Selamat Jalan, Pak Syaiful

Orang datang dan pergi, numpang permisi dalam cerita pendek hidup kita. Itu alami.

Manusia lahir dan mati setiap harinya. Itu juga alami.

Beberapa hari lalu saya mendapat kabar duka, salah seorang kenalan saya di kantor terdahulu meninggal karena kanker. Beliau adalah salah satu mentor saya ketika menjalani program pendidikan eksekutif, salah satu sosok leader yang selalu menginspirasi.

Pak Syaiful adalah sosok yang selalu dapat melihat hal positif dalam diri semua orang, dan percaya bahwa kita memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Dalam beberapa kesempatan, kata-kata beliaulah yang membuat saya percaya diri untuk menjalankan beberapa tugas yang sepertinya terlalu “besar” untuk karyawan se-Junior saya.

Setelah beliau pensiun, masih terasa  kental berbagai “peninggalan” beliau di organisasi tersebut.

Semangatnya

Etos kerjanya

Selera humornya

Jargon-jargonnya

dan anak-anak didiknya.

Menurut saya, seorang pemimpin hebat dapat diukur dari perkembangan anak buahnya. Rekan-rekan yang pernah menjadi team Pak Syaiful sampai kini memegang teguh etos kerjanya, dan mencerminkan compassion yang dimilikinya. He emphasized on the human side of human resources, and his judgments always considered the humane thing to do in each situation.

Hari ini di pemakaman beliau, saya melihat bagaimana beliau begitu dicintai, mulai dari karyawan level terendah sampai mantan CEO turut hadir menyampaikan belasungkawa dan berbagi kenangan masa-masa bersama beliau.

Tadinya saya sudah mempersiapkan satu undangan untuk Bapak. Terbayangkan betapa senangnya reuni team HR Niaga nanti. Tapi mungkin memang Tuhan sudah punya rencana lain yang lebih baik untuk Bapak ya.

Selamat Jalan Pak Syaiful, selamat beristirahat. Semoga diberikan ketenangan dan tempat yang terbaik di sisi-Nya.

 

Advertisements

Samar-Samar Menari Saman

Salah satu penyesalan terbesar masa kecil saya adalah bahwa saya nggak pernah belajar tari daerah khas Indonesia. Ya abis gimana, dari jaman hamil saya si mama aja hobinya nonton film Flashdance, dan dari kecil pun dijejelin segala macam VHS BETAMAX & LaserDisc tari-tarian ballet, jazz, modern dance endebray. Ditambah lagi waktu itu nggak trendy kalo nggak  les ballet di sebuah sekolah ballet ternama.

Waktu berlalu, dan tentunya saya TIDAK menjadi seorang penari. Ballet yang butuh teknik tinggi dan latihan disiplin terasa kurang menarik pada akhirnya.

Dan sekarang, di masa dimana tari India sudah masuk salah satu kategori yang dinanti-nanti dalam So You Think You Can Dance, serta ketika berbagai aspek budaya Indonesia terbengkalai di negeri sendiri dan rawan dicaplok negara lain *uhuk* … rasanya menyesal setengah mati nggak pernah sedikit pun mengakrabkan diri pada budaya Indonesia selain sebatas sebagai penikmat.

Jadi ketika ada kesempatan berkontribusi menari Saman di acara ulangtahun ke 99 induk perusahaan, tentu saya sambut baik dongs. Saya tahu ini sih nggak ada apa-apanya dibanding para penari Saman beneran yang super kompak dan kayaknya punya built in metronome didalam jam tubuhnya, tapi ya saya anggap saja ini upaya kami mengapresiasi budaya sendiri.

 

Losing A Friend

I couldn’t think of better words to describe how I felt watching the Cardigans’ concert in Jakarta last night. It really did feel much like losing a friend. I have to say, that compared to the concerts I’ve previously been to, this is the one I went to with least preparation on my behalf. I didn’t replay the albums cover to cover and I didn’t memorize the lyrics. Maybe I’ve gotten less excited because the show was clearly titled “Gran Turismo Tour”, and I wasn’t too crazy over GT.

Musically, I guess it did show more maturity from their previous work. But personally, I identified more with their earlier work such as Emmerdale. I went so far as to posting comments on their website asking them to play their earlier albums and not make the show too GT, although I don’t know whether or not they read it.

Anyways, during the concert I thought there must be a reason why they dubbed this the Gran Turismo tour, even though it was not their last album. I guess the band evolved, and their preferences changed as they matured. Which I suppose is a good thing actually, compared to packaging the same old riffs with different lyrics instead like the common mistake done by so many other bands who hit big early.

This is why I said it’s like losing a friend. You know how after 10 years you often don’t relate to your high school best friends anymore? The ones you were inseparable from, the ones you talk on the phone to every night, and whose shoulders you cried on? You’ve grown, and they’ve grown, and most often not in the same direction. It’s good for them, but you just don’t relate in the same way you used to. And as a friend, you applaud them for having grown that much. It would be selfish if you ask them to return to the way they used to hang out with at the time. Well, this is the same thing.

The concert itself was brilliant, featuring amazing lightworks, prime vocals from Nina and nice interaction from the band. They couldn’t stop taking pictures of the crowd, and expressing their joy that we knew the songs.

Another highlight : this is the first ever concert me & Abang went to together as a couple. Huhuhu… and although he’s not so much into live music as I am, I’m touched that he gave a lot of effort to enjoy it as much as I do.  :’)

Lovefools!
Thank You for the Music 🙂

Fingerpuppet Frenzy

Masih ingatkah sama posting sebelumnya tentang Mario?

Nahhhh akhirnya kedatangan tamu baru lagi dari Desa Boneka. Lalu aku pusing karena semuanya lucu-lucu, kok jadi pengen disimpen sendiri ahuhuhu….

Geng pertama yang datang adalah Mario & Friends. Ini lagi-lagi custom order untuk si pacar karena dia suka sekali sama Mario. Heran deh, ngefans kok sama tukang ledeng kumisan? Tapi ya sudahlah, mereka memang lucu sekali. Untuk anggota gengnya terdiri dari :

  • Mister Mario sendiri
  • Sohibnye doi : Luigi
  • Yoshi, dinosaurus peliharaannya
  • Princess Peach alias ehem-ehem nya Mario
  • lalu si jamur yang belakangan diketahui bernama Toad atau Kinopio kalau di versi Jepang

 

Kenapa saya gak masukin King Koopa? Karena ini geng anak baik-baik, jadi gak boleh ada penjahatnya (ih apa sih hahahaha)…

Geng kedua, bukan custom order, saya cuma kombinasikan dari pilihan set hewan yang ada di Desa Boneka. Kombinasinya dipilih sesuai dengan hewan-hewan kesukaan Sabia berdasarkan info dari babemnya. Kalau nggak salah di Desa Boneka sudah ada set khusus binatang hutan, serangga, hewan ternak, hewan laut, dll. Nah khusus untuk Sabia, sengaja dipilihkan seekor Pus Kecil, gajah, jerapah, anjing dan kelinci. Huhuhu lucu yaaaaaa…. Ngebayanginnya aja udah gemesssss!

Lalu aku menjadi nangis terharu menyes cengeng ketika dikirimin Voice Note suara pus kecil bilang

Te Anit, Om Angga, Ia udah tima kanyaaa. Ia suka kali! Mkasih! Dadah!

Dan dibalas dengan kami berdua refleks bilang “dadaaaaaaaah…” plus tentunya dibubuhi request untuk nanti langsung cepet-cepet produksi satu pus kecil seperti Sabia. Yak bagoooos, beresin urusan nikahan dulu aja gemanah? Hmmm, jangan-jangan ini sebabnya di antara berbagai urusan nikahan, satu-satunya yang sudah fixed dan confirmed adalah BULAN MADU?

Anyway, kayaknya finger puppets dari Desa Boneka ini memang pilihan yang tepat untuk kasih kado ke pasangan yang punya anak kecil ya. Soalnya saya pribadi nggak terlalu suka sama mainan yang kurang menstimulasi imajinasi atau bikin anak sibuk sendiri dan jadi cuek sama orang lain. Bagaimanapun, sesi bonding dengan orang tua itu kayaknya penting. Dan karena saya ingin anak saya (nanti kalau sudah punya) tertarik untuk belajar membaca sejak dini, fingerpuppets ini bisa jadi alat bantu yang menarik untuk sesi dongeng ke anak supaya lebih interaktif dan mereka tidak cepat bosan.

Pun nantinya bisa dipakai si anak main sambil mengarang ceritanya sendiri. Dan benar sajaaaa, kemarin sempat di tag foto Sabia lagi main masak-masakan. Bonekanya didudukin di kursi-kursi mungil ya ampooooooooon lucu amat sik!!!

Terima kasih ya Desa Boneka untuk kesanggupannya memenuhi custom order ku. Attention to detailnya patut diacungi jempol. Nilai plus lainnya adalah packaging berbentuk rumah-rumahan yang sangat sangat manis. Jadi seolah-olah itu satu geng hijrah dari Desa Boneka sambil bawa rumahnya sekalian.

Teriam kasih juga neng Smita dan Sabiaaa

Membeli Memori di Almari Deki

Waktu kecil dulu, saya selalu tidur dikelilingi buku. Karena Papa hobi berat membaca dan koleksi buku, jadilah kebiasaannya itu ditularkan dengan paksa ke anak-anaknya. Ya, tepatnya ke saya aja sih, karena adik saya memang dari dulu lebih suka main Lego dan Lasy daripada membaca. Pantes aja gedenya kuliah Teknik Mesin.

Anyway, dulu saya senang sekali karena jadwal jalan-jalan weekend kami selalu rutin : nonton di 21, makan, dan belanja buku di Gramedia. Setiap minggu kami punya jatah membeli 1 buku, dan boleh lebih kalau nilai ulangannya bagus. Kadang-kadang si Papa suka nakal juga, membelikan buku di tengah minggu kalau menurut dia ada yang perlu saya baca. Mungkin dia geregetan juga kalau saya terlalu sering beli komik serial cantik Jepang yang menye-menye.

Sayangnya, meskipun saya cinta buku, tapi saya nggak terlalu rapi menyimpan semua buku saya itu. Dan, karena Mama bukan maniak buku seperti saya, maka semua buku yang ada akan dimasukkan ke kardus tanpa pandang bulu kalau menurut dia kamar saya sudah terlalu berantakan oleh buku. Alhasil banyak buku favorit saya yang sekarang sudah entah dimana.

Salah satu hasil rekomendasi Papa yang saya suka sekali adalah Penyihir Cilik. Ceritanya sekarang saya sudah lupa-lupa ingat, tapi yang berkesan buat saya adalah karakter si Penyihir Cilik yang banyak akal dan pemberani. Sekilas serupa Matilda-nya Roald Dahl, yang juga salah satu buku favorit saya sampai sekarang. Reviewnya juga bisa dilihat disini.

Nah, buku Penyihir Cilik ini termasuk salah satu yang raib entah kemana. Ihiks.

Salah satu teman terdekat saya, juga punya penyesalan yang kurang lebih sama. Bedanya, dia kemudian tidak pantang menyerah untuk berburu buku-buku lama. Kalau saya kan pemalas alergi debu ya, jadi agak sulit kalau mau ke toko buku bekas. Alasaaaan…

Anyway, saya iseng dong menitipkan Penyihir Cilik ini, siapa tahu teman saya bisa menemukan harta karun di timbunan kertas lapuk. Dan betul ajaaaaaaahhhh lohhhh dia nemuuuuuu. Ih ya ampun bahagia bangeeeeet rasanya.

Bayangin ya, pulang malem dari kantor, capek minta ampun pasca hari yang hectic dan jalanan super macet, lalu disambut oleh paket warna coklat berisi secuplik kenangan masa kecil. SURGA.

Kiriman Memori dari Almari Deki

Si Papa yang kebetulan lagi di rumah, jadi ikut excited sendiri menerima paket itu :

Papa : Itu kamu ada kiriman? Kirain buat Papa.

Me : Kan namanya Anditry.

Papa : Kirain salah tulis, sampe Papa telpon yang kirim.

Me : Makanya kasih nama anak jangan mirip-mirip nama sendiri Pa :p

Papa : Itu kan buku yang Papa pernah beliin kamu? Kenapa beli lagi?

Me : Abisnya yang dulu gatau dimana

Papa : Yang sekarang dirawat yah, jangan ilang lagi

Ih terus mau nangis jadinya, mendadak berasa ketampar. Sejak bisa cari uang sendiri, baru berasa kan kalau segala sesuatu itu mahal ya. Beli buku 30 ribu aja, sebenernya udah bisa makan enak 2 kali. Jadi kalau dulu Papa beliin buku-buku, sebenernya itu alokasi yang cukup besar dari jatah pengeluaran bulanan keluarga dong. Dulu waktu kecil sama sekali nggak terpikirkan hal seperti itu, jadi bukunya sama sekali nggak disimpan rapi. Sekarang mentang-mentang beli sendiri, baru deh sibuk rawatnya, disimpan-simpan rapi. Payah. Pffttt 😥

Tapi ya mau gimana lagi, untuk sekarang, mari kita anggap kesempatan kedua untuk memperbaiki kebiasaan. Toh kalaupun nanti bukunya sudah tidak mau dibaca lagi, akan lebih baik kalau kondisinya masih bagus ya supaya masih bisa dibaca oleh orang lain yang mungkin juga rindu memori masa kecilnya, atau disumbangkan kepada teman yang lebih membutuhkan.

Terima kasih Almari Deki, akan kujaga baik-baik si Penyihir Cilik kali ini 🙂

fatigue

At an era where everything is built to be mobile and instant – we can multitask anything, anytime, anywhere – there comes a point when we stop being able to listen to our body. Instead, we rely on apps, on charts and graphs, to tell us whether or not we have had a healthy meal. We input all kinds of data, take pictures of our food, and “log in” to places we’ve been during the day. We no longer rely on memories of the gorgeous day we had, because we didn’t savor it enough to form such memory.

We ignore our senses.

It tells us to rest, and we don’t listen.

It asks us to sleep, and we don’t listen.

It warns us to take a moment, and we don’t listen.

and so there comes a point when the body screams for attention any way it can.

Have you listened to what your body is telling you today?

Or did you rely on an app reminder instead?

 

Fitting #1 – Kostum Akad

Masih ingatkah anda dilema saya mengenai bahan ciamik inih?

sumber dilema terdahulu

Berhubung Mama minta akad dengan kostum Jawir, maka daripada pusing-pusing akhirnya saya nyontek mengambil inspirasi dari kebaya nikahnya Marcella Zalianty yang indang :

jreng jreng jreeeng. source from KapanLagi.com (sungguh aku bagaikan stalker seleb)

Huhuhu nggak kreatif ya pilih modelnya, karena emang bahannya juga mirip banget sama bahan kebaya Marcella di foto ityuh (tentunya dengan kualitas KWnya ehehehe, kalo bahan dia sih harga semeternya kayaknya bisa buat beli tas bermerk deh).

Dan setelah semalam si penjahit ngajak fitting, ih ternyata ciamik beneran kok. Simple memang, tapi memang itu yang saya inginkan, karena menurut saya motif bahannya juga sudah bagus. Cuma pas ngaca, kok rasanya belum terlihat bersinar-sinar layaknya calon manten yah? Beda sama waktu dulu fitting kebaya lamaran.

Apakah ini efek jarang luluran?

Atau efek lagi mutung akibat berbagai kompromi di aspek nikahan lainnya?

Atau emang karena belum mandi?

Yah apapun alasannya, saya mulai tertampar untuk memulai perawatan henbodi & muka mulai dari sekarang. Ya ampun ini udah tinggal 93 hari lagi loh, masa iya belon mulai gosok-gosok badan sampe mengkilap setiap hari?

Wahai hawa pengantin, lekaslah datang! *prokprokprok*