She vs Him

He likes the Beatlespre 1966. As in the good old fashioned rock and roll era.

I like the Beatles – especially post 1966, the point where their music (both in composition as well as the issues they highlight) got more complex

He likes vintage music – circa 60’s – 70’s, veering towards folksy and harmonic music like Simon & Garfunkel, Engelbert Humperdinck & the likes.

I like vintage music – basically from the same era. Blues, soul, gritty rock and great guitar sounds. Music from most of the 27 club appeals to me, as well as those from Jefferson Airplane, Deep Purple & Led Zeppellin.

He likes Chicago (the band, not the city).

I like Kansas (the band, not the city).

He likes Kings of Convenience.

I like Kings of Leon.

So what do we play in the car? Well, we found some common ground in Coldplay, the Beatles’ greatest hits, some Bread, a mix of slow rocks, and the ultimate Indonesian classic:

20130131-101544.jpg
WARKOP Juaranya!
Advertisements

Mengakhiri Januari

Di penghujung januari dan mengilas balik, banyak yang terjadi.
Ada yang patut disyukuri, meski ada juga yang membuat kita berpikir “silakan coba lagi”.
There was devastation.

20130129-120905.jpg
Banjir di Kampung Melayu, depan kompleks saya. pic taken from twitter

But at the end january left me some hope. Things will get better.

20130129-120930.jpg
Sunset, 280113 – pic taken from 22nd floor of my office building

Bagaimana perihal resolusi?
Asupan air putih bertambah meski belum konsisten. Olahraga belum sama sekali ahahahahaha. Quality time sama suami belum optimal akibat kerjaan sekarang bahkan menggerogoti weekend.
But i’m hoping the worst will be over soon. Please be better dear February.

Les Miserables

Jadi ya, seminggu ini kerjaan di kantor lagi super duper hectic. Tiga hari berturut-turut pulang paling cepet jam 11 malam. Sampai rumah pasti udah tepar dan langsung guling-guling di kasur sampai ketiduran. Di kantor pun sudah nggak sempat lihat yang lain selain layar. Pffttttt…  Alhamdulillah di tengah-tengah minggu ada satu hari libur, yang pastinya langsung dimanfaatkan untuk nonton. Pokoknya harus keluar rumah, karena bosan lihat tembok terus di kantor.

Sejak pertama kali lihat poster Les Miserables di bagian “Coming Soon” bioskop-bioskop Indonesia, saya sudah ultimatum suami : pokoknya harus nonton. Suka nggak suka, mau nggak mau, rela nggak rela. Kalau emang dia nggak mau sama sekali (he’s not really into musicals), ya saya mau nonton sendiri aja. Intinya :

harus

nonton

.titik.

Pasalnya, hal yang pertama membuat saya jatuh cinta sama teater dan musikal, ya Les Miserables ini. Kelas 6 SD adalah trip perdana saya ke luar negeri sama orang tua, dan waktu itu salah satu acaranya adalah nonton opera Les Miserables di Esplanade (kalau nggak salah). Duduk di baris depan, tengah-tengah. And I swear, it was one of the most mesmerizing things I ever saw. Enchanting.

Ya sebenarnya sih umur segitu belum ngerti-ngerti banget juga sama keseluruhan ceritanya. Yang saya ingat waktu itu cuma the Thenardiers, sepasang suami istri oportunis yang digambarkan sangat komikal. Dan yang paling dahsyat di ingatan saya adalah anak mereka, Eponine. Si korban friendzone yang bertepuk sebelah tangannya super miris sampai waktu itu juga saya ikutan nangis sesenggukan. Itu lagu On My Own juga sampai saya kuliah selalu terngiang-ngiang deh kalau lagi patah hati.

Bahwa inti cerita Les Miserables sebenarnya tentang keadilan dan perjuangan, malah nggak terlalu membekas di ingatan saya. Mungkin waktu itu juga saya belum perduli dengan topik-topik “serius” seperti itu ya.

Maka itu buat saya, nonton Les Miserables kali ini : wajib. Apalagi sesudah Smita posting reviewnya. Agak deg-degan juga sih sebenarnya, takut ekspektasi terlalu tinggi dan akhirnya malah kecewa. Tapi kalau dilihat jajaran cast-nya, sepertinya cukup menjanjikan.

Akhirnya tibalah hari libur yang dinanti-nanti. Dan ya ampun sumpah nggak kecewa sama sekali.

  1. Anne Hathaway sebagai Fantine menurut saya sempurna. Adegan nyanyi “I Dreamed a Dream” sukses bikin mata berkaca-kaca. Terasa banget bagaimana dia dikecewakan dan dikalahkan oleh realita, harus rela merendah-rendahkan harga dirinya cuma untuk uang yang nggak seberapa juga. Rasanya pengen kasi *pukpuk* terus peluk sambil ikutan nangis. Meskipun agak sebel juga, kenapa sih udah dibotakin, gigi item-item gitu, muka dekil, nangis mewek tapi kok masih cantik aja sih mbak. Iri deh!
  2. Eponine, to me, is and has always been the true heroine. Susah lho bisa rela bilang “aku seneng kok asal kamu seneng mas”. Tapi aku geregetan karena nggak setuju dengan selera cowoknya. Apa sih kok naksir sama Marius yang cengeng dangdut gitu, so not worth all the tears deh. Kalo Eponine harusnya naksir sama Enjolras, temennya Marius yang pemimpin pemberontakan dong ah! Kan mas-mas idealis gitu gagah lho. *iki opooo
  3. Gavroche, si bocah muka badung itu menggemaskan sekaliii. Aku mau tabok bapak-bapak tentara yang tembak dia. Dasar nggak punya hati.
  4. The Thenardiers are brilliantly casted. Helena Bonham Carter & Sacha Baron Cohen juara banget. Mereka bisa menggambarkan oportunisnya keluarga Thenardier dengan sangat menghibur, sama seperti penggambaran keluarga Thenardier di opera yang saya tonton dulu.
  5. Pas lagu “Do You Hear The People Sing”, itu rasanya beneran kayak mau ikut turun ke jalan deh sambil kibar-kibar bendera. Terbakar gitu semangatnya hahaha, silakan coba buktikan, rasanya setara dengan dengar Indonesia Raya berkumandang di Olimpiade.

Ah pokoknya, Les Miserables sakseus lah bikin saya nggak (terlalu) miserable.

Your Job is NOT Your Career

Today I was on the verge of my wits’ end, and ended up googling the words “I hate this job”

I am not a quitter, mind you. Never was, and hopefully never will be. I have always been one of those people that whenever someone tells me “You’ll never be able to pull it off”, it just adds fuel to my fire of determination.

I WILL prove them wrong.

But the past year has found me overworked yet underutilized. How is that possible? Well, I guess that’s what happens when you’re in an organization that’s “lean” in support functions. However, “lean” only works when there’s a good infrastructure and system in place. If things are still done manually, “lean” doesn’t work. And that is why I now feel stuck with too much paperwork, and too little time to actually do the projects that adds value.

It would be so easy to blame the situation, blame the supervisors, and the management. But then again I had to ask myself

What have I done to make the situation better? Have I made changes to the current “system”? Or at least propose a change?

This post by Edward Suhadi is one of my many favorites from his blog. I think the man is not just an amazing photographer and entrepreneur, he’s a very good writer as well. When I first read that post, I remember thinking : That’s easy for him to say. He’s making a living from his passion, which also happens to be one of the coolest jobs in the world. What about the rest of us unfortunate people?

Oy, the green eyed monster! It finds its prey so easily. Then after a while I thought :

Maybe the reason there’s so many people who aren’t  “lucky” enough to be able and make a living out of their passion, is because there’s not enough people brave enough to try.

So in 2013, I guess my challenge will be this : how good can I prepare myself? Banzai!

New Theme

Ahahah ini posting penting nggak penting ya…

Setelah cukup lama pakai theme yang Ari, akhirnya mencoba theme baru yang ternyata bikinan anak negeri lho… Judulnya Minimalizine. Cukup sesuai dengan model theme yang saya suka lah, simple tapi stylish. Cuma sayang widgets nya ada di bawah semua, sedangkan akik sukanya kalau widgets bisa kliatan di samping post. Tapi yastralah ya, demi mendukung nama Indonesia (iki opoo nasionalisme membabi buta).

Mari kita lihat sejauh mana bertahan dengan theme ini yaa.

—————————————————————————–

ternyata cuma bertahan dua minggu deh, pake theme yang itu. Terus gerah karena nggak banyak yang bisa diutak-atik dan kembali berulah ke theme sebelumnya. huhuhu

Game Addict

Pola komunikasi sebelum menikah :

telpon bangunin si Er dalam perjalanan ke kantor – saling telpon sesampainya di kantor – kerja – telpon saat makan siang – kerja – saling telpon di perjalanan pulang – makan malam (masing-masing) bersama teman/keluarga – me-time – saling telpon menjelang tidur

Itu nggak menghitung telepon semenit dua menit di sela waktu kerja ya. Kami memang tipe yang sering komunikasi lisan, entah kenapa rasanya waktu selalu kurang untuk ngobrol dan cerita ini itu. Jadi kapanpun sempat menelepon, pasti dimanfaatkan. Sekarang sesudah tinggal satu rumah, ternyata waktu mengobrol jadi buanyaaaaak banget. Bangun tidur, sambil sarapan, di perjalanan ke kantor, perjalanan pulang, makan malam dan menjelang tidur.

Alhasil terkadang me-time yang dulunya berlimpah, sekarang jadi barang langka. Me-time di sini maksudnya waktu untuk bengong dan decompress sepulang kantor aja sih. Rutinitas sepulang kantor yang dulunya saling nyantel di telepon, alhasil malah jadi begini :

ngobrol di mobil dalam perjalanan pulang – ngobrol sambil makan – gantian mandi sesampainya di rumah – main game di gadget masing-masing – nonton DVD – pillowtalk

Ditambah lagi suami gajian perdana di kantor baru, kemudian menghadiahi istrinya telpon baru untuk menggantikan smartphone jadul yang saking sering hang sudah nggak layak disebut SMARTphone. Jadilah sekarang saya punya banyak mainan baru, yang berbuntut munculnya berbagai sindiran dari suami : 

“Dek, abang beliin ikan beneran aja ya?” – Fish With Attitude

Game ini, sebenernya sih sama sekali nggak membutuhkan kapasitas otak di atas rata-rata. Di bawah rata-rata aja kayaknya bisa deh hahahaha. Makanya buat saya ini justru the perfect de-stressing game.

Intinya gampang, di game ini spesies ikannya dikategorikan berdasarkan sifat. Ada yang baik, ada yang pemalu, ada yang suka gosip, sampai yang doyan pesta pun ada. Caranya tinggal kawin silang antar ikan-ikan itu. Gampang kan huhuhu….

fish with attitu

fish with attitude
Lucuan ikan-ikan ini kan daripada ikan beneran?

“Dek, ngapain sih motongin buah melulu, latihan jadi tukang rujak?” –  Fruit Ninja

Yak sindiran mulai nyelekit. Kalau game ini, lebih pakai otak daripada ngawin-ngawinin ikan. Tujuannya sih cuma memotong buah yang dilempar sampai memperoleh skor sebanyak-banyaknya, tanpa kena bom yang kadang-kadang ikut terlempar sama buah-buahan itu. Kalau bisa dapat combo alias memotong beberapa buah dalam satu kali tebasan pedang, nilainya semakin besar

fruit ninja

“Dek, ngapain sih main nyari-nyari barang terus? Mendingan cariin barang abang banyak yang keselip pas pindahan kemaren.” – Mirrors of Albion

Nggak kira-kira deh suami gue, semakin susah game nya, semakin sadis juga komennya. Game ini sebenarnya yang paling butuh kerja otak, karena harus mencari berbagai barang dalam gambar. Sounds simple sih, tapi bikin penasaran. Apalagi petunjuk barang yang dicari bisa berupa kata-kata, siluet, atau kode tertentu.

albion
Can you find the perfume bottle?

Berbagai komentar inilah yang akhirnya mendorong termaktubnya salah satu resolusi 2013 : mengurangi distraksi gadget supaya lebih bisa memanfaatkan quality time sama suami. Masih untung jam kerja saya & suami terbilang normal, bisa berangkat dan pulang bareng, dan sama-sama ditempatkan di satu kota. Padahal baca blog-blog lain, banyak juga yang terpaksa long distance marriage. Kok saya jadi seperti tidak bersyukur dan menyia-nyiakan waktu yang diberikan ya?

Apakah saya jadi berhenti main game? Tentu tidaaaak, decompressing pasti tetap dibutuhkan untuk restart otak. Ya setidaknya dikurangi aja lah, kalau memang sama-sama lagi butuh me-time ya silakan nikmati me-time masing-masing. Doakan!

Bring it on, 2013!!

Tahun-tahun sebelumnya, bikin resolusi kok ya nggak pernah terealisasi. Ini saya yang malas atau resolusinya yang terlalu susah ya? *uhuk jelas yang pertama*

Tanpa kapok, mari kita simak jajaran resolusi 2013 :

  1. Lebih banyak minum air putih. Rahasia kulit bagus tentunya adalah hidrasi, baik dari luar tapi terutama dari dalam. Lah apa kabar ini saya yang jarang sekali minum air putih? Nggak usah muluk-muluk dulu deh targetnya, minimal 1 liter air putih sehari.
  2. Olahraga rutin. Rutin bukan berarti harus sering (kok belum mulai udah keburu males begini nada-nadanya?). Maksudnya, yang penting dibiasakan olahraga aja dulu deh. Dulu pernah ikut-ikutan fitness tapi ya males juga kalau lokasinya nggak dekat rumah ataupun kantor. Jadi sekarang targetnya seminggu sekali berenang/jogging aja deh.
  3. Gadget seringkali mendekatkan yang jauh tapi justru menjauhkan yang dekat. Semoga tahun 2013 bisa lebih “present” dan meresapi setiap momen yang ada tanpa terdistraksi gadget. Paling tersadarkan dengan meninggalnya Opa kemarin, rasanya sebanyak itu waktu yang disediakan Allah (beliau meninggal di usia 82), kok ya sedikit sekali quality time yang saya habiskan bersama beliau.
  4. Feed the right animals, as written below

the-two-wolves