H-3 : Three Little Birds

“Don’t worry about a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right.
Singin’: “Don’t worry about a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right! ”

Rise up this mornin’,
Smile with the risin’ sun,
Three little birds
Each by my doorstep
Singin’ sweet songs
Of melodies pure and true,
Sayin’, (“This is my message to you-ou-ou: “)

Singin’: “Don’t worry ’bout a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right.”
Singin’: “Don’t worry (don’t worry) ’bout a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right! ”

Rise up this mornin’,
Smiled with the risin’ sun,
Three little birds
Each by my doorstep
Singin’ sweet songs
Of melodies pure and true,
Sayin’, “This is my message to you-ou-ou: ”

Singin’: “Don’t worry about a thing, worry about a thing, oh!
Every little thing gonna be all right. Don’t worry! ”
Singin’: “Don’t worry about a thing” – I won’t worry!
“‘Cause every little thing gonna be all right.”

Singin’: “Don’t worry about a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right” – I won’t worry!
Singin’: “Don’t worry about a thing,
‘Cause every little thing gonna be all right.”
Singin’: “Don’t worry about a thing, oh no!
‘Cause every little thing gonna be all right!

Marley is the man brah! Huhuhu, dari dulu suka sama lagu ini, dan sudah beberapa bulan terngiang-ngiang di kepala. Tepatnya, sejak bachelorette party salah satu teman saya.

Waktu itu, bachelorette party diadakan dalam kondisi semi darurat dan masih ada beberapa hal krusial yang belum beres. Alhasil ada momen-momen ditengah tawa kami ketika bride-to-be-nya mendadak teringat berbagai hal yang belum beres itu, dan mulai berkaca-kaca. Di penghujung malam, dan nyaris di penghabisan tawa kami, lagi-lagi teman saya itu mulai panik soal urusan pernikahannya.

Tepat ketika dia mulai berkaca-kaca dan menangiskan kata-kata “Undangan gue gimana iniiiih?” …tepat saat itu juga house band memainkan lagu ini : “Don’t you worry, about a thing. Every little thing is gonna be alright”, to which the bridal shower party chimed into song and started singing it to the bride-to-be. 

Momen tersebut selalu teringat sampai saat ini, dan menjadi reminder untuk diri saya sendiri. Setiap kali saya mulai berpikir panik tentang berbagai kemungkinan yang bisa membuat perencanaan saya berantakan, saya menyanyikan lagu ini dalam hati untuk ingat bahwa semuanya akan baik-baik saja. As John Lennon said, life is what happens when you’re busy making plans. Maka silakan berencana sepuas hati, tapi buat saya sekarang lebih penting mempersiapkan diri untuk pasrah.

Here’s three other little birds that makes me happy : 

Souvenir Siraman 🙂
Advertisements

H-5 : The Highs and The Lows

Oy Caramba! Tinggal 5 hari lagi?!?!? No wonder today’s been such an emotional rollercoaster.

High point hari ini adalah 6 jam dimanjakan dengan berbagai treatment bride to be di Martha Tilaar Day Spa hadiah dari sepupu-sepupu. Mohon maaf nggak bisa kasih review, karena sebagian besar waktu treatment saya gunakan untuk TIDUR. Saya cuma ingat samar-samar badan saya di scrub, dicelupin air, diuapin, muka dicubit-cubit, and that’s it. Sisanya nggak inget. Hohoho maafkeun yah.

Yang pasti pijetannya wuenak, sangat sesuai kebutuhan bridezilla di ambang ngamuk. Mas-mas CPP sekalian, kalau baca ini, harap diingat ya, bridezillas yang akan kalian nikahi itu semuanya bisa kembali jadi manusia normal asal kalian rajin dengerin dan sayang-sayang. Mijetin bridezilla juga bisa membantu dia kembali jadi manusia lho. Kalau kalian takut deket-deket, kasih voucher untuk treatment pre wedding aja, sesudah kalian jemput pasti bridezilla nya sudah jinak kembali 🙂

Yang cukup bikin senang juga di minggu ini adalah souvenir siraman sudah selesai. Saya hias sendiri hasil berburu ke pasar mayestik, yang kemudian berdampak merubah design undangan pengajian dan siraman. Hohoho.. abis souvenir siramannya bentuk sangkar, kayaknya lucu kalau ada elemen burung di dekorasinya deh.

Ini draft awal, berbekal free printables dari Wedding Chicks
1st Draft for Thank You Notes, also from Wedding Chicks’ free printables

Low points? Let me count the ways :

  1. Jas resepsi si abang sudah jadi sih, tapi ternyata MINIM PAYET. Entah saya salah menangkap maksud si penjahit, entah dia yang overpromise. Parahnya lagi, penjahitnya lagi pulang kampung sampai tanggal 6 November. Ngok….
  2. Buku pengajian yang sedianya sudah bisa diambil kemarin, dibilang jadinya diambil hari ini. Pas hari ini telpon percetakannya, yang angkat bilang “Lho, mbak nggak dikasih tahu? Kan ada masalah dengan settingnya, jadi belum dicetak. Baru bisa jadi minggu depan.” Lemes udah. Padahal buku pengajian itu akan dipakai hari Kamis. Sesudah nego-nego akhirnya sih dijanjikan akan selesai di hari Rabu siang. Back up plan saat ini adalah bikin sendiri aja deh itu buku pengajian. Nggak perlu yang fancy, bikin yang sederhana dan rapi saja dengan mengambil inspirasi di sini dan di sini. Tapi masih harap-harap cemas menunggu email PDF dari sang empunya blog. Menyesal juga kenapa saya baru tahu sekarang kalau ada vendor yang nampaknya lebih terpercaya 😦

Di titik ini saya sebenarnya sudah nggak mau perfeksionis, mencong-mencong (dikiiit) nggak apa-apa tapi jangan sampai nggak ada juga. Ekspektasi minimal lah ya. Sisa banyak pasrah dan banyak bismillah saja. Semoga dilancarkan dan dimudahkan, serta dilapangkan… Amin.

 

Selamat Jalan, Opa

Tak terasa nyaris 2 minggu sejak Opa pergi. Kamis lalu, 18 Oktober 2012, beliau meninggal dunia.

Semua terjadi begitu cepat, dengan cara yang begitu tak terduga. Alhamdulillah, saya masih sempat menyusul ke rumah sakit sebelum beliau menghembuskan nafas terakhir, meskipun saat itu beliau sudah dalam kondisi tidak sadar. Alhamdulillah, saat terakhir kali beliau menelepon saya untuk meminta sesuatu masih sempat saya penuhi. Saya tahu bakti saya masih jauh dari cukup, namun semoga apa yang selama ini sudah dilakukan masih mampu memberi sedikit senyum bagi beliau.

Opa selalu membuat saya teringat hangatnya sebuah keluarga. Beliau akan begitu riang jika semua anak menantu dan cucunya berkumpul bersama. Kesan hangat yang sama terasa di hari pemakamannya, ketika keluarga yang berkumpul tidak lagi banyak menangis, melainkan lebih banyak berbagi kenangan tentang Opa.

Nyaris 2 minggu sejak Opa pergi, rasanya masih sulit dipercaya. Saya rindu candanya. Saya rindu obrolannya yang tiada henti. Saya rindu semua kebiasaan kecilnya.

Selamat Jalan Opa. Peluk cium dari sini.

H-16 : Koreksi Prioritas

Rasa tak pernah salah, maka ia tak perlu dibela. 

Hanya saja terkadang logika perlu berjuang lebih keras ketika konteks tak mampu menangkan rasa.

Hidup adalah selalu belajar, dan selalu memperbaiki atau mereka ulang diri. Dalam sekolah tanpa kurikulum bernama hidup, jelas pelajaran terbaik adalah pengalaman. Maka ketika keseharian sudah berubah menjadi sebuah program autopilot, saatnya untuk berhenti sejenak. Tekan tombol pause dan biarkan diri sepenuhnya mengindera. Mencerna setiap stimuli. Merasa.

Opsi untuk lari selalu menggoda, karena semuanya seolah mudah. Namun semudah itukah menekan tombol restart lalu memulai kembali semuanya dari kosong? Kita bukan lagi – dan tak akan bisa kembali menjadi – tabula rasa. Semua fragmen diri adalah fragmen kita yang lama, terasah oleh hari-hari yang telah dilalui.

Rasa memang tak perlu dibela. Namun ada masa dimana logika perlu jadi juara.

Sekarang. Berhenti jadi anak manja.

H-17 : Should’ve Would’ve Could’ve

Tidak terasa sudah tinggal 18 hari lagi…

Pada titik ini saya sungguh menyesal kenapa dulu tidak mendengarkan suara hati untuk menggunakan jasa Wedding Planner. Dear para capeng, tolong dicatat : kalau kamu & pasangan sama-sama budak korporasi 9 to 5, kalau kalian bukan datang dari keluarga besar yang siap repot, dan kalau sekiranya teman-teman kalian tipe yang acuh tak acuh pada pernikahan : do yourself a favor and use a wedding planner. Serius deh ya, kayaknya daripada budgetnya buat foto pre wed lebih baik dialokasikan ke wedding planner.

Di bulan-bulan awal memang tidak terlalu terasa, apalagi kalau acara kita tergolong “standard” seperti pernikahan pada umumnya. Tapiiiii, lihat nanti 2 bulan menjelang hari H. Dijamin jungkir balik.

Dulu saya juga berpikir “apa susahnya sih, kan vendor bisa komunikasi lewat telpon email atau bbm?”. Ternyata ya susah. Susah karena menyita konsentrasi, menyita waktu, terkadang ada hal urgent yang perlu di tindak lanjuti tapi di saat yang bersamaan mungkin kita sedang meeting sehingga tidak bisa tertangani. Susah.

2 minggu sebelum hari H, rencananya akan diadakan Technical Meeting dengan seluruh pihak yang terkait pada saat resepsi. Saya sudah berencana untuk cuti. Coba tebak apa yang terjadi? Saya ditugaskan ke luar kota pada H-1 dan H-2 Technical Meeting tersebut, dan tidak diizinkan cuti pada hari H technical meeting.

Homaygat.

Bismillah ya Allah, berikan kesehatan dan kekuatan…

H-18 : Ini Rumah atau Gudang?

Alhamdulillah, sudah ada beberapa progress signifikan di akhir minggu ini :

  • Finalisasi aksesoris dan flow akad nikah di Sanggar Ardhiya
  • Finalisasi sewaan seragam keluarga di Djus Masri
  • Finalisasi layout dekorasi dengan DeCosmo
  • Finalisasi buku pengajian, siap diambil tanggal 27 Oktober
  • Distribusi seragam keluarga dan teman (status 70%)
  • Foto prewed (iyeee akhirnya mendadak jadi ada foto prewed) sudah done, tinggal pilih untuk dicetak
  • Deal dengan fotografer siraman
  • Deal mini studio keluarga untuk resepsi (paketnya nggak include mini studio soalnya sih huhuhu)
  • Undangan Akad & Resepsi sudah menumpuk di rumah, siap diberi label, dibungku plastik dan dikirim. Status? 50%
  • Souvenir akad nikah sudah sampai
  • Souvenir siraman sudah sampai

 

Ini rumah jadi lebih mirip gudang, isinya aneka macam barang. Pusingnya cuma satu : distribusi tepat waktu.

Bismillah….

H-25 : If I Knew Then What I Know Now

Daisypath berkata 3 minggu dan 3 hari lagi menjelang hari saya diperistri. What is that word? Diperistri? Dijadikan istri? As if menjadi istri adalah cita-cita. Kenapa nggak ada dipersuami? Ah gender bias, how I dislike thee.

Semantics aside, mari kita reka ulang kalimat tersebut menjadi : 3 minggu dan 3 hari lagi menjelang hari saya memiliki seorang partner hidup.

Oh wow.

Drama sudah semakin tak terhitung.

Kebaya akad & resepsi gagal 1 bulan menuju hari H? Been there.

Pusing seputar pengaturan panitia keluarga? Done that.

Kena slepet di rapat keluarga? Oh chenchuuu.

..

.

I am so much more excited about the marriage than the wedding. Yeah I know I’ve said that. I don’t know why I said it like it’s a bad thing. It’s a good thing. It’s a reminder of what truly matters. 

Then I came across this post by Edward Suhadi 

and now I am slowly letting go. Of all the things that are beyond my control. All the things that didn’t go the way I expected it to be. All my concept and color schemes slowly falling down into the abyss of “ya udahlah ini juga bagus kok”. 

I am learning not to care, as the only thing to care about is that I am getting married. I am gaining a life partner, whom I chose, and chose me as well. To begin the rest of our lives together. 

And I love him more for the fact that he still has enough patience to remind me : 

“You can choose to sulk and have a crappy time, or we can laugh about it together and have a great time.”

I wish I remembered that since day one, instead of letting pressure from other people *hello parents* take over me.