February #MonthlyManicure | A Twist

Iseng di suatu malam ngoprek meja rias mama dan menghasilkan french manicure modifikasi

20130228-104912.jpg

Centilcentil lucu ya aku suka deh! Bling enough for a party but still acceptable for everyday. Warna mudanya pakai Revlon #345 Peach Smoothie, yang ternyata saat mengering ada aroma Peach nya. Warnanya agak terlalu pucat sih untuk kulit saya yang nggak terlalu putih, jadi kurang bagus kalau dipakai begitu aja. Makanya akhirnya saya tambah sedikit glitter di ujung, pakai glitter gold dari The Face Shop (entah namanya apa, browsing di google pun nggak nemu).

20130228-113416.jpg

Meskipun cantik nan ciamik hasilnya, tapi di kantor ternyata terlalu mengundang perhatian. Ditambah lagi itu glitter kok susahnya minta ampun mau dihapus deh. Setengah jam sendiri, pake nyangkut-nyangkut pula serat kapasnya.

20130228-114459.jpg

Next target, rencananya mau coba lagi dengan kuteks glitter yang lebih manusiawi (dan nggak terlalu bling).

20130228-114652.jpg

———-update———–
Ini hasil percobaan kedua dengan glitter yang lebih kecil. Overall nggak terlalu sukses sih, karena kemampuan memantulkan cahaya nggak sebagus glittet yang besar. Alhasil tante saya komen bahwa justru terlihat seperti ujung kuku saya kotor. Tergantung lagi dipandang dari arah mana sih.
Intinya apakah akan diulangi? Tidak. Ahahaha. Lebih suka versi pertama aja.

20130303-000604.jpg

Mau : Rimmel London Lasting Finish Lipstick by Kate Moss

Waktu acara kantor bertema 80an kemarin, untuk totalitas peran tentulah dibutuhkan gincu super jreng untuk bikin ala ala bibir mer.

Saya sendiri sebenarnya nggak suka pakai lipstick, semata dengan alasan : ribet deh ah. Kelar makan harus pulas ulang. Kebanyakan ngomong, pulas ulang. Mau cium-cium juga pasti mikir dua kali ngeri suami pipinya warna warni. Belum lagi bibir kering malah jadi makan kering. Jarang banget merk yang cocok deh pokoknya.

Yang namanya lipstick warna-warni, saya super alergi. Kalau tips-tips make up selalu bilang : pilih satu feature di muka untuk ditonjolkan. Berhubung pipi tembem, sebisa mungkin saya menghindari menonjolkan apapun yang letaknya dekat pipi. Jadi pasti emphasise on the eyes, yang artinya : bibir harus warna alami.

20130225-124619.jpg
Si lipstick idaman

Etapi apa iniiii, kok gincu merah pinjeman warnanya dahsyat? Nggak kliatan membencong ataupun layaknya spidol artline nemplok. Dipakai berjam-jam pun nggak kering dan warna masi super on. Baiklah mari di cari tahu merknya.

20130225-125432.jpg

Eng ing eng… Rimmel London Lasting Finish Lipstick by Kate Moss, warna 01. Yaah kok nggak ada di Indonesia sih merknya? Ternyata pun produk lama ya, udah ada dari tahun 2011. Hiks aku mau, apakagi swatchesnya sungguh menggoda.

20130225-125419.jpg
Swatch taken from Karla Sugar

Cages

It is now forbidden at my office to wear :

  • dresses,
  • jackets,
  • scarfs,
  • shawls,
  • pashmina,
  • nail polish

Other restrictions :

  • skirts must be knee high (not higher or lower)
  • necklaces must be small (strand necklace, no chunkies)
  • necklaces may only be worn inside of the shirt’s collar

Goodbye there self expression, you have just been flushed down the toilet

Umur Nggak Bisa Bohong

Weekend kemarin ada outing team Human Capital di kantor. Komposisi peserta cukup bervariasi, ada 30% tim senior, 40% middle management, dan sisanya masih super junior alias seger-seger masih bau kampus. 

Agendanya selain workshop dan rencana kerja 2013, pastinya ada pula malam keakraban alias sarana katarsis pelepas stress kerja. Panitia menetapkan temanya adalah : 

80’s rock

Waseeekkk, gampang lah ini persiapannya. Referensi lagu jelas sudah hafal luar kepala, jiwa rocker sudah mendarah daging, tinggal tampilan luar aja dipoles biar meyakinkan. Layaknya malam keakraban pada umumnya, pasti wajib ada kuis dan performance adu putus urat malu. 

Ketika tiba hari H, coba tebak apa yang terjadi? Ternyata yang semangat nyanyi karaoke 80’s cuma sedikit banget. Sisanya ada yang jaim, ada yang nggak tahu lagunya, ada yang…udah ngantuk (padahal baru jam 10 malem). Anak-anak ODP (program MT khusus team Human Capital) yang saya prediksi akan super heboh di malam itu, kok juga pada lempeng aja mukanya. Lalu saya asumsi dong, mungkin karena mereka dari daerah (for the note, mereka semua berasal dari luar Jakarta, dan nggak semuanya dari kota besar) jadi ya beda selera lagu aja kali ya. Akhirnya saya kasih catatan ke diri sendiri, siapa tahu besok-besok didapuk jadi panitia, harus pilih tema dan lagu-lagu yang masuk ke semua lapisan, jangan cuma “selera Jakarta”.

Masuk ke sesi kuis, ternyata bocah-bocah mungil ini kok semakin datar? Padahal pertanyaannya seru-seru lho :

  1. Apa tagline TVRI?
  2. Apa kepanjangan dari ACI?
  3. Film seri apa saja yang biasa ditayangkan malam hari di RCTI?

Tapi…. kenapa mereka nggak bisa jawab? Bahkan nebak pun nggak bisa?

Akhirnya iseng dong bertanya ke salah satu dari mereka :

Kamu nggak tahu sama sekali ya soal-soal kuisnya?

Nggak Mbak

Memang kamu lahir tahun berapa sih?

Tahun 90 Mbak

Haaaah!!!! Apaaaa!?!?!?!

Jadi kamu nggak pernah merasakan masa ketika TVRI adalah satu-satunya saluran televisi yang bisa ditonton? Kamu nggak nonton Thundercats atau He-Man? Kamu nggak tahu apa rasanya lagi asyik nonton film Layar Emas dan harus rela dipotong oleh Dunia Dalam Berita atau siaran khusus yang menceritakan panjang lebar “instruksi bapak presiden”? 

Ini adalah generasi yang selalu punya pilihan. Ketika mereka sudah cukup usia untuk menonton televisi, mereka bebas memilih di antara lebih dari tiga saluran televisi. Wow.

Pada detik itu aku merasa sungguh tua.

1st Valentine

Dear Husband,
Turns out yesterday would have been our 1st valentine together. Before that there were no us to begin with. We were friends, and it would have been awkward.

That is, if we even celebrate it at all. There are too many reasons not to : we would just say it’s just another futile attemt of global corporates to capitalize off our delicate sentiments for each other. The nerd in me and the alpha-male in you would just shrug it off and say

we’re too cool for that

:p

There was a quiz today on twitter where we had to submit our sweetest moment with loved ones. And I tried to think of ours. It turned out there was at least one moment each day for the past 104 days we’ve been together.

And then I was torn between submitting the super sweet ones by social standards, or by my standards? I don’t think people would understand and appreciate those moments that were most dear to me.

Should I tell them about our sleepy eyed g’bye-dear-have-a-nice-day kisses every morning when you drop me off at work? Or the crazy giggly conversations over warkop songs each night on our way home?

Should I submit stories of your warm bear hugs when I’m tired at work? Or the night I was a little gassy and farted so loud, and you thought the sheets or the curtain ripped and we laughed so hard until our jaws were stuck open?

Should I share how you’d serenade me with old Sinatra love songs? Or the time you chimed in when I was humming the tune of Yamko Rambe Yamko and we ended up singing a duet of it at 1 in the morning?

You see? The moments I treasured most were the ones that almost didn’t make sense -well at least to anyone else other than us.

So what I did was, I ended up submitting a picture of my grandparents. You know that one right, when he surprised her with a hug from behind? I submitted it because I think that was the kind of sweet everyone could relate to.

They’re my role model, the kind of love I aspire to be able to give you. I pray our love will also grow to be as strong, if not stronger. Grandpa wad 85 when the picture was taken, he’s 87 now and still kisses grandma goodnight every night before he goes to sleep. And although they always seem super sweet, I bet they too used to have quirky mischievous moments quite like ours.

What it all comes down to, is that I thank you, dear husband. For being you. For loving me the way you do.

And what it all comes down to is that I love you. Valentine or no valentine.