obrolan emak-emak

Belakangan ini lagi banyak banget teman-teman yang berstatus bumil maupun busu untuk pertama kalinya. Dan tampaknya salah satu keluhan yang paling sering saya dengar adalah -mengutip dari posting neng manis ini- semua orang merasa berhak beropini.
Semua orang merasa berhak memberikan segala macam komentar, saran, bahkan sampai instruksi, tentang cara mengurus kehamilan maupun bayi yang baik dan benar. OK mungkin ada beberapa nasihat yang cukup berdasar dan common sense aja, tapi yang saya tangkap dari teman-teman saya ini, yang nggak bisa diterima dan bikin pengen nabok adalah nada-nada menghakimi seolah-olah cara mereka mengurus anak itu salah.
Padahal ya, peran baru sebagai orang tua itu kan cukup menakutkan. Tiba-tiba dititipin makhluk mungil tak berdaya yang nggak bisa bicara bahasa manusia. Mana emaknya ngerti tu anak nangis gara-gara apa? Dan menurut saya tidak ada perasaan yang lebih menyiksa daripada melihat orang yang kita sayang (si anak) menderita, dan kita nggak tahu bagaimana cara membuat keadaan jadi lebih baik.
Di tengah keputusasaan seperti itu, saran bertubi-tubi dari orang lain yang seringkali kontradiktif, justru membuat newbie parents and parents to be ini ingin bakar diri saking bingungnya.
There is no foolproof way of parenting. There are only theories, and common sense. Because every child has different needs, different responses, different personalities.
Jadi teman-temanku wahai bumil dan mamah2 baru, SEMANGAT YAAA! Dan suatu hari nanti dikala saya berada di posisi kalian, janganlah membuatku bingung. Atau lebih parah, kalau suatu hari nanti saya sok-sok kasih nasihat tentang parenting, SILAKAN TAMPAR SAYA KERAS-KERAS!!!

Memilih

Lelah dan muak dengan orang-orang berkepala sempit yang menganggap perbedaan adalah justifikasi yang cukup untuk membenci.
Lelah dan muak dengan orang-orang pongah yang merasa dirinya secara absolut sudah paling benar, dan orang lain HARUS KUDU WAJIB mengikuti cara mereka.
Lelah dan muak dengan orang-orang berhati kecil yang membiarkan dirinya terhanyut ikut arus, tanpa analisa dan kontemplasi.
Lelah dan muak dengan orang-orang yang merasa berhak menginjak-injak hak hidup orang lain.
…dan lebih lelah dan muak dengan orang-orang yang melihat semua hal di atas, tapi memilih untuk tidak melakukan apa-apa.

Saya pernah bilang : hidup adalah perjalanan. Tapi lebih dari itu, hidup adalah pilihan.
Jangan harap perjalanan ini dilengkapi dengan jasa travel agent yang sudah menyiapkan paket tur 4 hari 3 malam ke berbagai destinasi wisata terbaik, dimana kita tinggal duduk letakkan pantat di transportasi yang telah disediakan, turun di tempat-tempat persinggahan lalu tinggal mejeng pose foto-foto sambil cengar-cengir. Mentok-mentok cuma ada buku panduan –itupun tidak resmi- mengenai milestones yang oke untuk dikunjungi, yang berdasarkan pengalaman banyak orang rasanya kurang lengkap kalau tidak dikunjungi. Sekolah sampai SMA, kuliah, kerja, menikah, punya anak, punya cucu, dsb dsb en the blablabla. Dan berdasarkan pengalaman banyak orang sebelumnya juga, ada waktu-waktu tertentu yang dianggap paling pas untuk mengunjungi berbagai tempat tujuan itu. Maka kemudian saatnya memilih, rute terbaik untuk perjalanan ini. Mau kesini dulu apa kesana dulu, trus mau mampir disini berapa lama, lokasi mana saja yang gak perlu didatangi, dan seterusnya dan seterusnya.
Bedanya manusia sama binatang, kita tidak semata digerakkan instink. Ada proses kognisi lebih kompleks yang berperan dalam pembuatan keputusan, yang akhirnya diwujudkan dalam pilihan dan tindakan kita. Dan proses ini buat saya adalah privilege, karena memberi kesempatan kita untuk semakin mengenal diri, semakin jujur pada diri dan akhirnya semakin memperbaiki diri. Evolusi mini dalam semesta diri.
Lalu ketika sekelompok orang merasa berhak menentukan pilihan yang terbaik untuk orang lain, dan MEMAKSA (bahkan dengan kekerasan) agar orang lain memilih hal tersebut, apakah mereka bukannya justru tidak memanusiakan manusia?

A bunch of 5 year olds

I have always found conflict as a good thing, although of course there are the occasional casualties as a result. But the good thing about conflict is that they require conflict resolutions, an effort to :

  1. ACKNOWLEDGE differences
  2. Understand why there are such differences, and what impacts it brings to all the parties involved (any losses, negative feelings, disadvantages)
  3. Find a way to reduce negative impacts of these differences, and not necessarily by eliminating the differences altogether. Although it’s not rare that one or all the parties involved may compromise to minimise differences in some way.

Conflict resolution; when done with good intentions, an open mind and mutual respect for all parties involved; is actually beneficial. It allows us to reflect upon ourselves, and gain empathy for others. It enriches the soul. And it allows us to connect with others.

However, when you start with the intention of getting your way, well that’s not exactly conflict resolution. That’s a 5 year old throwing a tantrum, believing it’s his way or the highway.

Looking at the current conflicts in Indonesia, I’m beginning to think… Maybe we were all stuck in the psychological age of a 5 year old?