allure

There’s such an intriguing allure to people who proves to be somewhat of a paradox from the stereotypes we assign to them.
Just saying.

rumits!

Quote of the day :

Life is really simple, but we insist on making it complicated
-confucius

…Agak menampar, sebenarnya.
Bersama beberapa orang perempuan sok rumit, belakangan ini sedang sering membahas seputar pernikahan dan hidup. Dikupas-kupas tapi tidak kunjung tuntas, tentang konsep pernikahan ideal (bukan seremoninya ya, tapi sinergi, kemitraan dan pembagian peran dalam pernikahan), tentang kriteria calon suami ideal, tentang tujuan seseorang menikah, en de bla en de bleh.
Sedangkan sebagian lain orang, memilih pendekatan yang lebih sederhana : ketika sudah ingin dan siap menikah, lalu bertemu seseorang dengan keinginan dan kesiapan yang sama, maka tunggu apa lagi?
Dan mereka pun (bahkan mungkin lebih) bahagia. Dengan atau tanpa “sparks”, “trining-trining”, “setrum”, “magic” atau apapun namanya itu.
Mungkin ini cuma masalah manajemen ekspektasi.

bungkus!

Abis baca-baca lagi tulisan neng petitepoppies yang ini, dan jadi terpikirkan beberapa hal.
Saya termasuk kategori manusia hopeless romantics akut, yang setiap pasca nonton film-film rom-com bisa mendadak dangdut terjebak dalam mood melankolis keparat.
Meskipun suka sok preman dan sok superwoman, diam-diam berharap ada manusia yang menyadari bahwa saya cuma butuh dimaklumi. Dan percaya, bahwa di bumi yang sudah kelebihan populasi ini, masa siiiih ga ada satu aja manusia yang sebenernya adalah belahan jiwa saya?
Eh tapi kok jadi ngelantur…
Anyway, beberapa waktu lalu pernah membahas dengan seorang teman tentang skenario “ntar gw sama lo aja ya kalo udah umur sekian”. Menurut gue, ya sama dengan yang dibahas neng poppies ya, jadinya kayak “ya udah deh daripada ga ada, elo aja deh”. Dan kata temen gue itu, “ya ngebungkusnya gak gitu dong”…
Namanya juga bungkus. Mau pake kertas kado atau kantong kresek, tapi isinya sama aja kannn?
Jaman sekarang, kita lebih sering terpaku (dan tertipu) sama bungkusnya, sampai lupa bahwa yang penting isinya dulu. Sangat mudah membalutkan kisah dalam romantisme, menempelkan label ini dan itu dengan harapan kondisi menjadi lebih mudah dimaklumi, berharap kenyataan menjadi sedikit lebih ‘bersahabat’.
Bisa aja bilang “it’s just harmless flirting”, atau “ini kisah cinta yang ditentang semesta”, atau “the timing was never right” atau apapunlahya. Semua sah-sah aja. Tapi mau mengingatkan sedikit aja. Ok, mungkin lagi dimabuk asmara, dimaklumi. Ok, mungkin lagi asyik terbang, lupa menjejak bumi. Ok, mungkin rasanya dunia cuma isinya berdua dan yang lain ngontrak. Tapi gini… Biar kata mereka cuma ngontrak, inget-inget lagi deh, apakah ada pihak-pihak yang jadi tersakiti, terugikan, terkhianati? Soalnya, ngontrak juga bayar kan, bukan gratisan.
Carrie di Sex & the City 2 bilang, setiap hubungan akan mendefinisikan aturan-aturannya sendiri. Ada orang yang nggak perlu status, tapi bisa commit sepenuhnya dalam hubungannya. Ada juga orang yang statusnya jelas udah bertahun-tahun, tapi nggak jelas arah dan komitmennya.
Apapun pilihan kita, yang penting sih jujur sama diri sendiri kayaknya. Soalnya teman saya yang lain bilang, there’s no such thing as right or wrong; only choices and its’ consequences.

superwoman beraksi

Macam kurang aja drama dalam hidup saya. Pake ditambah masuk rumah sakit segala. Padahal dulu saya bercita-cita, sekali-kalinya masuk rumah sakit di usia dewasa, cukup pada saat melahirkan saja.
Tapi apa mau dikata. Nyamuk-nyamuk sialan itu menentukan lain. Tadinya saya sudah yakin betul saya cuma demam karena radang tenggorokan. Bahkan sudah yakin sembuh. Sampai-sampai berani berangkat ke Bandung pake kebaya brokat doang sore-sore, malemnya langsung balik lagi ke Jakarta. Demi menghadiri pernikahan sahabat.
Keesokan harinya masih menyiapkan segudang rencana : beli tiket konser, nengok teman yang sakit, nengok teman yang melahirkan, balik ke kost, besoknya miting pagi-pagi. Tadinya tes darah cuma buat iseng memuaskan rasa penasaran, sekedar memastikan : tu kan saya ga sakit apa-apa.
Ternyata….. Sial.
Bangun kesiangan dan serasa ketabrak truk. Memutuskan ga ngantor dan ambil hasil tes darah. Taksi yang gak kunjung datang sampai dua jam kemudian. Demam. Lemes tingkat tinggi. Antrian rumah sakit. Ngurus administrasi bolakbalik sanasini sendiri. Harus dirawat. Jdaaarrrrrrrr!!!
Seketika merasa super kesepian dan super sendirian. Ketika sedang di titik nadir dan tak ada tempat bersandar. Sempat terjebak dalam beberapa menit mellow bermuram durja, dan nyaris terduduk murung di pinggir jendela sambil memandangi hujan turun *biardramatis*.
Tapi…
Dulu-dulu pun saya ga pernah tuuuuh mendadak dijemput buat dianterin ke dokter, atau apapun semacam itu. Dulu-dulu pun ngurus apa-apa sendiri tuuuuh.
Jadi kenapa harus mendadak dangdut?
Maka Andied beraksi kembali. Telpon rumah sakit di Jakarta, pesen kamar, packing baju dari Karawaci, telpon taksi, telpon adik tercinta suruh ngabarin nyokap, meluncur..

Supir taksi : “mau jenguk siapa mbak, bawaannya banyak amat?”
Saya : “mau dirawat pak, bukan jenguk.”
Supir taksi :”dirawat kok ga ada yg nemenin?”
Saya nyengir.

Sampe UGD yang dimaksud…
Petugas: “pasiennya yang mana mbak?”
Saya: “saya.”
Petugas: “sendiri?”
Saya nyengir. Menyerahkan segepok berkas hasil tes darah dan menjabarkan kondisi terakhir.
Petugas: “langsung diinfus ya mbak sambil kamarnya disiapin”
Saya: “mmm…tunggu ibu saya dateng aja ya mas”

….So much for being a superwoman. Tetep aje manja sama emak ini sih judulnya. Mau diinfus aja ga berani. Ya maaf deeeh, pertama kali masuk rumah sakit nih, terakhir kali waktu masih umur 4 taun.