Whimsy

this is what happens when a procrastinator gets an anxiety attack : she makes useless stuff.
Cute, but fairly useless…

the proposal 🙂
Even our Sims are getting married :p
From a ‘make your own wedding blog’ site, will be incorporating this into the theme
Advertisements

Pertamax !

Bukan mentang-mentang harga BBM naik terus saya bahas Pertamax. Post ini justru sebenarnya mengacu ke PERTAMAX kita akhirnya naruh nama buat booking gedung. *joged

Akibat insiden tanggal yang menjadi maju tak gentar demi membela yang benar, maka dua anak manusia sekarang tingkah lakunya lebih serupa dua anak cacing yang kepanasan : panik-panik kelojotan tapi tidak belum menghasilkan solusi apa-apa. Percakapan telepon pun udah jarang dibuka dengan “Halo”, dan tergantikan oleh :

“Kata si xx gedung xxx bagus, kapasitasnya segini-segini” 

“Ya udah saya cari nomer telponnya dulu” 

“Saya udah telpon gedung xxx paketnya segini, udah include ini ini itu” 

… 

dan seterusnya

Sesudah mengugurkan banyak gedung berdasarkan beberapa pertimbangan awal seperti :

  1. Lokasi : untuk antisipasi seandainya resepsi dilakukan hari Jumat, berhubung tamunya kan pasti pada langsung dari kantor ya. Untuk mengakomodasi mereka yang (semoga) bersedia datang, maka diprioritaskan venue yang lokasinya di Sudirman, Senayan, Kuningan atau Gatot Subroto.
  2. Akses : semanis apa lokasinya, tetep aja tamu pada males kalau ternyata aksesnya sulit. Misalnya jauh dari pintu keluar tol, atau macetnya bujubuneng
  3. Parkiran : ini juga masalah, karena kasihan tamunya kalau harus pusing 7 keliling gara-gara terpaksa keliling 7 kali demi cari parkir. Kalau pun kapasitas parkiran gedung nggak besar, tapi setidaknya lokasi aman, atau ada valet.
  4. Akses dari lobby/parkiran ke ruangan : berhubung kakek nenek gw sudah sangat sangat sepuh, kasihan kalau harus jalan jauh atau naik tangga. Minimal kalau ruangan beda lantai sama lobby harus ada lift atau eskalator.
  5. Harga (YAIYALAAAAH) : harusnya sih ini ditaruh di urutan pertama kali ya? hehehe…. Yang bikin susah sebenarnya adalah bahwa untuk prioritas lokasi seperti disebut di atas, nggak terlalu banyak pilihan gedung yang tersisa. Ya maklum lah, maunya banyak tapi duitnya nggak ikutan banyak hihihi *mringis *ktawa miris *urek-urek tanah

Berbekal syarat yang nggak banyak tapi lumayan menyaring banyak gedung seperti di atas, salah satu yang mendadak terpikirkan adalah Manggala Wanabhakti …
Meskipun gedungnya udah tuir, namun sejauh ini tampaknya cukup memenuhi syarat-syarat di atas. Dan alhamdulillah masih available untuk alternatif tanggal yang kita mau (meskipun cuma bisa Jumat, sedangkan Sabtunya sudah dibooking orang) hiks…

Maka kita cup itu gedung akhirnya, terima kasih untuk si abang yang bersedia meluangkan waktu telpon-telpon gedung di sela jam kerja. Ini juga salah satu yang sangat gw syukuri, bahwa bukan saja dia mau ikutan repot, tapi dia bahkan lebih antusias dari gw untuk follow up telpon-telpon dan nego sama vendor hehehe.

Dan dengan demikian, terbooking lah setidaknya satu PR utama kami. Terima kasih Tuhan, terima kasih ucup manis.

Final Countdown

Daisypath Wedding tickers

BISA GILAAAAAA…. Ketika tadinya rencana udah diatur dengan manis nan ciamik, untuk mempersiapkan tanggal 6 April tahun depan sebagai the day, mendadak acara dipercepat jadi akhir tahun ini. And look, look how many months I have left? *nangis sampe ingusan

Kenapa 6 April? Karena seperti saya suka ceritakeun di sini, saya sangat sangat berharap bisa punya rumah tangga seindah dan seawet mereka, yang penuh cinta setiap harinya. Apa saya dengar Amin disini? AAAAAMIIIIIINNNNNN!

Dan alangkah indahnya ketika ternyata 6 April 2013 jatuh di hari Sabtu dan bertepatan dengan wedding anniversary kakek nenek saya tercinta ituh.

Tapi apa mau dikata, kalau udah seputar pernikahan, anak bebas berencana tapi orang tua yang menentukan. Hiks. Meskipun alasannya baik dan sungguh *jleb* bagiku :

Kalau sudah berniat ibadah itu harus disegerakan, jangan ditunda-tunda

*jleb

*jleb

*JLEB

Jadi ya sudah, disegerakanlah niat itu. Berhubung Juli kecepetan (yaabeeees) dan September ada sepupu dekat yang juga menikah, Oktober si mama sibuk, dan tengah November-Desember adalah bulan Suro (zzzz -___________________-‘ ) maka pilihannya cuma sisa dua :

2 November

atau

9 November

….

dimana itu hari Jumat…

Ya Tuhan mudahkanlah, lancarkanlah, dan yang terpenting lapangkanlah hatiku jikalau ternyata (terasa) kurang mudah nan lancar. Amin.

Ketika Action Berujung Komedi

—warning : may contain teasers. Kalau belum nonton filmnya,read this at your own risk—-

 Sudah dengar tentang film Indonesia yang judulnya “The Raid”? Film ini banyak digembar-gembor karena memperoleh banyak reviewpositif di luar negeri. Bahkan di IMDB skornya 8.4 dari skala 1-10. Film ini dibuat oleh Merantau Films, yang dulu juga pernah membuat film “Merantau”(ya abeeees, namanya aja gitu.)

Berhubung udah lama nggak kencan bioskopan berdua, si Er doyan sama “Merantau” dan saya udah bener-bener sakau bioskop, maka berbekal e-ticket dari Blitz Megaplex terdekat pergilah kami suatu minggu sore,siap untuk dipukau oleh karya sineas Indonesia.

Sejujurnya ya, untuk kalian wahai pembaca yang memang doyan film genre action, this movie is a must see. Fight choreography nya keren, dan alurnya benar-benar nggak menyisakan waktu sedikitpun buat kita leyeh-leyeh.Truly adrenaline pumping. Which is why, menurut gw di setiap counter tiket seharusnya dipasang warning besar bertuliskan : “ANAK-ANAK DIBAWAH 17 TAHUN DANPENDERITA PENYAKIT JANTUNG TIDAK DIPERBOLEHKAN MENONTON FILM INI”.

Kenapa demikian? Karena fight scenesnya nyaris tanpa sensor,penuh darah, dan lumayan sadis. Jadi kasihan dong ya adik-adik kalau dari kecil sudah disajikan pemandangan traumatis semacam itu.

Kenapa saya tambahkan “penderita penyakit jantung”? Karena gw sendiri NYARIS IKUT JANTUNGAN akibat duduk di sebelah ibu-ibu yang (meskipun tidak jantungan, tapi kelakuannya bikin gw takut dia bakalan) kena serangan jantung.

Lokasi duduk gw dan Er sebenarnya sangatlah ciamik : row C dan persis di tengah layar. Di sebelah kanan gw duduk ibu-ibu paruh baya, suaminya, dan dua anak yang mungkin usia kuliah. Di sebelah kiri Er duduk bapak-bapak paruh baya dan istrinya.

Lampu meredup dan pertunjukan dimulai. Adegan baku hantam semakin seru sampai tiba-tiba dari sebelah kanan gw :

“Astaghfirullah astaghfirullaaaaaah…. Sadis ini pah,aduh kok sadis amat siiiih?!?”

Kemudian hening, mungkin suami ibu itu sudah berhasil menenangkannya. Tapi lalu…

“Aduuuh ini sadiiis. SADIS paaaaah saaaadis!!! Yaampun kasiaaan dipukulin kayak gitu. Sadis amat sihhhh…”

Terus tiba-tiba ada dialog yang memang sengaja nggak diselesaikan kalimatnya, karena penonton diharapkan untuk menyimpulkan sendiri,dimana salah satu tokoh berkata :

“…penyerangan ini bukan…”

Hening sejenak, lalu si ibu teriak :

“Bukan apa? Bukan apa pah? Bukan apa siiiiih?!?”

Di titik ini saya sama Er udah setengah mati nahan ngikik-ngikik sambil sikut-sikutan : jawab gih ibunya, jelasin tuh bukan apaan.

Masih dilanjutkan lagi pas ada adegan tokohnya merangkakuntuk mengambil suatu benda yang bisa dijadikan senjata, terus kamera nge-shootbenda tersebut :

“Pah itu apaan sih? Kenapa dia mau ambil?”

“wasweswoswasweswos” (gw nggak tau suaminyapersisnya jawab apa, yang pasti gw salut sama kesabarannya)

“kenapa diambil sama dia? Emangnya bisa dipake buat apaan? Kenapa dia nggak lari ajah yah”

Jejeritan semacam ini berlangsung sepanjang film, sampai saya bukannya kesal malah jadi kasihan sama ibu ini. Anak-anaknya tega bener ngerjain ibunya diajak nonton film begini. Dan untungnya si ibu suaranya nggak cempreng, jadi annoyingnya nggak kuadrat buat saya.Puncaknya saya rasa, adalah ketika tokoh Mad Dog si antagonis sedang bertarung melawan dua jagoan tokoh utama, dimana si ibu berkomentar :

“Ih dia jago banget ya Pah penjahatnya. Cuma sayang aja, kenapa jagonya nggak dipake buat kebaikan.”

huhuhu…. Langsung deh gw inget sama nyokap di rumah dan ibu-ibu lainnya dimanapun anda berada. Kayaknya yang namanya naluri keibuan emang susah ditahan, pasti punya harapan bahwa semua orang akan menjadi orang yang baik, bahkan untuk penjahat sadis sekelas Mad Dog. So dear Ibu-Ibu yang duduk di sebelah saya, saya setulusnya mendoakan semoga Ibu tetap polos dan lucu selalu, dan terus melihat potensi kebaikan dalam diri setiap orang. Amin.

Pilihan Yang Sangat Bijak

Ketika baca posting sebelumnya, baru sadar bahwa awalnya berniat cerita tentang apa yang terjadi ketika si abang minta izin sama nyakbabe…

Satu catatan penting buat gw adalah “mulutmu harimaumu”.
Always, always watch what you say. Because with a quirky family like mine, ANYTHING can happen. 
 
Semua berawal baik-baik ajah. Setelah si mama dan papa kegirangan sendiri seperti digambarkan di episode sebelumnya, maka ditentukanlah sebuah hari dimana si abang mau minta izin ngawinin anak mereka. 
 
Lalu di hari itu semua ceria-ceria penuh antisipasi gimana gitu, dan karena Mbok Sum menjajah dapur demi mempersiapkan aneka hidangan padang sekelas Sederhana, maka kami terpaksa ngungsi cari sarapan di luar rumah. Pilihan jatuh pada sebuah waralaba pizza yang H*T (yeee ga sebut merek yee kan maksudnya ngeHITzzz), dimana gerai itu sekarang lagi ikut tren fast-food-buka-lapak-sarapan. Ih, pada gak kasian apa sama tukang lontong sayur?
 
Bagi mbak-mbak dan mas-mas pembaca yang seringkali menyambangi resto hits ini tentu tau juga aneka ritual dan salam genggeus unik yang sering mereka gunakan. Menurut gw karyawan restoran ini pasti semuanya punya kecerdasan emosional tinggi, terbukti dari kemampuan mereka untuk menunjukkan unconditional love pada setiap pengunjung. Apapun pilihan menu anda, karyawan disini semuanya menunjukkan approval tingkat tinggi sambil nyengir kuda dan kasi jempol sedeket mungkin sama muka anda seraya berkata : 

PILIHAN YANG TEPAT SEKALI KAKAK…

Keluarga gw paling nggak tahan dan selalu ngikik-ngikik setiap kali ada jempol melambai di depan muka salah satu dari kita. Hari ini pun tak terkecuali. Sampai akhirnya gw kepikiran :

Gw : Kalau lagi rapat direksinya restoran ini, terus ada yang propose ide, mungkin approvalnya cukup sambil bilang “pilihan yang tepat sekali” gitu kali ya?

Adek gw yang lucu tapi seringkali gak tepat timingnya : Kalo anak direksinya ada yang dilamar kali jawabnya juga gitu ya?

Bapak gw : Nanti papa gitu ah pas er minta izin nikahin kamu mbak…

 
TOLONG 
AKU
TUHAN


seandainya ada tombol ctrl+z untuk menghapus semua percakapan barusan.
Siangnya si abang dateng, gw udah harap-harap cemas si Papa bakal lupa rencana busuknya itu. Tapi apaaaa yang terjadi apaaaaaaa…..
Er sih memulai dengan menjabarkan maksud dan tujuan, tak lupa landasan teorinya (yeeee emangnya karya tulis?!?). Gw terkagum-kagum sih karena mendadak dia terlihat begitu dewasa. Bahasanya diplomatis tapi lugas dan santun… Ah ini dia laki-laki yang akan menjadi nahkoda bahtera rumah tangga gw (-______-‘) *selipkan musik dangdut mendayu di sini.Di titik ini gw separuh lupa dia ngomong apa aja, karena lagi asyik bengong-bengong bego membayangkan masa depan. Yang terakhir gw denger sayup-sayup adalah ketika suasana hening dan bapak gw yang kece itu berkata

Pilihan yang bijak sekali.
SAMBIL KASI JEMPOL

Hadeh batal dikawinin dah gw kali yak.
Untungnya nggak, saya tetep mau dinikahin (alhamdulillah). Dan si babe dari *tukang pizza mode : on* beralih ke *preman sangar mode : on* saat bilang : “Macem-macem awas ya” Masih pula dilanjutkan dengan *urang awak mode : on* sambil kasih petuah-petuah dalam bahasa Padang.
Di titik sini lah gw mendadak mellow, karena setelah menginterogasi Er untuk translate petuah babe, isinya adalah tips & trik untuk Er menghadapi gw yang bisa dibilang ‘perempuan sulit’. Awww it turns out my dad knows me so well :’) and it’s so cute that he was as nervous as Er was -hence the jempol shehanigans. And it’s even cuter that Er can handle our quirky family humor. Semoga ini artinya kita akan memproduksi mini versions of us yang bukan cuma lucu tampangnya tapi juga lucu bcandanya (AMIN!)
Sesuai moto kami “perut kenyang, hati senang”, hari ini ditutup dengan bersama-sama membumihanguskan menyantap bofet padang ala Sum.
Dan sepasang muda-mudi semakin menyadari telah membuat pilihan yang bijak sekali : memilih satu sama lain. Ya kan Er? 🙂

Tes Ombak

Sejak diajakin kawin sama si abang, lumayan banyak hal yang terjadi. Salah satu yang paling penting adalah ketika manusianya datang buat ngomong sendiri ke nyakbabeh. *merindingdisko*

Mayoritas orang bilang seharusnya gw nggak usah bilang apa-apa dulu sama orang tua, biar langsung si abang aja yang ngomong. Berhubung kondisi hubungan gw agak kurang umum, gw memutuskan bahwa tetep perlu juga gw rada tes ombak. ‘Kurang umum’ disini maksudnya adalah bahwa kami nggak pernah sebelumnya menyatakan pacaran atau semacamnya. Dan meskipun si er sudah berkenalan dengan keluarga dekat -termasuk kakek nenek & beberapa sepupu- tapi belum lama dan intens, jadi gw rasa ya pasti pendekatannya agak berbeda dengan orang yang udah pacaran beberapa tahun.

Yang namanya tes ombak, pastinya kan cuma celup-celup kaki dikit gitu ya. Rencana gw adalah untuk sekedar nanya-nanya kesan orang tua tentang Er. Pas juga momentnya baru aja makan-makan keluarga besar perdana dimana si Er ikut serta. 



Tapi tentu rencana tinggallah rencana. Yang ada kejadiannya gini :

Gw : “ma, what do you think about er?” 

Ma : “baik ya anaknya trus bla bla bla… (silakan isi sendiri, gw menghindari terlalu detil supaya Er gak besar kepala bacanya :p )

Gw lalu mengalihkan obrolan ke hal-hal lain mulai dari fashion, menu masakan sampe politik. Lalu akhirnya …

Gw : “ma kira2 kalau anaknya ada yang ngajak nikah, menurut mama aku udah siap belum?” 

Ma : “tuh kan! TUH KAN! (ucapkan dengan nada tinggi) “ 

Gw : “tuh kan apa yak?” 

Ma : “BENER KAN feeling mamaaaaa” 

Gw : “apa sih?” 

Ma : “kapaaaaaaan? Dia bilangnya gimaanaaaa? Papaaaaa….” 

Gw : “kan aku bilang KALAU” 

Ma : “ah mama yakin banget deh kamu diajak nikah ini pasti. Ayo cerita kapaaan dia bilangnya… Papaaaaa…”

….

Dan dengan demikian rencana tes ombak berakhir dengan gw kadung TENGGELAM.

Moral of the story :
Ketika orang tua sudah sangat bersemangat nikahin anaknya bahkan SEBELUM si anak punya calon, maka sebaiknya NGGAK USAH pake tes ombak daripada kejadiannya malah si orangtua langsung mencapai kesimpulan dan ketebak semuanya


Sekian. *blebeb*

My Heart Leapt on a Leap Year


..
.
mmm sebenernya meskipun sudah nyaris sebulan lalu tapi masih suka bengong-bengong bego dan antara percaya nggak percaya.

Jadi tahun kabisat itu peristiwa yang rada-rada langka kan yah karena cuma empat tahun sekali datangnya. Dan biasanya saya mengasosiasikan peristiwa langka dengan hal-hal yang aneh tapi nyata.

Dan sungguhlah aneh tapi nyata ketika di tanggal 29 Februari 2012 kemarin ini ada seorang laki-laki yang tiba-tiba bilang : “Nikah yuk!”. Dan semakin aneh ketika gw pun cuma bisa bengong-bengong hampir 1 menit penuh dan akhirnya bilang “Ini beneran nih?”. ah sungguh pasangan yang tidak romantis logis.

Eh tapi kita tetap manis kok, soalnya sesudah diyakinkan bahwa “iya ini beneran ngajak nikahnya” maka gw nyengir selebar daun kelor meskipun tidak semelar tali kolor, sambil ngangguk-ngangguk. Maklum, baru pertama kali diajak kawin soalnya jadi agak norak.

Ah ya, sekedar catatan buat diri sendiri juga sih, bahwa kalo jadi orang gak usah penuh sok logika deh. Beberapa minggu belakangan ini, si laki-laki yang ngajak nikah itu (sebut saja Budi, eh tapi namanya nggak ada budi-nya. hmmm oke kita sebut saja dia pemuda Er…ror).. Iya jadi si Er ini sebenernya udah beberapa kali ngajak ke Segarra belakangan ini. Meskipun saya memang penggemar sunset sejati, tapi kan belakangan ini cuaca agak buruk ya, maka dengan penuh percaya diri gw selalu menjawab “Jadi ya, Segarra itu kan enaknya buat nikmatin view. Kalau hujan gini sih, kayaknya nggak ada yang diliat juga. Besok-besok aja ya kalau cuaca bagus kita kesananya.”

Rasanya pengen balik pakai mesin waktu Doraemon dan membungkam si otak kiri sialan, ternyata DIAJAK KE SEGARRA TUH KARENA TADINYA MAU DILAMAR DISANAAAAAAAAAAAAA…. Namun apa daya semua gagal. Batal sudah kesempatan untuk suatu hari cerita sama anak-anak gw nantinya bahwa

“Mama tuh dilamarnya di Segarra lho, sambil memandangi matahari terbenam di Teluk Jakarta”…

alhasil nanti cerita gw cukup

“iya mama diajak papa nikah pas lagi duduk-duduk di sofa rumah”…. *jitak otak kiri

Oh well, that was beside the point anyway.

Kalau baca blog ini dari awal, you would know that I’m not really the ‘marrying kind’. I love unconditionally, but to reach that point was a huge learning process in itself. And loving is not necessarily the same as committing. Tapi dipicu oleh berbagai pergumulan dengan diri sendiri, terutama setelah membaca tulisannya Smita yang ini, akhirnya gw menyadari bahwa meskipun gw tau gw sangat bisa survive dan bahkan cukup berjaya menjalani hidup ini sendirian, tapi GUE NGGAK MAU.

Karena hidup terlalu penuh aja untuk dijalanin sendiri, gw merasa butuh partner buat berbagi hari. Dan berbagi hidup. Supaya kalo capek bisa ‘nyender’, kalo seneng ada yang diajak soraksoraibergembira, kalo sedih ada yang diajak maki2.

So here we go, mister, bersiaplah disenderin, bersoraksorai dan (terkadang) memaki bersama.