parachutes

My favorite quote. Ever.
1st heard of it quoted by Dweezil Zappa in the “Zappa plays Zappa” DVD, a tribute to his dad Frank Zappa. And it was just a perfect analogy. Perfect.

From: @GreatestQuotes
Sent: Sep 27, 2010 11:35

“Minds are like parachutes. They only function when they are open.” – Sir James Dewar

sent via SocialOomph
On Twitter: http://twitter.com/GreatestQuotes/status/25657230119

Nirmana Mega

Sekitar maret-april 2010 lalu, langit senja sedang di puncak keindahannya.
Sebagai budak korporasi, tentunya saya terpaksa puas menikmati dari balik jendela gedung kantor, meski sesungguhnya tak ada yang lebih saya inginkan selain mengkombinasikan pemandangan senja dengan secangkir teh hangat, pisang goreng dan mungkin teman bicara sembari duduk di beranda.
Pesta sensori yang sempurna.
Namun sudah #nasibbudakkorporasi untuk sebatas mendamba.
Maka saya ciptakan pemanjaan sensori alternatif.
Soundtrack terbaik, selain “Hmmm… Jelang Benam Matahari” oleh Cozy Street Corner, adalah “Strawberry Swing” oleh Coldplay.
Katanya :

The sky could be blue, I don’t mind, without you it’s a waste of time…

Sadessssss. Nggaklahhh…
Senja ini cukup indah untuk dinikmati, beramai-ramai maupun sendiri. Lebih enak disajikan dingin.

Selamat menikmati.

February 20th
February 20th 2010, Cipanas
April 6th
April 6th 2010, Karawaci
April 7th
April 7th 2010, Karawaci
April 8th
April 8th 2010, Karawaci
April 8th - 5 minutes later
April 8th 2010, Karawaci – 5 minutes later
April 12th
April 12th, 2010 – Karawaci

absurditas dosis harian

Dari global warming sampai pacar warga negara asing.
Dari ubur-ubur nomura sampai abang-abang pantura.
Dari jalanan amblas di priok sampai ngomong jorok.
Dari marty natalegawa sampai ngopi non privasi yang perlu kecilkan suara.
Dari jamur enoki sampai kisah seputar budi.
Dari dua belas tahun lalu sampai dua ribu sepuluh.

Terima kasih teman, untuk warna di hari-hari saya.

terlalu manis…

Sekian menit pertama dari film UP selalu menyentuh saya. Kisah yang terlalu manis, meski sederhana. Tanpa dialog, hanya diiringi lagu instrumental.
Dua petualang kecil yang tidak takut bermimpi. Satu melengkapi yang lain, si ceria penuh semangat dan si pemalu yang cerdas.
Tumbuh menjadi dua mudamudi yang memutuskan membangun mimpi bersama. Lalu dalam perjalanan hidupnya, menjadi dua orang dewasa yang saling menopang ketika harus rela menukar mimpi itu akibat dihajar realita hidup.
Bercita-cita menjadi si penjelajah dunia baru yang akan menemukan berbagai spesies binatang langka dengan berkendara zeppelin, akhirnya yang satu berprofesi sebagai pemandu di kebun binatang dan satunya sebagai penjual balon di kebun binatang yang sama.
Sampai akhirnya si kakek mencoba mewujudkan impian mereka dengan ribuan balon yang sama yang biasa dijualnya.
Sampai akhirnya ternyata bagi si nenek, kehidupan yang mereka jalani berdua adalah sebuah petualangan tersendiri.

Dan sialannya, meski animasi tapi film ini begitu sukses menggambarkan chemistry dan pandangan penuh cinta antara Carl & Ellie. Aih merindiiiiing.

Jadi teringat kakek dan nenek saya. 55 tahun lebih menikah.
To this day, he still gives her a goodnight kiss before going to bed.

I hope to find this simple kind of love…

nyak babe paling pintar sedunia

Lebaran ini, nyak babe lagi mood nostalgia. Sudah dua hari mereka terus menerus berbagi kisah-kisah masa muda. Dipicu juga dengan tamu-tamu teman masa lalu yang datang bersilaturahmi, yang berbagi versi mereka tentang nyak babe saya.
Hari ini adalah salah satu hari langka dimana kami berempat punya waktu banyak untuk bercengkerama dengan akur dan hangat. Biasanya selalu terhalang oleh remeh-temeh keseharian yang menuntut perhatian lebih.
Dan meskipun kami sering tak sepaham, beradu argumen, kesal atau bahkan kecewa akan satu sama lain, tapi hari ini saya disadarkan satu hal yang cukup penting.
Saya bersyukur memiliki orang tua yang (cukup) demokratis mendidik anaknya. Yang tidak (terlalu) dogmatis. Yang selalu berbagi kisah masa muda mereka, dari yang paling membanggakan sampai yang paling konyol memalukan. Yang jarang melarang-larang dengan alasan ‘pokoknya gak boleh’. Yang tidak berpura-pura sempurna.
Saya bersyukur memiliki orangtua dari dua ekstrim yang berbeda: si romantis pecinta seni dan si pragmatis pekerja keras. Si jago argumentasi yang mengutamakan logika, dan si hati tulus yang memenangkan rasa.
Maka jadilah saya : sebuah paradoks mini, cuma ada satu di sekujur semesta. Begitupun adik saya, tidak ada duanya.
Yang namanya anak kecil dimana-mana pasti akan belajar pertama kali dari bapak ibunya. Dua orang yang menurut dia paling pintar di dunia. Setidaknya akan begitu sampai saatnya dia melangkah di dunia dan terbuka matanya. Akan tiba waktunya ketika dia belajar dari realita, kejedug kanan kiri, nabrak depan belakang, koprol kayang goyang-goyang (ini sebenernya lagi ngapain sih?) sampai akhirnya dia bisa memaknai hidupnya sendiri.
Buat saya tugas orangtua bukan terus menerus mengawal si anak sampai ujung. Ibarat naik sepeda, mereka mengajarkan trik-trik dasarnya dulu, sambil menuntun dan memegangi si anak dan sepedanya sampai merasa cukup aman. Akan ada satu titik dimana mereka tahu, sudah saatnya melepas si anak berjuang sendiri dengan sepedanya. Meskipun mungkin nanti si anak tak tahu cara berbelok, atau lupa nge-rem, atau hilang keseimbangan sampai terjatuh, berguling, luka-luka di sana sini. Tapi mereka akan mencoba lagi, sampai kelak si anak menengok ke belakang dan melihat dari kejauhan ayah ibunya melambaikan tangan. Nothing better than that feeling, that sense of accomplishment.
I will do the same when I have children, will let them learn from our successes AND our mistakes. Let them know nobody’s perfect.
Karena yg penting bukan cuma pilihan2 yang kita buat, tp juga KENAPA waktu itu kita memilih itu, dan APA YG BISA DIPELAJARI dr pilihan itu.
Thanks, mama papa :’) for the great lesson.

sesat bertanya, malu di jalan

Pertanyaan-pertanyaan dan komentar basabasi yang entah kenapa selalu muncul di acara kumpulkumpul keluarga meskipun sangat mengganggu dan kurang penting :

Tanya : “Mana pacarnya, kok gak diajak?”
Jawab : *senyum aje*
T : “Kapan nyusul?” (Biasanya diucapkan oleh yg baru nikah/punya anak)
J : *menjaga senyum*
T : “Ga pingin ngasi cucu buat mama papa?”
J : *mulai nyengir asem* (lo kate kadoooo?)
T : “Ditunggu yaaa undangannya…”
J : *mulai nyengir ala kuda keringetan*
T : “Tapi kamu suka laki-laki kan?”
J : *mlipir ke meja makan dan membumihanguskan dua piring ketupat, rendang, opor ayam, sayur buncis*