Mid Week Madness

I fill my days browsing through How About Orange? by Jessica Jones, drooling all the way. The website provides so much inspiration and resources for Do-It-Yourself projects.

It then led me to find some stuff that I hopefully bring myself to make assemble. Someday soon, hopefully.

  • Bright and whimsy calendars from Scout Creative are just amazing. When I have children I think these would make a great activity.
  • Illustrated alphabets from digitprop. They also offer other mindblowingly amazing templates. Wouldn’t you also like to have your personal butler hold all your business cards?

These people are brilliant! Pure genius, I say.

Anyways, sebenernya saya browsing ini bukan males-malesan kerja loh (mmmm dikit sih.. oke banyak deh), melainkan karena semalem si babeh baru saja memberikan pernyataan yang mengezutkan. Alkisah, untuk hadiah pernikahan anak perempuan semata wayangnya ini, si babeh dari dulu udah bilang akan memberikan sebuah … LAGU. Ya beginilah kalau punya bapak mantan anak band, music director & producer pula, nggak bakal jauh-jauh dari musik ceritanya.

Mak dar it, wedding souvenir saya diputuskan berupa CD ajyah. Etapi dasar si papa sebagai *uhuk* insan musik, dia nggak mau saya masukin lagu orang dalam CD ituh, karena menurut doi itu artinya membajak! Mmmm tapi kan buat personal use paaa, gak cari keuntungan… Tapi doi (sampai saat ini) tak bergeming. Baiklah kalo getooh.

Alhasil nampaknya harus cari inspirasi free printables untuk CD sleeve & sticker nya. Uwoooh malah semakin membingungkan. Karena gimana caranya kan harus bisa dibuat sendiri. 400 biji mak! *pengsan*

This Curbly tutorial, is very sweet and would be appropriate for weddings.

While the following template from Squawk Fox is fairly easy to assemble.

I’m in love with this design from Tomoko Suzuki (i found it via How About Orange)

This free printable from Benign Object is also easy to assemble.

3 months to go before the wedding, and I still haven’t made up my mind on these details. What kind of bride am I? —purely rhetoric, you don’t need to provide an answer, although I think it would be cute if you do ūüėČ —

—updated August 3rd 2012—

Stumbled upon some thoughts about the legality of homemade CD mix as wedding souvenirs here. Well I guess dad does have a point. Pffft.

Tentang Puasa dan Toleransi

First of all, buat teman-teman yang berpuasa, saya ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa, semoga lancar dan puasanya dapat mengajak kita memberi makna baru pada syukur dan keseharian masing-masing.

Posting ini sebenarnya adalah puncak dari keresahan yang sudah lama menumpuk, dan dipicu oleh berita berikut yang saya peroleh dari tweet teman saya. Himbauan semacam ini bukan hal baru, sudah cukup sering nampaknya menjadi wacana setiap kali bulan puasa. Dan untungnya, sejauh ini saya rasa pemerintah masih cukup bijak untuk tidak menjadikan himbauan tersebut sebuah peraturan. Namun setiap kali wacana ini muncul, saya tidak bisa mengingkari munculnya keresahan saya pribadi.

Selalu atas nama toleransi dan menghormati yang beribadah. Saya bisa berikan banyak contoh bahwa terkadang negara ini bias, dimana toleransi dan rasa hormat terhadap ibadah hanya diberikan ke kelompok agama tertentu, namun bukan itu masalahnya disini.

Untuk saya pribadi, wacana seperti ini justru “menyentil” kedewasaan iman saya. Apa iya, saya mendadak akan batalin puasa cuma karena lihat ada es cendol dengan sirup warna merah kuning hijau di etalase toko? Apa iya, iman saya segitu ceteknya sampai karena lihat orang makan steak fresh from the grill terus saya ikutan makan sebelum waktunya?

Saya rasa tidak.

Kalau saya tidak salah – ini sepemahaman saya lho ya, mohon dikoreksi kalau salah – pada dasarnya Shaum itu adalah pengendalian diri. Bukan semata tidak makan, tidak minum, dan tidak ini itu, melainkan mengendalikan hawa nafsu. Yang artinya – kembali lagi ini sepemahaman saya – dengan kita mengurangi faktor “godaan” (kalau memang bisa disebut demikian), buat saya kok ya rasanya curang.

Hidup adalah pilihan. Begitupun beribadah. Hal sekecil apapun dalam keseharian kita adalah pilihan. Terkadang kita tahu itu pilihan yang salah atau dilarang, tapi toh kita pilih juga. Pada akhirnya tentu kita harus belajar untuk menerima konsekuensi dari pilihan tersebut. Bukankah begitu intinya menjadi manusia dewasa?

Ditambah lagi, penduduk Indonesia itu tidak semuanya beragama Islam, maka tidak semuanya menjalankan ibadah puasa. Di mana toleransi untuk mereka? Lalu apa kabar rejeki pemilik rumah makan?

Satu hal yang aneh di negara ini, seringkali kita salah mengidentifikasi pokok permasalahan. Lebih suka yang kuratif daripada preventif.

Kalau sampai orang-orang begitu mudahnya tergoda untuk tidak berpuasa cuma karena lihat rumah makan, maka jelas yang salah bukanlah rumah makannya melainkan pemahaman orang tersebut tentang ibadah puasa. Kalau mau mencegah, perbaiki pemahaman tersebut melalui pendidikan agama yang benar. Pemahaman konsep yang bukan semata ritual kosong.

But then again, agama buat saya adalah ranah pribadi. And it begins at home.

Dan maka itu, semoga wacana ini selamanya cuma sebatas himbauan, bukan peraturan. Demi kedewasaan iman anak-anak saya nanti, dan demi kemampuan mereka mewujudkan toleransi sebenar-benarnya tanpa bias.

Amin.

:’)

Yes yes, with only 3 months leading to the big day, I am currently in an altered state from previously being human to currently a … well … a blubbering emotional mess.

After I found this super cute web invite featured in Green Wedding Shoes, I am currently holding back tears in front of my laptop, while maintaining posture so as to appear like I’m working. (ah, the highlights of proletarian life).

It’s so apparent that this couple is surrounded by amazing love, for each other as well as friends and family. The illustrated parallel timeline gives me a sense that they are so in sync as a couple. You know, like the kind of couple who can just exchange stares and knows what each other is thinking about. Love it! I also the love the fact that their friends contributed the illustrations.

Although I don’t know them personally, I have this urge to wish them a happy marriage and a long long fun & artistic life ahead.

Kalem

Ya, kalem. Bukan Kaliem.

Di tengah-tengah persiapan pernikahan seringkali ada momen-momen dimana rasanya saya pengen jambakin rambut satu-satu sampe habis bis bis. Atau nangis guling-guling di tengah jalan. Atau berbagai hal ekstrim lain yang memang nggak masuk akal.

Semata demi kesel.

Tapi sekesel-keselnya saya, untungnya nggak pernah sekalipun sampai jadi ogah nikah *ketok2mejakayu*

Dan untungnya juga, gojira edyan yang satu ini punya banyak pawang yang sabar dan baik hati : Smita sang kakak kelas idola, Ochello dan tentunya *ehem* tunangan yang manisssss sekaliii. Pas kemarin saya lagi sakit dan dirundung mendung akibat suatu perubahan rencana dadakan, si masnya dateng loh dari Karawaci bawa bunga paporit. Padahal saya mendung bukan karena dia, dia lagi nggak punya salah apa-apa. :’) ih mewek gilak jadinya. Baik bener Allah kasih calon suami kayak begini yak.

Yaudah kalo gini caranya, BRING IT ON wahai wedding planning, aku mau kawin buruaaaaaaan!!!

Keep Kalem, Yang Penting Kawin

Make your own kalem poster here, thanks to Neng Fry for the inspiration

We’re Engaged!

Ah ya, si acara lamaran yang ditegang-tegangkan itu pun selesai. (sounds wrong ya?)

Rasanya kepengen sujud syukur Alhamdulillah. Memang di dunia ini nggak ada yang lebih baik dari berpasrah ketika semua usaha maksimal sudah diupayakan.

Jagoanku :*

Mamahku Jagoan

Sebagaimana CPW pada umumnya, di setiap tahapan acara pastilah ada yang namanya berantem-berantem diskusi mendalam sama orang tua, terutama si Mama. Apalagi mama lumayan perfeksionis dan mau apa-apa diselesaikan¬†right here, right now, right here, right now. Buat doi, nelpon vendor jam 10 malem itu nggak apa-apa, sedangkan saya suka nggak enak karena rasanya seperti “mencuri” waktu si vendor dengan keluarganya. Kalau bicara hasil, ya jelas sih Mama biasanya lebih sakseus dari saya.

Mengenai seserahan, saya dan si abang cenderung santai. Alhasil barang-barang seserahan baru terkumpul seminggu menjelang acara lamaran, bahkan ada yang satu hari menjelang lamaran baru dapat (more on that later). Padahal si mama sudah menyiapkan box-box cantik berbagai ukuran terbuat dari aluminium, dengan motif emboss yang terlihat seperti ukiran. Soal hias-menghias, Mama juga yang mengurus semuanya. And I kid you not, hasilnya cantikkk banget.

Kemarin saya ke toko bunga di salah satu mall terkemuka Jakarta, box seserahan saya yang seukuran kotak cincin dijual dengan harga 40 ribu rupiah. Sedangkan si Mama beli di harga 15 ribu rupiah saja loh. Yang parah, ukuran¬†sedang¬†dijual 160 ribu rupiah di toko itu, sedangkan Mama beli ukuran¬†paling besarnya dengan harga ….eng ing eng… 90 ribu rupiah. Wow, mama jagoan!!

*kecupkecup*

The Engagement Rings – dalam box beli di bawah stasiun Menteng
Box yang sama, dijual di salah satu mall elite Jakarta Raya

Papahku Jagoan

Karena Papa adalah anak tertua, dan kakek saya sudah sangat sepuh, rencananya perwakilan keluarga adalah Angku Tom atau oom-nya Papa yang kebetulan adalah juga sahabat papanya si abang waktu kuliah dulu. Jadi bisa dibilang Papa hampir nggak ada persiapan apapun, untuk acara lamaran ini, selain tampil ganteng (gitu katanya).

H-1, ternyata Angku Tom terpaksa dirawat di rumah sakit, sedangkan Angku-Angku yang lain lebih sepuh lagi dan sepertinya terlalu dadakan untuk meminta bantuan mereka. Alhasil, Papa mulai panas dingin meriang deg-degan tapiiii gengsi mau ngomong. Berhubung saya cukup peka pada gelagat si Papa, saya berniat baik kasih contekan naskah lamaran sepupu si Abang. Yang ada Papa malah makin pusing karena itu balas-balasan pantun panjang berlembar-lembar. Huhuhuhu maaf ya Paaaa…

Meskipun saya sudah titip pesan untuk tidak berpantun karena penyambutan dilakukan oleh Papa dan bukan Angku Tom, tapi mungkin koordinasi yang kurang baik dan informasi yang mendadak mengakibatkan… keluarga si Abang datang berpantun sebanyak tiga lembar. Saya di kamar sudah ikut deg-degan, karena takut ada pihak-pihak yang tersinggung.

Alhamdulillah Papa berhasil mencairkan suasana kembali, tanpa perlu pantun. Sini sini dikecup dulu sama anaknya.

Lalu di detik-detik terakhir kami baru sadar bahwa nggak ada yang nyiapin musik untuk menemani acara makan dan penyambutan keluarga. Percayakanlah pada Papaku si mantan Music Director, doi mengeluarkan album Beatles versi Bossas untuk membuat sejuk di hari nan terik itu.

Saudara-Saudaraku Jagoan

Acara lamaran ini hampir semuanya gratisan atau swadaya. Mulai dari cari kotak seserahan, sampai dekorasi. Kita bela-belain belanja bunga ke Rawa Belong dan memilih bunga yang akan digunakan, untuk dibawa Mas Angga sang Florist (iya namanya sama kayak si abang) semalam sebelum acara. Nggak tanggung-tanggung, demi memastikan bunganya tetap segar, Mas Angga datang jam 11 malam dan langsung nguplek merangkai bunga di rumah saya sampai jam 1 pagi.

Untuk menghemat biaya, saya dan Mama sama sekali nggak pilih bunga mawar atau anggrek, melainkan bunga-bunga murah. Ternyata bunga yang dibawa Mas Angga banyak banget, sampai tiap 10 menit dia minta vas lagi daripada sayang bunganya nggak dipajang. Paling ekstrem, akhirnya segala macam mangkok sama pitcher nganggur di rumah juga kebagian jatah jadi vas dadakan.

Nah, siapa lagi yang bersedia nungguin tukang kembang rangkai-rangkai bunga kalau bukan adik saya yang paling manis sedunia? I need my beauty sleep kaaaan soalnya. Karena jendela ruang tamu dijebol supaya nggak terkesan sempit, adik saya bahkan rela tidur di ruang tamu untuk jaga rumah.

Hari H, lagi-lagi dia dan satu orang adik sepupu saya yang jadi koordinator lapangan. Mulai dari utak atik rundown, koordinasi dengan keluarga Abang, sampai jadi fotografer dadakan. Sepupu saya yang adalah juga teman terlama saya, rela bolos kerja dan pulang dari Singapura demi menjadi MC. Aduuu makasi banget spups saya jadi pengen kecup satu-satu.

My Spups yang sangat berjasa

Pacarku Jagoan

Mana ada sih, pihak pelamar ikutan angkat-angkat kursi H-1 menjelang lamaran sedangkan yang mau dilamar malah kerja di kantor? Ketika sore-sore pulang kantor, pemandangan yang saya jumpai adalah si abang sedang ikut ngurusin rundown dan dekor bersama mama, tante dan sepupu saya, rasanya hati ini adem beneer. Sekece-kecenya cowok, mungkin nggak ada yang lebih bikin jatuh cinta daripada melihat dia bisa membaur dan jadi bagian dari keluarga kita. Alhamdulillah ūüôā

Aku (boleh kan ikutan jadi) Jagoan

Berhubung hasrat ingin mewujudkan personalized & small wedding impian sudah di-veto sejak jauh hari oleh Mama, jadi saya punya agenda pribadi untuk bisa memanifestasikan personal touch di acara lamaran saya. Berbekal free printables dari Wedding Chicks,  font gratisan dan Adobe Illustrator, saya membuat placecards untuk masing-masing kursi. Dan karena antara ruang tamu dan ruang utama ada partisi dengan tinggi nanggung, akhirnya saya hias dengan bunga-bunga sisa Mas Angga the Florist. Meskipun sekitar jam 12 malam saya sempat berpikir kayaknya gua gila yak ngerjain kayak gini sendirian, but I have to say I like the results, meskipun bisa jadi saya subyektif berhubung saya yang bikin sendiri hohoho.

Perlengkapan Perang
seating cards
pompom flowers on the banister

Satu-satunya hal yang saya sesalkan adalah dokumentasi. Karena budget minim, akhirnya kami minta tolong teman untuk dokumentasinya. Namun mungkin karena kurang briefing dari kami mengenai susunan acara dan request hal-hal yang diinginkan, sepertinya banyak detail yang nggak ter-capture. Dan sepertinya keluarga saya maupun keluarga si abang memang kurang sadar blocking, jadi beberapa acara inti kurang terlihat “rapi” fotonya. Banyak ¬†yang clingak clinguk di sana sini huahahaha.

*daftar les blocking*

*emang ada lesnya?*

Yah demikianlah, yang penting toh hasil akhirnya. Dan yang lebih penting lagi, saya diingatkan betapa saya punya harta yang paling berharga : keluarga yang sangat-sangat baik *masukkan soundtrack keluarga cemara disini*

My Lovely Family
Proud Grandparents : Aung, Uti, Opa — lamaran perdana cucu-cucu mereka soalnya
Soon To Be Family (Amin)

Dan marilah kita tutup dengan muka saya dan si abang yang lagi super girang karena baru aja tunangan. Semoga lancar hari ini menjadi lancar pula untuk ke depannya dan segala sesuatunya. Saya dengar ada amin di sini? Amin.

4 Bulan Menjelang

Ebuset, udah tinggal 4 bulan lagi menuju hari dimana saya ME NI KAH.

Sadarnya pun akibat dapat email reminder dari The Knot. Isinya? Daftar hal-hal yang seharusnya sudah dan sedang diselesaikan empat bulan menjelang hari H. Makasi loh pagi-pagi bikin saya deg-degan.

Reminder yang pagi-pagi bikin senewen

Penuh rasa takut saya buka emailnya, dan disambut dengan kalimat : BOOK YOUR HONEYMOON. Horeeee saya kan waktu itu sudah sakseus pesan tiket pesawat tepat ketika ada promo super murah Air Asia. Jadi to-do-list nya solved dong. Saya sebagai calon pengantin yang mudah teralihkan perhatiannya dengan sengaja mengabaikan kenyataan bahwa belum book penginapan. Itu nanti ajah, yang penting nyampe dulu ke tujuan. visioner dan berpikir ke depan, lalu lanjut memikirkan hal penting berikutnya.

In this case, hal-hal penting yang harus didiskusikan dengan fotografer, mulai dari foto apa saja yang wajib ada di album sampai dengan tone atau style yang diinginkan :

  1. A (really good) kissing shot¬†Kenapa dicoret? …mmm sejujurnya saya agak malas loh sama foto-foto ciyam ciyum semacam ini. Depan orang lain pula. Kebayang pula di-staging sama fotografernya : “Ya Mbak miringin dikit palanya. Masnya jangan monyong-monyong amat mas. Belai dikit rambutnya.” Foto ciuman aja males, gw nggak kebayang deh kalau bintang film b*kep kayak apa malesnya. Untung itu bukan cita-cita gw ya -___________-‘ Sebenarnya Kissing Shot ini bisa keliatan manis sih, asal pengambilannya artistik. Bayangannya aja misalnya, atau dari jauh dengan foreground di sela-sela detil dekorasi misalnya. Tapi ya itu, I think a good kissing shot should be candid and not staged. Thus, daripada dipaksain ya mending nggak ada ajah nggak sih?
  2. Getting Ready : The Guys + friends, the bride with mom, yang penting di sini kayaknya harus dicari ruangan dengan setting dan lighting ciamik supaya fotonya juga bisa hits.
  3. The Bouquet …ah saya jadi semangat berburu bunga Bouquet ke Rawa Belong ūüôā
  4. The Reception Tables …pernikahan di Indonesia kayaknya agak jarang ya yang model¬†sitting dinner. Paling banter juga area meja VIP untuk para pinisepuh keluarga.
  5. The Shoes …sedangkan saya rencananya pake sepatu apa aja yang udah ada. Bisa jadi udah rada bopak-bopak :p Artinya boleh beli sepatu baru dong yaaa. Eh nggak ya?
  6. The Bride in Action ini saya kurang ngerti juga maksudnya apa hahahaha, di websitenya sih gambarnya ada CPP lagi main bulutangkis pake wedding dress. *telpon tim dekor *minta pasang net
  7. Details : mulai dari detil undangan, detil souvenir, detil dekorasi, sampai scenes-scenes yang bisa menerjemahkan tone dan suasana akad/resepsinya. Rencananya akan ada diskusi yang super mendalam dengan team fotografi untuk bisa dapat setting yang terbaik.
  8. The Wedding Cake kayaknya sih… nggak akan ada wedding cake hahahaha. Ngapain juga bikin kue 3 tingkat padahal yang 2 tingkatnya terbuat dari styrofoam. Mending budgetnya buat nambah dessert bar dari catering.
  9. Bridesmaids’ Bouquets. No bridesmaids, so no bridesmaids’ bouquets
  10. The Ceremony and the Reception from various angles. Saya memang nggak ingin terlalu banyak foto rombongan di pelaminan ala foto studio. Lebih ingin banyak foto yang bisa menggambarkan acara di mata tamu. Semoga Kinema bisa menerjemahkan ini ya nantinya. Amiiin…
  11. The Dress …kayaknya ini cuma bagus kalau bajunya bikin yah. Kalau sewa sih…. mmmm… kayaknya sayang ajah
  12. The Hairstyle. Yes! Yes! Yes! I always love a good beauty shot of hairdos.
  13. Scenes, scenes, scenes. Dengan alasan yang sama seperti di point nomor 10 tadi
  14. The Jewelry. Meskipun nantinya akan sewa, tapi yang namanya aksesori adat pasti akan cantik untuk difoto detailnya yah… Hitung-hitung mendokumentasikan kebudayaan, toh?
  15. A Sign of The Times. Nah ini penting nih, supaya anak cucu nanti tahu waktu jaman mama/neneknya nikah apa sih yang lagi ngetrend. Hmmm… kira-kira apa ya item yang bisa “berbicara” mewakili zaman? Foto Obama?
  16. The Staples : a fashion/glam shot, a b&w shot, a dramatic couple shot, an artistic angle shot

Ya kurang lebih gitu lah ya, dari daftar itu memang nggak semuanya bisa diaplikasikan toh, tergantung selera dan gaya pernikahan masing-masing. Untuk lengkapnya, sila dilihat di sini dan sini.