March #MonthlyManicure | Jagoan Neon

Semua berawal dari browsing trend 2013, yang katanya akan banyak warna warni neon. Lihat isi lemari kok kayaknya saya banyakan warna gelap dan netral. Mau pakai baju pink neon juga kurang pede, abis namapun kulit sawo matang, nggak terawat pula. Yang ada malah makin keliatan buluk deh.
Jawabannya pasti aksesoris. Tapi apa? Tas warna neon nggak doyan. Saya pun bukan maniak sepatu yang harus punya aneka warna. Anting nggak terlalu suka. Eeeh terus nemu jam tangan mungil di Wakai. Modelnya klasik, strap tipis kulit (sintetis) warna kuning neon. Kereeeen. Tapi kok harga setengah jetih? Udah gila kali. Terus mutung deh karena pengen tapi dalam hati tahu itu overpriced.
Terus karena belakangan ini sering iseng-iseng mewarnai kuku, kemudian di instagram nemu online shop yang jual aneka OPI set mini. Jadi daripada beli satu botol besar, dengan harga yang hampir sama bisa dapat 4 botol kecil aneka warna.

Dan ahaaaaaa ada yang warna NEON! Impulsif belanja kemudian menghasilkan eng ing eeeeeeng…

On fingernails : Suzy’s Hungary Again – OPI Euro Centrale Mini Set

On toes : Can’t Find My Czech Book – OPI Euro Centrale Mini Set

20130402-165339.jpg

Mayestik!

Nggak ada istilahnya diet di hari libur. Judulnya aja libur, artinya libur berbagai hal yang nyiksa diri. Mulai dari kerjaan sampai nahan-nahan makan.
Dan nggak ada tempat yang lebih tepat untuk makan menggila selain : pasar mayestik!
Pasca renovasi tahun 2012, pasar mayestik sekarang sudah jauh dari image zaman dulu yang gelap, bau (hasil kolaborasi aneka aroma bumbu dan daging) dan becek. Yang saya lihat sekarang justru ber-AC dan nyaman, terang benderang pula.
Di lantai dasar isinya make up, toiletries, aneka wadah kue (toples, loyang, dsb), kerajinan gerabah dan tentunya wadah-wadah seserahan. Lantai 1 ke atas penuh baju, sepatu, bahan sampai penjahit. Lantai 2 ke atas relatif kosong.
Kemana perginya bahan makanan dan kawan-kawan? Ternyata ada di basement, dan konsepnya semacam pasar modern gitu. Bersih. Selain itu areanya juga dikandangin pakai dinding kaca sehingga aromanya bisa terlokalisir.
Highlightnya? Pasti makanan. Selain kue tete hijau favorit saya, kue cubit setengah matang, suami memperkenalkan rumah makan padang Sepakat. Jelas kenapa namanya Sepakat, karena begitu masuk mulut kayaknya lidah saya langsung salaman sama itu dendeng balado. Sepakat sama rasanya. Best padang food in town! Maaf nggak ada fotonya, tiba-tiba keburu habis makanannya.

20130402-171954.jpg

Langit Jakarta

Seperti biasa bulan-bulan Maret & April pasti langit mulai cerah ceria. Meskipun langit Jakarta nggak se-ajaib di Karawaci sana, tapi saya selalu nggak tahan untuk kehilangan potongan-potongan langit cantik ini.
Selalu mengingatkan diri untuk bersyukur pada sang pencipta 🙂

20130319-112626.jpg
dari lantai 22 gedung kantor, terik!
20130319-112633.jpg
Lunchtime view
20130319-113214.jpg
patung pancoran yang selalu menggapai langit
20130319-112727.jpg
Maghrib, dari atap rumah

#Trip : Yogyakarta (updated)

Awal bulan Februari lalu sempat impulsif ke Yogya. Judulnya impulsif karena kita datang tanpa itinerary, dan banyak banget perubahan rencana sepanjang perjalanan. Dari yang awalnya berangkat sama teman-teman kuliah si abang, kemudian H-2 pada batal karena sakit, trus mendadak teman-teman di kantor lama yang akhirnya bergabung. Trip yang seharusnya 3 hari 2 malam pun akhirnya harus terpotong jadi 2 hari 1 malam akibat kerjaan dadakan dari kantor.
Inti perjalanan tak lain dan tak bukan adalah kuliner tentunya. Dan ajak teman yang belum pernah ke Yogya buat lihat candi Borobudur dan ke keraton. Sayangnya kita ke sana pas persiapan sekaten, alhasil keratonnya tutuuup gak terima pengunjung. Ihiks.

20130403-113852.jpg
Dari kiri atas : Coklat Monggo, wedang ronde alun-alun, steak di Beukenhof, Bebek Goreng H. Slamet Asli

FOOD!

Bukan liburan kalau nggak selipin wisata kuliner, ya kan ya kan ya kan? Di waktu liburan Yogya yang sempit ini, setidaknya berhasil dapat beberapa makanan untuk dicoba-coba. Begitu landing dan mampir mini mart di bandara untuk beli minum, kemudian menemukan coklat lokal favorit : Coklat Monggo. Meski bikinan lokal, kualitas coklatnya bagus dan banyak varian rasanya. Favorit saya yang Orange Peel, karena terbuat dari dark chocolate (saya paling suka coklat yang agak pahit) dengan kombinasi kulit jeruk. Jadi ada kombinasi manis serta sedikit pahit dan asam. Perfecto! Kalau bingung beli oleh-oleh, bisa beli juga jenis ini. Rasanya sama saja, cuma dibalut bungkus bergambar khas Yogya.

Perhentian berikutnya, Bebek Goreng H. Slamet Asli. Our favorite crisp duck, with delicious sambal korek! Kalau yang benar-benar asli sih lokasinya di Sukoharjo ya, tapi kan Yogya masih dekat sama Sukoharjo jadi semoga rasanya nggak jauh juga bedanya. Dan memang tidak mengecewakan, bebeknya digoreng kering dan bumbunya sangat meresap sampai ke daging. Sambalnya? Jangan tanya gimana enaknya. Personally saya nggak terlalu suka pedas, tapi demi sambal ini saya rela deh menyonyo kepedasan saking gurihnya. The perfect sidekick for this duck! Untuk info lokasi Bebek Goreng H. Slamet (asli) saya peroleh dari website ini.

Sore-sore, saatnya main ke alun-alun. Banyak angkringan di sepanjang sisi alun-alun, dengan view langsung ke lapangan yang ada pohon beringin terkenal itu. Di sana kami menggila jajan jagung bakar, kopi tubruk, indomie rebus dan tentunya wedang ronde! Rasa sih biasa saja, higienis atau tidak juga diragukan, tapi suasananya nggak ada yang ngalahin!

Keesokan harinya kami ke Museum Ullen Sentalu, tapi karena ada kendala waktu akhirnya tidak sempat masuk dan cuma makan di Restoran Beukenhof yang ada di sana. Suasananya sih enak, sangat kolonial dan udaranya sejuk. Presentasi makanan cantik, tapi mungkin terlalu asli citarasa Belanda yang minim bumbu dan rempah. Lidah Indonesia macam saya kurang bisa menikmati jadinya. Jadi kalau ke sini, mungkin lebih baik untuk duduk-duduk ngobrol dan minum sehabis keliling museumnya saja.

20130403-115358.jpg
Dari kiri atas : Pohon beringin di alun-alun, Candi Prambanan, aneka becak hias di alun-alun, Ramayana Ballet

YOGYA @ NIGHT

Berhubung cuma 1 malam di sana, jadi nggak terlalu banyak aktivitas malam yang sempat dilakukan. Sore hari hingga menjelang malam ngangkring di alun-alun. Semakin malam, banyak becak yang dimodifikasi sedemikian rupa dengan aneka lampu warna-warni. Kalau suka, kita bisa minta diantar berkeliling alun-alun. Mungkin kalau punya anak kecil ini bisa jadi alternatif hiburan anak.

Setelah puas ngaso, saya meluncur ke area Candi Prambanan untuk nonton Ramayana Ballet alias Sendratari Ramayana. Idealnya nonton pertunjukan ini di musim kering, karena dipentaskan di pelataran candi. Sedangkan kalau musim hujan seperti saya kemarin, pentasnya indoor. For schedules see here, and here for reviews.

Tekad Baja

…suatu pagi otw kantor…

Suami : abang gendutan nih
Istri : jangan ngomong gendut kalau celananya masih bisa dikancing! (lagi kesel karena mendadak nggak ada celana kantor yang muat)

mendadak suami angkat kemeja nunjukin kalau celananya juga nggak dikancing (meski masi diretsleting)

Pandang-pandangan, ngakak berdua.

Istri : kita harus atur makan nih, ini terlalu ekstrim
Suami : kita harus lebih rutin olahraga
Istri : setuju! Deal ya…
Suami : deal.

…malam itu…
Si mbak masak sayur asem andalan, tempe goreng, sambel terasi.
Suami nambah nasi 2 kali.
Istri nggak nambah nasi tapi ngganyem sayur asem sama tempe kayak kesetanan. Malemnya masih ngemilin biskuit coklat.

Di mana letaknya si tekad baja?

ShareTea Cocoa with Rock Salt & Cheese

Here’s a little quirk to up an otherwise hectic friday. Basically I am in love with bubble tea because of the bubbles, but this particular flavor is just so good, and to really enjoy it the right way you can’t put bubbles in.

You can’t drink this with a straw. The drink comes with a small blade, used to cut a 2-3 cm slit at the edge of the plastic cover. And then off we go to sip city!

By slowly tilting the cup as you drink, the two flavors are automatically mixed. It creates a sweet & savory combo to entice the senses. Loooove it.

20130321-165104.jpg