Checklist Lamaran

H-2 menjelang resmi dilamar loh inih. Mak aye grabag grubugnya udah kayak besok anaknya mau nikah. Berhubung baru pindah kantor, jatah cuti pun sangat amat dihemat supaya bisa puas bulanmadunya. Namun demikian akibatnya jadi merasa bersalah karena di kantor sebenernya nggak ngapa-ngapain juga dan cuma bisa bantu nelpon-nelponin tukang kembang, tukang tenda endebray tapi nggak bisa ikut bantu beres-beresin rumah.

Let’s see… Apa aja yang harus disiapkan?

Tenda dapet gratisan temen Mama

Kursi dapet gratisan temen Mama

Makanan dapet gratisan temen Mama … Hamdallah, banyak bener yang bantu ini :’)

Susunan Acara : nyaris. tadinya udah fixed dari sebulanan lalu, di approve papa mama & angku yang akan mewakili keluarga… si abang tapi nampaknya mau kreatif ngedit di saat-saat terakhir deh. *jitak)

MC Pakek talent dari luar negeri lohh… nggak ding, intinya minta tolong sepupu saya yang manis, yang balik naik last flight tadi malem demi bisa discuss sore ini

Seserahan : nyaris. Kurang 1 item lagi, yang mana sebenernya saya udah bilang kalau nggak ada ya nggak apa-apa juga. Namun demikian si abang kayaknya keukeuh kalo udah sempet kesebut kudu dipenuhin. Kenapa waktu itu saya gak nyebut minta mobil ya? *gaktaudiri

Angsul-angsul

Hias rumah : total baru sebatas konsep. Berhubung tukang kursi & tukang tenda baru besok dateng bawa segambreng barang-barangnya, jadi sekarang sama sekali gak kebayang. Tukang kembang pun pastinya mepet2 kan datengnya biar tu kembang nggak keburu layu.

Muka cakep : hanya sebatas angan. Pipa air di rumah lagi agak rusak dan alhasil muka yang sensitif ini dirubung jerawat. Mata berkantong. Badan pegel-pegel, tapi mau kerokan ntar jadi jijay pas pake kebaya ada motif garis-garisnya.

Kondisi mental : nyaris panik. Nyaris.

Bismillah dulu ah.

Advertisements

All You Need is Love

Another quote from a Beatle. But it just rang true.

I spoke to a friend the other day and we were discussing how some of our smartest, brightest, most attractive friends are stuck in a relationship rut. They’re either longing for a relationship but haven’t been able to establish one, or in a relationship with unavailable men. By this I speak broadly and include those who are in an imaginary relationship —more popularly known as bertepuk sebelah tangan— , those who are in (constant painstaking attemp to establish) a relationship with unavailable men, and those who are in a relationship with emotionally unavailable men.

I’ve been there, I’ve done all that, and I know how painful it is. Believe me, I know.

I am ever so grateful and feel really lucky to meet someone that I’m constantly in love with, as much as he is with me, and that we find a way to nurture a healthy coexistence between the two of us.

And now I know this :

There are two basic motivating forces: fear and love. When we are afraid, we pull back from life. When we are in love, we open to all that life has to offer with passion, excitement, and acceptance.

We need to learn to love ourselves first, in all our glory and our imperfections. If we cannot love ourselves, we cannot fully open to our ability to love others or our potential to create. Evolution and all hopes for a better world rest in the fearlessness and open-hearted vision of people who embrace life.

— John Lennon

My dear friend says she hasn’t found a way to love and accept herself. She’s a very beautiful, nice and smart person. How could that be? So here’s to you, my friend. May you slowly find a way to love and cherish yourself as much as I love and cherish you.

QOTD : Be Here, Now

I love The Beatles. Their music was and still is, magnificent.

I remember how I used to watch the movie “HELP!” on VHS every single day when I was little.

I remember always referring to Paul McCartney as “Om Paul”. Ebuset, situ ikrib mbaknya?

I remember my dad buying a tribute to beatles laser disc, and I was mesmerized watching Julian Lennon singing “Dear Prudence”. I asked my dad to rewind it over and over. The song’s fragile melody combined with Julian’s soft voice was just…lovely. It had a sad yet hopeful quality to it.

I think John Lennon is brilliant and inspiring. Slightly too eccentric, but still, brilliant & inspiring nonetheless.

As my taste in music evolved, I became more and more drawn to songs by George Harrison. To me, McCartney songs are simple and catchy with sweet lyrics, Lennon’s are raw : words, with ethereal and psychedelic tendencies. But George Harrison songs are sophisticated, crisp and concise. In melodies, in lyrics and the messages conveyed by those lyrics. I think he must be a very beautiful soul.

And today I found a beautiful George Harrison quote :

It’s being here now that’s important. There’s no past and there’s no future. Time is a very misleading thing. All there is ever, is the now. We can gain experience from the past, but we can’t relive it; and we can hope for the future, but we don’t know if there is one

Be here, now.

Wedding Wishlist

Di dunia jaringan yang luas (maksudnya world wide web) bertebaran teramat banyak inspirasi pernikahan. Di negeri sendiri tampaknya belum sah jadi penganten rempong kalau belum pernah buka weddingku. Saya sendiri lebih suka buka thread Wedding Bells di femaledaily, karena sepertinya lebih organized dan nggak seramai di weddingku. There is such a thing as information overload, dan saya sendiri bukan tipe yang cukup rajin buka satu-satu thread, apalagi yang isinya disorganized. Ngeri malah bikin pusing, banyak maunya dan nggak fokus.

Saya sendiri, dari duluuuuuuu sebelum tahu akan menikah, sudah sangat sering main dan mampir-mampir ke Offbeat Bride. I don’t really like elaborate ceremonies, so the featured weddings really “spoke” to me.

Pada akhirnya saya merutuk pada diri sendiri  karena semua hal yang saya tapsiiiir KENAPA SIH SUSAH BENER CARINYA DI INDONESIA?!?!

sudah ditapsir sejak 3 tahun lalu….

Cincin kawin di atas ituh, terbuat dari perak dan digrafir bentuk sidik jari kita dan pasangan. Di negara asalnya cincin ini sih masih dibilang terjangkau harganya. Sayangnya setelah cari info kesana kemari, ternyata di Indonesia belum ada pengrajin yang bisa bikin semacam ini deh. Kalau mau nekat pesan di tempatnya langsung, harga cincinnya sepasang aja di sini bisa udah dapet cincin emas sepasang pake berlian. Belum lagi ongkos kirim, dan bagaimanapun ngeri juga ya benda berharga semacam itu dikirim-kirim lewat pos. Gimana kalau nyelip, jangan-jangan mendadak di Laos sana ada orang lagi pakai cincin kawin motif sidik jari gue dan (calon) laki yang salah terkirim.

Saya sempat mutung-mutung sendiri karena nggak nemu di Jakarta yang bisa bikin semacam itu. Penasaran aja sih, masa iya satupun pembuat cincin di sini nggak ada yang bisa adaptasi teknologinya toh? Sampai akhirnya si abang nan bijak dan baik hati berkata “Ya udah kita bikin yang biasa dulu ya, nanti someday untuk anniversary kita bikin yang seperti itu.”

Masnya…

aku…

CINTA!

*kecup juga nih

Dear Brent & Jess, please do open up a South East Asia branch. I’m sure a lot of Indonesian brides would love to purchase those rings without having to cry over logistic costs.

Another eye candy is the brilliant invitations from Bella Figura … I especially love this design since it closely resembles Indonesian songket motives.

ih langsung terbayang songket kan? cantiks!

Sejak awal, meskipun resepsi diputuskan akan menggunakan nuansa Padang, tapi saya rencananya memang nggak mau full Padang tradisional. Maunya sih modern aja, with clean crisp simple lines, dengan sedikit aksen Minang di sana dan sini. Namun sulit yaaa mak kalau budget terbatas tapi segala-galanya mau di custom… ihiks.

Ditambah lagi, undangan di atas sepertinya kelihatan super manis karena letterpress, ada kesan timbul nya sehingga memang secara tekstur menyerupai songket beneran. Nah dengan budget terbatas nggak mungkin dong ya saya bikin undangan letterpress, tapi saya ragu kalau flat aja efeknya akan sama dengan contoh di atas.

Oh well, we’ll see… Semoga semesta mendukung dan mendadak terbuka jalan menuju wedding impian. AMIIIN.

Tamu Mungil

Just in time for the mister’s birthday, we had a small guest come to stay

Thanks so much to the wonderfully talented hands of Cindy from Desa Boneka, we adopted this custom made creature :

Currently still in process of waiting for my other orders : a custom Mario  Bros finger puppet set, and another finger puppet set for a special tiny friend (ceritanya sok rahasia huhuhu semoga orangnya nggak keburu baca).

Can’t wait!

Nesting

Belum pula kelar segala kerempongan pernikahan, si Mamak sekarang memburu-buru anak perempuan semata wayanganya untuk mulai ….
menghias…
kamar..
penganten.

JDANG.

Sebagaimana berkali-kali sudah terjadi dalam Andied’s Universe, selalu terjadi pertempuran kolosal antara budget vs selera.

Ngok.

Setelah banyak banyak banyak berdiskusi dengan si sepupu yang arsitek, maka akhirnya si kamar ini akan dibuat full warna putih. Mulai dari tembok, jendela, pintu, sampai furniture.

Pertimbangannya :

  1. Ukuran super mini dan minim natural lighting
  2. Kamar pengantin bersifat sementara (insyaallah) dengan harapan dalam waktu maksimal 6 bulan penghuninya akan capcus ke sarang cinta yang lebih permanen
  3. Sesudah pengantennya pindah, peruntukan kamar ini belum jelas mau dijadiin apa, jadi supaya bisa mengakomodasi seandainya ada perubahan dekor, lebih baik dibuat senetral mungkin

Demikianlah pada akhirnya saya sibuk bernyanyi-nyanyi

Katakan padakuuuu hai tukang kayuuuu, bagaimana caranya memesan furniture padamu??

Yang urgent-urgent dibikin sih kayaknya headboard tempat tidur, media cabinet dan meja rias. Harapannya bisa sebagaimana yang aku tapsirun di sini :

Ciamik apalagi jika dilapis warna putih

Tapi dipikir-pikir lagi, dengan kecenderungan gw yang sangat accident prone, bisa-bisa jadi belakang kepala gw banyak codet-codet motif ukiran gituh. Alhasil pada kenyataannya nanti mungkin harus cukup puas dengan yang modelnya semacam ini ajah

Supaya gak kejedug marilah kita lapisi busa dan kain

Sebagaimana perempuan pada umumnya yang mencintai hal-hal cantik maka aku pun menaksir yang semacam ini

CANTEK sodara sodariiih

Cantik? Itu pasti. Feasible, belum tentyuh. Wong kamar cuma sa’uprit kok ya mau diisi beginian ditaro sebelah mana cobaaaa.

Sebenernya lumayan terlihat kan kontrasnya perbedaan antara versi dambaan hati dengan versi “kompromi”nya? Hiks memang bagaimanapun money talks ternyata.

Akhirnya sisi pragmatis otak saya memutuskan untuk nyicil-nyicil bikin/beli/refurbish furniture yang sifatnya modular dan simple, supaya lebih mudah di mix & match dan digeser-geser maupun diangkut-angkut ke rumah baru nantinya. Pun  si furniture sebaiknya agak multi fungsi, misalnya meja rias yang bisa sekaligus jadi meja kerja, kalo perlu merangkap meja makan sama meja setrikaan. Meja catur sekalian. *kok emosi mbaknya?

Yah okelah nggak perlu seekstrim itu, tapi semoga bisa mendekati inspirasi di bawah ini :

Meja nan (insyaallah) serbaguna, soalnya bisa dibuka tutup tu atasnya
See? Instead of lemari 2 pintu, bikin aja 2 buah lemari 1 pintu
Rak buku super kece yang bisa digeser untuk menambah storage space

Nah secara paralel marilah kita sibuk cari pernak pernik. Untuk hal ini baru deh warna-warni beraksi, biar ruangan nggak putih semua semacam rumah sakit jiwa.

*brb browsing lagi*