. *dibedil paspampres inggris

Untuk makanan berat, si abang pesen…apa lagi kalau bukan Sop Buntut. Hahaha. Tapi ternyata enak lho, dan Sop Buntut di Biku ini dapet ponten yang lebih tinggi dari Sop Buntut Kafe Batan Waru.

Dessert di sini sungguh aneka ria safari. Cakes of the day dipajang di depan kasir. Kita bisa beli per potong untuk makan di situ ataupun dibawa pulang. Berhubung si abang lagi doyan apple pie, jadi kami pesanlah itu kue meskipun perut sudah nyaris meledak. ENAK. YA AMPUN RASANYA NGGAK MAU PULANG!

Kesimpulannya, kami pasti akan kembali ke Biku suatu hari nanti kalau ke Bali lagi *Amin! Oya, untuk yang mau ke sini, lebih baik reservasi ya. Mungkin saya cuma hoki gak antri, karena pas saya pulang antrinya udah agak lumayan.

Where We Went

Ku De Ta, Jl. Kayu Aya 9, Seminyak

Ngapain ke Bali kalau nggak ke pantai? Dengan asumsi khalayak turis ibukota akan berbondong-bondong ke Potato Head, akhirnya kami memilih Ku De Ta. Ternyata ramenya sami mawon podo kabeh sama ajah. Hadeh. Sampe ngglosor di rumput, itu aja masih untung saya masih kebagian bantalan buat duduk. Bulay-bulay yang datengnya kesorean aja sampe nyempil-nyempil tanpa alas duduk hahaha.

Kami ke sini cuma buat nonton matahari terbenam aja sih, tapi ya tempatnya terlalu ramai. Mungkin sudah saatnya cari alternatif yang lebih sepi untuk bengang bengong liat sunset.

20130522-170505.jpg 20130522-170722.jpg

Bali, Baby! – ngUbud

Where We Stayed

Bumi Muwa, Jl. Monkey Forest

Silakan klik link di atas ya untuk masuk ke website Bumi Muwa. Kami memilih hotel tersebut dengan pertimbangan lokasi yang strategis (tepat di jalan Monkey Forest), lalu kamarnya bersih dan terkesan homey, dan yang paling penting harganya nggak bikin sakit hati.

Pas sampai sana, kami nyusurin Monkey Forest Road dong dengan PD. Satu kali… dua kali… kok nggak ketemu ya tempatnya? Akhirnya menyerah dan telpon ke hotelnya, katanya mereka akan samperin kita karena parkirnya valet. Barang bawaan kita yang cuma sedikit itu dibawain, sambil kami ngikutin bli concierge-nya dari belakang. Tapi lho, lho, lho kok dia masuk gang?!? Gang ini beneran gang, cuma muat satu motor lah kira-kira, diapit oleh sebuah toko kain (apa penjahit ya?) dan sebuah toko kelontong. Maaaas saya mau dibawa kemana ini?

Ternyata penampilan awal memang menipu, lho. Dibalik gang senggol itu rupanya ada miniatur surga. *halahlebay hahaha. Di Bumi Muwa ini kamarnya nggak banyak, mungkin sekitar 20an. Area reception kecil seperlunya, begitu juga area sarapan yang berupa pendopo kecil di tengah kebun. Tapi meski serba mini, bisa dibilang sebenarnya lengkap karena apa yang kita butuhkan ada di sana. Yang paling penting : bersih dan rapi.

Menurut saya siapapun empunya Bumi Muwa ini cerdas ya. Untuk mengakali space yang seuprit dan sebenarnya diapit banyak gedung, mereka banyak main di landscaping supaya tamu nggak merasa sumpek. Pepohonan dan taman yang ada berfungsi juga untuk menyembunyikan gedung-gedung di sebelah kanan dan kiri. Kamarnya sih cukup besar, mungkin sekitar 5×5 termasuk kamar mandi dalam. Ada balkon, free wifi, free cable TV, sama DVD player (DVD gak termasuk ya, tapi di jalan Monkey Forest ada yang jualan kok). Kamar mandi cukup bersih, dan ada air panas.

Kami dapat free breakfast dengan beberapa pilihan : American Style (ada 2 jenis), Continental Style & Indonesian Style. American style breakfast termasuk 2 butir telur (bisa pilih mau dadar, ceplok, rebus, rebus setengah matang), 2 potong roti, teh/kopi/jus dan sosis ayam. Kita juga bisa pilih, mau makan di area sarapan atau dibawa ke kamar. Kami pilih makan di balkon supaya bisa lebih puas menikmati pemandangan.

Overall, hotel ini recommended banget. Simple, bagus, bersih, lengkap, lokasi strategis dan nggak mahal.

20130517-114822.jpg
The alleyway to Bumi Muwa
20130517-115328.jpg
Stairway to Heaven
20130517-115247.jpg
A charming corner in our room
20130517-115436.jpg
Lotus seeds. This is what’s left after the petals have wilted.
20130517-115507.jpg
Lotus bloom
20130517-115403.jpg
Breakfast corner

Where We Ate

Kafe Batan Waru

Kafe ini letaknya di Jalan Dewi Sita yang tidak jauh dari Monkey Forest. Sepanjang jalan ini banyak sekali toko dan kafe kecil dengan aneka dekor menarik. Pokoknya pasti bikin pengen mampir deh. Kenapa kami ke sini? Karena suami saya sukanya minta ampun sama sop buntut di kafe ini.

apaaaaa? di bali makan sop buntut?!?

Harap maklum ya, urusan perut si abang ini kurang avonturir. Jadi buat dia makanan yang enak cuma Hoka-Hoka Bento, KFC, sama masakan istrinya (halah hahaha). Selain lokasinya yang stratehis, kafe ini pun open air sehingga nggak gerah, sekaligus bisa leye-leye sambil people watching. Jadi kalau capek sehabis jalan kaki menyusuri Ubud, kita bisa istirahat di sini. Sepenglihatan saya yang datang kok jarang orang lokal ya, dan mayoritas memang datang sendirian lalu berlama-lama di sini sambil baca buku, browsing atau ngobrol-ngobrol. The staff is super friendly and the drinks are so nice, so this is a great place to lounge around.

CinTa Grill & Inn

CinTa Grill ini direkomendasikan oleh si calon adik ipar, katanya steak nya enak. Setelah kami browsing, ternyata CinTa ini masih satu grup sama kafe Batan Waru, di bawah bendera Bali Good Food. Berhubung jaraknya cuma beberapa langkah dari hotel maka malam itu langsung kita coba. Kami pesan rib eye steak, tenderloin steak, dan ditutup dengan Dutch Apple Pie. Sumpah ini apple pie juara buanget! Endeus. Dan dimulailah fase si abang jatuh cinta dengan dessert berjudul apple pie. Suasana di CinTa ini mirip banget dengan Batan Waru : staffnya hangat & ramah, makanan enak, open air juga. Yang berbeda cuma jenis makanannya. Meskipun nggak ada live band, tapi kami kebagian denger live band di kafe sebelahnya yang sama-sama open air. Buat yang mau honeymoon di Ubud dan pengen keluar untuk mamam-mamam romantis, tempat ini layak dikunjungi.

Where We Went

KOU & KOU Cuisine

Pertama kali saya lihat Kou waktu dulu bulmad di Ubud, karena letaknya sangat dekat dengan kafe Batan Waru. Tertarik dengan storefront yang simpel dan minimalis, langsung saya masuk. Ternyata Kou ini menjual aneka sabun batang homemade, bath salts, dan beberapa asesoris mandi. Rangkaian aroma yang mereka keluarkan sangat khas Bali dan Indonesia, seperti melati, mawar, kembang sepatu, kamboja, dan semacamnya.

Meski aroma produknya sangat Indonesia, tapi model tokonya justru sangat Jepang. Turis yang datang juga banyak dari Jepang. Hebatnya, para pelayan toko mampu melayani pelanggan asing dengan bahasa Jepang dan Inggris yang cukup fasih. Sejujurnya kalau bahasa Jepang sih saya nggak bisa menilai fasih atau nggak, ya wong saya nggak bisa bahasa Jepang bwahahaha, tapi minimal dari baca raut muka turis Jepangnya, mereka manggut-manggut tanpa mengerut. Bisa disimpulkan mereka lumayan ngerti dong apa yang diomongin sama mbaknya. Usut punya usut yang punya Kou ini ternyata pasangan suami istri. Suaminya orang Bali, istrinya orang Jepang. Keren ya bisa memadukan kedua warisan budaya dengan pas dan unik. Japan simplicity & technology meets Indonesian natural diversity.

Di toko Kou saya juga melihat ada selai homemade, tapi tidak bisa dicoba. Menurut informasi dari penjaga tokonya kalau mau coba harus ke Kou Cuisine yang memang fokusnya menjual produk berupa makanan. Waktu itu saya nggak berhasil menemukan dimana letaknya toko itu. Untungnya ada review Living Loving tentang Kou Cuisine, sehingga akhirnya kemarin berhasil juga nemu.

Langsung deh borong 4 botol selai :

  • Milk & Caramel – rasanya sangat manis, persis seperti susu kental manis dengan sedikit aroma karamel
  • Grape & Buni – yang ini tart & tangy. Tahu buah buni yang merah kecil-kecil itu kan? Nah buah buni ini dicampur dengan rasa anggur sehingga hasilnya agak kecut dan bikin kemecer
  • Passionfruit & Tangerine – untuk yang suka orange marmalade, pasti akan suka juga selai yang ini. Bedanya kalau marmalade sedikit pahit dan “tebal”, sedangkan selai Kou ini lebih ringan dan segar karena dicampur dengan buah markisa
  • Mango – naaah ini favorit saya. Gimana ya cara menggambarkannya, rasanya persis seperti jus mangga harumanis yang sangat kental.

Dari semua selai itu, sepertinya Mango yang memang akan jadi menu sarapan. Milk caramel saya berikan ke sepupu untuk oleh-oleh karena dia memang suka makanan manis. Sedangkan dua lainnya kurang cocok untuk sarapan buat saya yang gampang kena maag ini, tapi sepertinya akan saya coba untuk dipadu dengan cupcakes. Nyam!

Kou – Jalan Dewi Saraswati, Ubud

Kou Cuisine – Jalan Monkey Forest, Ubud

Bali, baby! – Foreword

20130514-094027.jpg

A little teaser from the trip 😉

Jalan-jalan kali ini dalam rangka merayakan dua peristiwa sekaligus, yaitu :

  1. Long weekend
  2. Masa subur

Bwakakakakaka… bagus nih jadwalnya pas, ya kan ya kan? Sejujurnya sih karena berasa garing aja dengan rutinitas sehari-hari, dan acara jalan-jalan sebelumnya selalu gagal mencapai tujuan leye-leye. Sayup-sayup ada yang nanya : liburan yang mana Ndied? Hehe iya belum sempat diposting itu liburannya. Cerita liburan yang barusan aja dulu ya mumpung masih hangat-hangat suegerrr. Selain itu, tujuannya balas dendam juga sama Bali berhubung bulan madu kita dulu kurang sakseus.

Preparation

Paling pertama pastinya : minta cuti. Baru abistu afdol browsing tiket.

Belajar dari pengalaman masa lalu, maka liburan kali ini dipersiapkan dengan matang. Mengingat masih banyak hal di Bali yang belum dilihat, jadi sebelum booking hotel hal pertama yang harus dilakukan adalah: browsing. 

Berikut referensi saya untuk menentukan itinerary selama di Bali :

Itinerary

Beberapa kawasan yang kami bidik dari awal adalah Ubud, Seminyak dan Uluwatu. Total rencana 5 hari 4 malam. Akhirnya setelah semedi siang malam diputuskan jadwalnya akan jadi 1 malam di Ubud, 1 malam di Seminyak, sisanya dihabiskan di Uluwatu.

Transportation

Awalnya kami berencana mau hemat. Tapi dipikir-pikir antara masing-masing lokasi tujuan kan berjauhan ya, mana mungkin modal jalan kaki? Taksi pasti mahal. Mau sewa motor tapi kami lagi agak menghindari karena katanya bisa berdampak pada produksi *padahal sih tuan putri aja takut masup angin*

Alhasil tetep sewa mobil deh. Berbekal kemampuan spasial suami yang spektakuler, karena dia dua kali lewat jalan tertentu langsung inget selamanya. Keren! Dan tentunya saya sebagai navigator alias tukang baca peta lewat aplikasi di iPad.

Stay tuned for the trip summary!

Random Menjelang Libur

Hobi Terbaru 2013

adalah

sikat gigi sore hari.

Huahahaha… ketauan ya dulunya ga pernah. Sehabis sikat gigi rasanya segar kembali, lumayan lah membangkitkan hasrat bekerja. Mau ciam cium suami pulang kantor juga nggak takut bau *apasih*

I Prefer Desktop Computers

…dibanding laptop. Di kantor ini, jatahnya dapet laptop. Lebih mobile sih tapi ternyata nggak ergonomis. Leher pegel nunduk melulu 😦

Ingin Potong Rambut

di salon yang dulu langganan. Tapi terkadang malu sambil ngikik-ngikik sendiri kalalu lihat tagline salon nya : Bengkel Cakep Loe Pade.

Anyways, besok libur lho teman-teman, dan habistu dilanjut cutiiiiii! Ayeah! See you next week.

They Wrote That For Us

About a week ago, I came upon this tweet in my timeline :

20130507-170016.jpg

Before that, I know very little of the people behind the IWTFY blog. True, I do read it a lot, especially at the times I feel a little bit lost. But at the same time I have no idea who actually wrote it. In fact, I didn’t really care. All I wanted was to read into the pictures and the words accompanying it, wondering if it meant what I think it meant.

Who was Iain Thomas? Who was Jon Ellis?

In short, they were “just” a wordsmith and a photographer, whose work are embedded together in a single context. But in reality, their work became beyond that. It was more than a picture with a caption. It was something that truly made people feel as if they wrote that for us. It made us feel special. It made us feel understood. It made us believe we weren’t the only one who felt whatever it is we were feeling at the time.

I am not sad to hear the news that this would be the end of IWTFY. After all, it’s only natural that some things will end to make way for more things. Instead, I wish him all the best. I can see how artists can eventually be burdened by their own creations, and other people’s expectations and anticipations. It must be hard to revisit an unhappy memory or experience for the sake of your art, when personally you’re in a happy place. As it would also be difficult to revisit or emulate happiness when you are actually not there.

I don’t know if the people behind the blog will read this or not, but anyway good luck. And thank you.