Locus of Control : External

Suka nggak suka, mau nggak mau, harus diakui bahwa ternyata memang Locus of Control saya itu Eksternal. Susah bener memberikan target yang spesifik untuk diri sendiri. Tapi setiap kali diberikan target dari orang lain, kayaknya ngotot bener buat bisa mencapai target-target itu. Mulai dari kerjaan, sampe the Sims (lah??).

Anyway, feature baru WordPress ini kayaknya bikin saya terdorong semakin rajin menulis. Which is a good thing I hope. huhuhu.

In the meantime, I’ve still got 3 posts to go until the next milestone.

3 more posts to gooo…

Dinas vs Tamasya

Di kantor yang lama, perjalanan dinas selalu saya sambut dengan riang gembira. Kenapa? Karena eh karena, biasanya perjalanan dinas itu berupa sosialisasi kebijakan sehingga tidak makan banyak waktu. Pun umumnya dilakukan menjelang weekend.

Alhasil, biasanya saya request penerbangan kepulangannya diundur ke hari minggu, supaya bisa puas sightseeing dan jalan-jalan. I consider it trip HRATIS melihat-lihat tempat baru. Can’t complain, right?

‘Utilisasi’ perjalanan dinas yang paling menyenangkan buat saya adalah :

  1. Melanjutkan perjalanan ke Toraja (extend dari Makassar)
  2. Naik bis ke Singapura sepulang training di Malaka
  3. Keliling kota Surabaya, yang sebelumnya belum pernah saya explore

Memang belum banyak sih, tapi ya saya bersyukur banget, karena kesemua kota itu baru untuk saya, dan mungkin belum tentu saya akan pergi kesana kalau bukan untuk urusan kerjaan.

Semenjak negara tetangga pemilik kantor lama semakin menancapkan kuku dan taring berjudul “COST EFFI” maka akhirnya perjalanan yang nyaman dengan naik maskapai nomor 1 di Indonesia, terpaksa digantikan bersempit-sempit di maskapai budget asal si negeri tetangga ituh. Plussss pekerjaan saya lama-lama semakin sedikit menuntut saya jalan-jalan untuk sosialisasi.

Setelah resign dan pindah ke kantor yang baru ini, saya bahagia setelah diiming-imiingi kata-kata “akan sering dinas ke luar kota”, “banyak remote area” dan “GA***A”. Otomatis terpikirkan banyak pelosok Indonesia yang bisa saya jelajahi. Pulau Sikuai, Pulau Menjangan, Derawan, kyaaaaa….

Ternyata…

Di kantor ini, perjalanan dinas dilakukan relatif dadakan. Wakwaow moment buat saya adalah ketika ternyata mayoritas perjalanan dinas dilakukan DI PERTENGAHAN MINGGU. *byebye exteeeend* Cuti? Nyaris tidak mungkin karena saya kan anak baru, belum setahun kerja, dan lagi nabung-nabung cuti untuk honeymoon.

So this is what my business trips so far looked like :

  1. JKT-PKU-JKT berangkat Selasa subuh pulang Rabu sore. Jadwal full, nggak liat apa-apa selain hotel, bandara, kantor. Makan aja nasi box.
  2. JKT-PLM-JKT berangkat (lupa hari apa) subuh, pulang di hari yang sama sore.
  3. JKT-CGK-JKT berangkat Selasa siang pulang Kamis malam. jadwal full tapi masih lumayan makan malam bisa di luar.

Ihiks….

Moral of the story : you win some, you lose some. In my case I win a little (upgraded airline class & new local destinations), but lost what really mattered to me : schedule flexibility.

Be careful what you wish for.

The Avengers

Have been excitedly anticipating for The Avengers and finally watched it last weekend. What can I say? Love, love, love.

Berhubung sejak kecil banyak baca komik-komik Marvel kepunyaan si babeh, and I have always liked the Marvel universe’s storylines more than DC, maka tentunya film ini sangat menghibur untuk ditonton.

What I love most is Tony Stark’s sarcasm infused humour, which was also picked up by the other characters. It made them seem a little bit more human. I hate unidimensional character portrayals, and the script for The Avengers shows us the many facets of a superhero.

Even more proud, my ‘almost’ spups was mentioned in the credit title as one of the animators (yeaaaay!!!). Sayangnya di Blitz Megaplex dilarang memotret layar. Padahal kan filmnya udah abis yaaaah 😦

I’m guessing a lot of other viewers enjoyed the movie as well, as shown by this supercute blog post. Love.

 

 

Gojira (masih) Cari Kebaya Jilid 3

Contoh Kebaya Longgar

Alternatif Model Kebaya Longgar

Sepertinya mamanda sebelah sana ada request khusus supaya model kebayanya jangan yang sesak-sesak. Artinya jangan pake bustier yah. Mendadak pusing karena bahannya udah dibeli bahan brokat.

Mungkinkah dibuat seperti ini saja?

Contoh Kebaya Longgar. Pic taken from here

Cukup

Pagi di tepi jalan utama Jakarta, seorang laki-laki terduduk di trotoar. Dikelilingi dagangannya, entah apa, yang terlihat cuma warna-warni dan kilau plastik. Robot-robot kota Jakarta lalu lalang tanpa sedikitpun menoleh. Laki-laki itu sendiri, sebuah eksistensi sepi di sela padat ibukota.

Benarkah?

Ia kini sedang bernyanyi, lantang, meskipun sumbang. Tentu senandungnya bukan untuk uang, karena ia pedagang. Tak nampak wadah receh yang biasa disediakan pengamen. Pun ia tak tampakkan wajah memelas meminta iba.

Ia kini sedang bernyanyi, lantang, namun riang. Untuk dirinya sendiri. Untuknya temani hari.

Di dalam sedan istimewa tempat saya tak perlu duduk di muka, saya sedang sibuk merutuk rutinitas budak korporasi yang terasa membebani. Tamparan hari ini datang halus-halus dari nyanyian seorang laki-laki. Lantang, sumbang, namun riang.

Bahagia adalah abstraksi tanpa standardisasi ukuran.

Dan nyanyian laki-laki itu mengingatkan saya, bahwa bahagia adalah cukup. Dan berkecukupan bukan semata ‘berkata’ cukup. Semoga saya sampai pada titik dimana lebih besar rasa syukur daripada rakus. Titik dimana apa pun yang ada saat itu bisa saya maknai dan syukuri sebagai sesuatu yang cukup.