Long Before I Knew

For once I can touch what my heart used to dream of
Long before I knew
Someone warm like you
Would make my dreams come true

2 November 2009

Di kantor yang lama ada annual HR meeting di Hotel Dharmawangsa. Waktu itu takjub pisan dong ya lihat area ballroomnya yang nyambung dengan sebuah area semi outdoor, jadi otomatis langsung membuat pernyataan dengan lantang :

pokoknya kalau nikah, akad nikahnya mau disini!

Di sudut ruangan seorang teman berkomentar :

nikah kok di hotel? akad nikah tuh di masjid tauk.

I was annoyed and thought to myself 

Kenapa komen-komen atur-atur gitu sih lo? Kan sini yang mau nikah, nikahnya juga bukan sama situ. Ganggu impian orang deh.

2 November 2012

Saya melangsungkan akad nikah. Di masjid. Dengan teman saya yang komen-komen ganggu di atas tadi.

Ain’t life funny?

*Penggalan lirik di atas adalah dari lagu Stevie Wonder yang judulnya For Once in My Life, yang kebetulan di-release di tanggal yang sama : 2 November 1968. Sok di pas-pas in aja sih :p

Siapkah Beranak?

Alangkah lucunya ketika di suatu siang terima email dari suami berisi :

1st day period : xx November 2012

sikulus xx hari

Next period : xx December 2012

Masa subur : xx – xx December 2012

Note :

asam folat & zinc : brokoli alpukat kacang2an bayam telur gandum susu strawberry pusang

no junkfood, no seafood, no barbeque, no coffee, no soda

teh maksimal 2 cangkir sehari

cemilan diganti buah

Sedangkan empunya rahim belum browsing apapun :p Somebody may evolve to be a rabid daddy sometime soon.

Anyway, beberapa hari lalu sambil nunggu pesanan datang di sebuah restoran pizza, melihat dua skenario parenting yang sangat berbeda. Di adegan pertama, seorang ibu dengan dua anak mengantri pesan take out. Anak yang paling kecil (kira-kira kelas 4 SD) minta izin ke toilet, lalu si Ibu dan kakaknya memesan pizza. Setelah sekitar 15 menit, si adik ini kembali sambil merengek minta pulang karena dia kebelet pipis dan tidak berhasil menemukan toilet. Si ibu tiba-tiba malah teriak-teriak memaki anak ini sambil bilang :

ih bego banget sih kamu, dari tadi ngapain aja? tanya dong sama mbaknya toilet dimana, kayak nggak punya mulut aja sih?

Akhirnya anak itu dicubit, dijewer, dan disuruh menunggu di luar restoran sambil menahan pipis karena pesanan pizza mereka belum datang. Si ibu yang masih di dalam restoran terus berlanjut mengomel sambil menjelek-jelekkan si adik kepada kasir restoran dengan suara cukup keras hingga bisa terdengar oleh saya yang berjarak sekitar 5 meter darinya.

Masih di restoran yang sama, pada meja di depan saya ada sebuah keluarga muda : ayah, ibu dan putrinya berusia sekitar 2 tahun. Anak ini menunjuk-nunjuk pizza ibunya lalu menunjuk mulutnya, mungkin dia penasaran apa rasanya. Si ibu mencoba memberi pengertian bahwa makanan itu masih terlalu panas. Tapi si anak kayaknya penasaran banget sampai mulai loncat-loncat dan terus menunjuk makanan. Akhirnya ibunya mengalah dong ya, disuapin ke anaknya meski pake ditiup-tiup dulu. Ternyata memang benar kata ibunya, terlalu panas hingga anak ini mangap-mangap dengan sosis separuh terkunyah di dalam mulut *ewww* dan akhirnya … SOSIS DILEPEH KE PIRING IBUNYA, di atas pizza yang sedang dimakan si ibu. Ibu bapaknya cuma saling pandang sambil ketawa-ketawa ngenes gitu.

Sesudah itu, si anak nggak kapok, tetap mau coba makan pizza panas, meskipun kali ini dia keukeuh mau potong & suap sendiri. Berhubung crust pizza kan agak kenyal ya, jadinya setiap kali ini anak berusaha “memotong” pakai garpu yang ada malah itu garpu membal-membal ke atas. Ya namanya motorik juga belum sempurna kan untuk aktivitas rumit semacam memotong pakai garpu, kadang-kadang malah jadi berisik centrang-centrang piringnya. Canggihnya, lagi-lagi pasangan muda ini cuma saling pandang sambil nyengir-nyengir malu ke meja sebelah yang mulai melirik mereka. Si ibu mengalihkan perhatian anaknya, lalu si bapak dengan sigap mengambil piring dan memotongkan pizza kecil-kecil.

Kalau saya yang jadi orang tua dalam kedua skenario diatas, pasti kesal sih ya.

Di skenario pertama, saya bisa paham bahwa ibunya gemas. Untuk anak seumur 9-10 tahunan, bukan hal yang terlalu rumit untuk bertanya lokasi toilet kepada petugas. Then again, ini tergantung juga pada beberapa hal. Apakah anak ini sangat pemalu dan tidak berani berbicara dengan orang luar? Atau mungkin ibunya memang tidak membiasakan agar anaknya proaktif bertanya? Atau bisa jadi anaknya sudah ke toilet tapi kurang nyaman dengan layout dan perlengkapan toilet umum yang pasti nggak senyaman toilet rumah. Apapun, buat saya yang nggak wajar adalah bahwa ibu itu merasa perlu membentak-bentak anaknya, dan bukannya memberikan solusi malah “menghukum” anaknya untuk menahan pipis.

Saya pribadi mungkin akan lebih frustrasi di skenario kedua daripada skenario pertama. Bayangin dooong lagi enak-enak makan, terus dilepehin sosis benyek. Apalagi anak seusia gitu kan lebih susah diberi pemahaman yaa… Tapi canggih deh orang tuanya, sabar banget. Salut lah saya…

Kayaknya satu hal yang penting banget buat saya pelajari sebelum nanti beranak : dengan adanya tanggung jawab atas satu manusia yang punya kehendak bebasnya sendiri, maka sering kali akan muncul situasi di luar rencana dan dugaan kita. Kaget, kesal, itu wajar banget ya. Tapi nampaknya penting memampukan diri sendiri (dan pasangan) untuk bisa mentertawakan diri sendiri dan saling kasih semangat buat sing sabar yoo.

Abis kalau dipikir-pikir, si ibu di skenario pertama itu mungkin cepet naik darah dan kesambet bentak-bentak anak karena nggak ditemenin suaminya kali ya? After all, one of my friends once said :

esensi sumami adalah orang yang bisa membuat kita waras selamanya

So, yeah, I WILL need my pawang to hold my hand through this amazing journey.

#GoBakeGiveaway dari @Metariza

Uwoooh aku sungguh bersemangat!!! Ternyata di endonesi ada juga yang bikin giveaway macem blog mancanegara. Dulu waktu sering blogwalking ke cupcake blogs (yang mana mayoritas adanya tidak di Indonesia), suka ngiler-ngiler liat giveaway yang hadiahnya berbagai perangkat bikin cupcake lucuk-lucuk. Liat perlengkapan masaknya aja udah pengen gigitin, pasti bikin cupcake pakai alat itu hasilnya sempurna dong yah. Ahahaha padahal nggak ada korelasinya juga ya…

Kalau dahulu ku hanya mampu gigit jari memandangi aneka ria giveaway di ranah dunia maya, sekarang pokoknya harus bisa ikutan dooooong. Yah yah yah, maka dari itu lah posting ini dibuat, semata sebagai salah satu persyaratan ikut giveaway ahakhakhak :p

Sebenernya syaratnya juga nggak susah sih, selain menginformasikan account twitter dan bikin posting tentang giveaway ini, kita cuma perlu share tentang motivasi awal baking dan resep andalan.

“What and who motivates you to bake?”

Sebenarnya dulu waktu kecil sih pernah bantuin nyokap bikin kue, meskipun yang saya kategorikan “membantu” adalah ngaduk-ngaduk adonan (baca : megangin mixer :p ) dan jilatin adonan sisa di mixer. Semakin saya besar, Mama sering terima pesanan kaastengels untuk natal dan lebaran. Saya pun membantu cuma sebatas olesin telur sebelum adonan dipanggang, dan menyusun dalam toples. Sedikit pun nggak ada keinginan belajar.

Zaman SMA dan kuliah, saya suka sekali Brownies. Alhasil mulailah bereksperimen bikin brownies dengan resep asal-asalan entah darimana. Hasilnya? Mmmm ya nggak konsisten deh, hari ini enak, besok-besok teksturnya aneh. Padahal resepnya sama lho. Jadi saya menyerah dan berhenti bikin brownies. Waktu itu saya belum paham bahwa resep bukan sebatas bahan baku yang digunakan untuk membuat, terkadang proses pembuatannya bisa membuat begitu banyak perbedaan.

Ketika ada demam cupcake gila-gilaan, jadi deh saya ketularan pengen bikin. Ndilalah, sampai judul blog nya pun sok sok pakai unsur cupcake. Niatnya sih supaya rajin bikin kue. Kenyataannya?  Bwahahahaha… Posting masak memasak cuma satu kali ajah. Abistu paling banter cuma pesen cupcake di toko langganan. Etapiii siapa tau hadiah giveaway kali ini bisa jadi motivasi untuk kembali bikin-bikin kue yaaah.. *amin*

“What is your favorite recipe?”

Ehm, jadi ceritanya pertanyaan ini ada 2 versi. Untuk yang baru mau mulai baking ditanya “What kind of food would you first bake?“. Nah saya kan jumawa dong, meskipun sekarang udah nggak pernah tapi dulunya beberapa kali bikin cupcakes ya, jadi merasa lebih masuk kategori yang udah biasa baking *yeah rite, toyor diri sendiri*

Kalo resep favorit ya standard aja sih, pakai resep cupcake andalan dari Nigella Lawson sang Domestic Goddess tapiiiii teknik membuat adonan mengikuti idola saya sebagaimana dia jabarkan di sini dan di sini.

Baiklaah semoga menaaang *prokprokprok*. Untuk yang tertarik ikut giveaway ini, kalau nggak salah masih dibuka sampai 30 November 2012, lengkapnya monggo dilihat di sini. Pengennya sih yang ikut nggak usah banyak-banyak supaya kesempatan menang lebih besar, mending pada doain saya menang ajah ahahaha, tapi ya jadi manusia kan nggak boleh ehois toh, harus bisa legowo. Siapa tahu malah jadi beneran menang. *amin* :p

Married Life

The first few minutes of Pixar’s “UP” says it all : married life is hardly all smiles and flowers. Tapi ya, buat saya perjalanan apapun nggak akan berkesan kalau nggak ada tantangannya. Yang penting, sekarang menghadang tantangan nggak sendiri, melainkan berdua. Tentunya (emh… semoga ya) kemampuan problem solving lebih mumpuni dibandingkan sendiri-sendiri. Semoga ini nggak jumawa semata yah ahaha.

Dua minggu menjalani kehidupan pernikahan, kayaknya kami masih afterglow, sisa euphoria rangkaian acara selama beberapa hari dan bulan madu yang beruntut-runtut. Papa masih girang menghimpun komentar tetamu tentang hadiah video & lagu dari beliau yang super mengharu-biru. Mama masih terhura mendengar pujian tentang dekor dan makanan yang (alhamdulillah, banyak yang bilang) sakseus. Saya dan suami masih terbawa hawa-hawa bulan madu hohoho…

Yang pasti, banyak hal baru. Seiring dengan status baru berjudul istri, ada peran baru yang harus dijalani. Dan buat saya setiap peran baru selalu menjadi waktu untuk mendefinisikan ulang diri sendiri. Tentu banyak perempuan multifungsi (eh?) multitasking di dunia ini, namun jelas saya bukan salah satunya. Sebelum menikah, saya punya peran sebagai anak, cucu, kakak, teman dan karyawan. Setelah menikah? Sudah terbayang yang namanya istri itu kombinasi pacar, sahabat, partner diskusi, perencana keuangan, dan rekan bercinta (sounds wrong ya hahaha). Untuk menjalankan masing-masing peran pun banyak kontradiksi — kadang perlu galak, ngemong, manja, mandiri, proaktif, pasrah — dan tentu masing-masing sifat perlu dimunculkan di situasi dan kondisi yang tepat, dalam kadar yang tepat pula.

Gampang? Pasti nggak doooong. Apalagi saya ini EHOIS sampai ke akar. It’s my way or the highway. Lo nggak suka cara gue ya gapapa, tapi gue juga nggak merasa perlu repot-repot berurusan sama lo. Oleh karena itulah orang tua saya nampak takjub bisa-bisanya ada lelaki yang melamar saya tanpa ada unsur paksaan dari berbagai pihak. Saya juga takjub kok sebenernya mah :p … Tapi laki-laki hebat ini meyakinkan saya pasti bisa. Dan terkadang untuk maju yang kita butuhkan hanya adanya orang yang percaya bahwa kita mampu untuk maju. Jadi ya saya bertekad tidak meluruhkan kepercayaannya itu. Harus bisa 🙂

It’s been a fun two weeks, can’t wait for more. Doakan aku ya wahai pembaca…ca…ca… *bergema karena ternyata gak ada yang baca :p

Love. Laugh. Life.

Judul posting kali ini dipinjam dari judul blog temanku yang super manis. Tulisan yang sama juga terpatri di bagian dalam cincin pernikahan kami, dengan harapan setiap harinya kami dapat selalu berbagi cinta, tawa dan hidup. Amin!

Hari ini tepat seminggu memulai hidup baru. Jadi istri. Punya suami. Separuh dari sebuah kesatuan,  meskipun semoga tetap bisa berdiri sendiri. Pastinya masih jetlag karena selepas resepsi kami langsung berangkat bulan madu.

Ternyata semakin mendekati hari H dan setelahnya, cuma rasa syukur dan haru yang terus menerus terasa. Alhamdulillah, kami diberkahi begitu banyak cinta dari keluarga dan sahabat, bahkan keluarga para sahabat dan sahabat keluarga. Rasanya seperti punya satu keluarga yang super besar dan hangat.

Terima kasih untuk Muty yang nggak putus hadir & support moral selama 3 hari acara… Termasuk live update di Path dengan jepretannya yang mumpuni banget ngambil berbagai momen penting, meskipun pemirsanya pun cuma Smita ya nampaknya hahaha… Love you girls!

Siraman – photos courtesy of Muty
Akad Nikah – photos courtesy of Muty

Terima kasih untuk team suksesku : Mas Adhi, Indhira & Ibu, yang jungkir balik menyukseskan acara dari persiapan sampai dengan hari H.

Tim Sukses (minus Ibu)

And finally, terima kasih yang tak terputus untuk Papa dan Mama, yang berkolaborasi dengan dearest brother & cousin(s) untuk hadiah kejutan yang sukses bikin pengantin nangis di pelaminan

Banyak sekali cerita yang ingin saya bagi, tapi mungkin perlahan-lahan karena masih menyesuaikan diri, belajar membagi waktu antara diri sendiri dengan si “tamagotchi” – pinjem istilah Smita.

Insyaallah, rumah tangga kami pun akan selalu diliputi cinta dari keluarga besar ini, dan kami mampu membangun keluarga yang sama hangatnya dan penuh cinta, sakinah, mawadah, warohmah. Amin :’)

20130401-164121.jpg