The Manifesto

I don’t do mush.
I don’t do Yang or the variants – kayang, loyang, peyang, beb, bebih, bebek, bebeb surebeb, hun, bihun, hunkwe, … Matur nuhun wae yak.
I don’t do needy and whiny just for the sake of pleasing the male ego.
I don’t do textbook romance. Soul-less poetry, overplayed top 40 evergreen love songs, expensive gifts, candlelight dinners.

I do me. I do late night conversations in a language only we know. I do silent stargazes, moon watches, and shooting star searches.
I do giggles, homemade gifts, spontaneous phrases and street-side stall dates.
I coexist, not co-depend.

I’m done with cookie cutters.

I’m going on a road trip.

And the ad does not read drivers wanted. Hitchhikers are welcome. I can drop you off along the way. For those with the same destination, you’re more than welcome.

Advertisements

antara autan, plinplan, dan jaminan

Sungguh teman, hari saya akan sepi tanpa kalian. Bagaimana tidak?
Ketika saya bersedih karena tragedi melanda, kalian malah membuatnya jadi skenario alternatif ala sinetron absurd Indonesia dimana karakter-karakternya menangis sambil lari-lari kecil di tengah hujan, menjerit-jerit dengan mata super mendelik, dan melempar barang ke segala arah.
Dimana autan dioleskan ke kepala untuk mengobati penyakit plin-plan. Dan aksi mogok makan sudah tidak jaman, tergantikan oleh aksi overdosis MSG.
Sungguh teman, hari saya akan sangat tak berwarna tanpa kalian 🙂

Notulensi Rakoord Budi Fans Club

Perkenalkan : Budi.
Siapa yang tak kenal? Sejak pertama kali belajar bahasa Indonesia namanyalah yang selalu muncul. Ini Budi. Ini Ibu Budi. Ibu Budi pergi ke pasar. Dan seterusnya dan seterusnya…
Maka mungkin sah (meskipun tidak sepenuhnya logis) apabila saya simpulkan bahwa bagi mayoritas perempuan Indonesia yang melek huruf, Budi-lah sosok laki-laki yang pertama dikenal. Namun demikian dalam kehidupan nyata laki-laki pada umumnya tidaklah se-ideal Budi yang rajin ke sekolah dan menurut pada ibunya. Menurut data statistik terakhir, saat ini terdapat lebih banyak laki-laki daripada perempuan di Indonesia. Tapi dari jumlah tersebut, berapa persen yang belum keburu menikah? Dari sekian persen yang single itu, berapa persen yang tidak doyan sesama jenis? Dan dari sekian persen yang sudah kecil jumlahnya itu, berapa persen laki-laki yang baik-baik dan tidak brengsek? Teman saya menjawab : 0%. *pingsan*
Namun saya rasa tepat juga. Karena berdasarkan pengalaman saya dan beberapa oknum perempuan labil di sekitar saya, sepertinya kok memang laki-laki yang masih single, tidak gay dan tidak brengsek sungguhlah langka dijumpai. Maka sampailah kami pada kesimpulan ini : Budi seperti di buku bahasa Indonesia hanyalah ilusi. Budi yang asli, adalah yang banyak bertebaran di sekitar kita. Entah dia tidak available, atau brengsek. Setiap perempuan pasti punya setidaknya satu orang Budi dalam hidupnya. Dan begitu pun kami, yang super lemah terhadap spesies bernama Budi ini. Bayangkan, perempuan-perempuan mandiri yang sukses dalam karier masing-masing dan mendekati kemapanan finansial, perempuan-perempuan tangguh berpendidikan yang mengutamakan logika, tiba-tiba bertingkah laku ibarat anak SMA jatuh cinta.
Budi datang, akal menghilang!
Menolak untuk memposisikan diri sebagai korban, maka kami memilih menasbihkan diri sebagai Budi Fans Club. Karena bagaimanapun, kami kan bukan diguna-guna. Ada sekian persen kesadaran diri pada saat memilih jatuh hati kepada Budi. Terkadang memang lebih mudah berkata : saya khilaf, tidak sadar, tidak tahu apa yang saya pikirkan saat itu. Tapi bukankah itu sama dengan menolak bertanggung jawab atas hidup kita sendiri?
Baru-baru ini Budi Fans Club merayakan ulangtahun salah satu anggotanya dengan sesi karaoke. Setelah berteman selama lebih dari 12 tahun, ini pertama kalinya kami berkumpul dalam satu ruangan demi bernyanyi bersama. Biasanya kami lebih senang menghabiskan waktu untuk berbagi kisah hidup (dan tentunya kisah seputar Budi). Kali ini kami mencoba berbagi kisah melalui playlist. Daripada berpanjang-panjang menjabarkan dua jam paling absurd dalam hidup saya, berikut rangkaian live tweet langsung dari TKP :

    From: @anditweet
    Sent: 20 Aug 2010 22:51

    Sesi karaoke curcolator bersama paguyuban perempuan labiluuun area Jakarta Depok Tangerang dan sekitarnya. edyaaaaan!

    From: @anditweet
    Sent: 20 Aug 2010 23:13

    Jyaaaah belonbelon udah dua aja yang nyanyinya pake bumbu aermata. Asin daaaah -_________-”

    From: @anditweet
    Sent: 20 Aug 2010 23:37

    Daaaan bridgenya lagu ini diselipin puisi-puisi curcol spontan karya sendiri. Bwahahahaha. Absyuuuurd ini kawankawan sayaaaah!

    From: @anditweet
    Sent: 20 Aug 2010 23:41

    Dan boyband kembali berjaya di ranah paguyuban perempuan labilun…

    From: @anditweet
    Sent: 20 Aug 2010 23:50

    Nyanyi kunci ud bubar jalan semua, ada nyang pake breakdance, ada nyang berasa agnes monica, ada nyang berasa model video klip. Belaga gila.

    From: @anditweet
    Sent: 20 Aug 2010 23:55

    What song could b more appropriate than this 4 us labilers? “Lean on me when u’re not strong, I’ll b ur friend, I’ll help u carry on” *hugs*

    From: @anditweet
    Sent: 20 Aug 2010 23:56

    Agnes Monica’s “Tak Ada Logika” menjadi OST paling tepat. Budi datang, Akal menghilang. Bubar jalaaaan!

    From: @anditweet
    Sent: 21 Aug 2010 00:02

    Semuanya bernyanyi : di dadaaaakuuuu agak kumisaaaan! *eh?

    From: @anditweet
    Sent: 21 Aug 2010 00:19

    NURLELAaaaaaaaaa berkumandang! Ah 80s wisdom, still relevant. *eh?

    From: @anditweet
    Sent: 21 Aug 2010 00:24

    Dan skrg K.K.E.B. (Karena Kutahu Engkau Budi) *eh?

    From: @anditweet
    Sent: 21 Aug 2010 00:28

    1 nyangsang dimeja *berasapenyanyicafe,1 glayutan di tembok *berasaReza,1 nari balet,1 joged cheerleader,1 mandangin layar engpong nonstop

    From: @anditweet
    Sent: 21 Aug 2010 00:40

    Bukan karaoke. Cuma curhat jejeritan sambil jejingkrakan seenak udel.

Hmmmm…. Tapi kalau menilik lagi kelakuan kami malam itu…. Sepertinya tidak heran kalau kami sulit mendapatkan laki-laki normal. Wong kami juga nggak normal.

banyak maunyah!

Sulit memutuskan :
1. HP baru
2. Kamera SLR
3. Kamera saku digital
4. iPod
5. Medan trip
6. Bromo trip
7. Bali trip
8. Vietnam trip
9. Thailand trip
10. Seattle trip

——sedangkan dana jelas-jelas terbatas. Dan 2010 akan segera berakhir. Hanya tersisa 4 bulan lagi.
Saya sudah berjanji pada diri sendiri, biarlah 2010 menjadi tahun ‘berlibur’ dan ‘bersantai’. Menikmati hari dan mengenal diri.
Tapi 2011 sudah bukan saatnya terpaku terus begini. Sudah harus kembali bergerak maju. Tetapkan skala prioritas dan tidak terjebak berduka melulu.
4 bulan. 10 keinginan. 0 dana. Huffffff.

kutubukutaktahumalu

Saya mengaku : saya kutu buku tingkat tinggi.
Siksaan terbesar bagi dompet adalah ketika menemukan toko buku dalam kondisi diskon gila-gilaan. Maka gila-gilaan pula saya. Gelap mata memilih berbagai buku yang mendadak jadi terjangkau harganya.
Me-time untuk saya, adalah bergelung di permukaan empuk (bisa kasur, sofa, karpet, rumput) dengan sebuah buku yang menarik dan sedikit musik latar.
Waktu kecil, saya sangat suka pada tempat tidur salah satu personil Beatles di film Help! (saya lupa siapa tepatnya, kalau nggak salah George Harrison). Di film itu dia digambarkan punya tempat tidur yang terbenam dalam lantai. Di sekeliling kasurnya ada rak built in yang penuh buku. Dulu saya berpikir, alangkah bahagianya jika setiap hari dikelilingi buku seperti itu.
Sekarang pun, setiap kali masuk ke toko buku yang super cozy seperti Times Karawaci, rasanya saya mau minta ijin sama manajemennya supaya boleh kos disana aja. Pokoknya gak mau pulaaaang!
Dan nantinya jika saya punya rumah, sudah dapat dipastikan saya akan menjajah salah satu pojokan sebagai pojok baca saya. Jendela besar, sinar matahari, pemandangan ke taman, sofa super empuk, rak buku mungil yang manis, lampu baca. Itu saja cukup.
Naaah berhubung belum memiliki si rumah idaman, maka sekarang berandai-andai dulu, sambil terus koleksi buku-buku dan ngiler sambil goler-goler kalau lihat website ini. Web ini sering menampilkan “bookcase of the day” atau rak buku super kece setiap harinya.
Suatu hari nanti, rak buku dan pojok baca saya akan tampil di sana. Semoga 🙂