Burnt

The following are actually an idea I got for a song lyric. Haven’t manifested into a song yet, though.

Written on January 29th 2010.
—————————————————–

Take your gaze off me mister,
It burns me burns me to the core
I’m flushed in the face now mister,
But still I want more I want more

Those fragments of a second,
When I caught you stealing a sideway glance
Now tell me how d’you reckon,
Can I deny the potential romance?

A slight of hand, a subtle touch
A few well chosen words
To others it may not be much
But see how it unnerves…
Me…
So…

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

give it all

Catch me when I fall,
Pick up when I call,
Hold me in the cold,
Break down my walls

My heart’s a ball
you kick and roll,
It may seem small
but it was my all

Catch me when I fall,
Hold me in the cold,
Really think it’s not too bold
to hope you’ll give it your all

Posted with WordPress for BlackBerry.

30 hari mencari cinta (untuk Indonesia)

Seorang teman memutuskan untuk menyambut ulangtahun Indonesia bulan depan dengan membuat sebuah proyek. Setiap hari selama 30 hari ke depan, sampai dengan tanggal 17 Agustus 2010, dia akan menampilkan testimoni alasan sebagian orang mencintai Indonesia. Memang tidak mudah, ketika pada kenyataannya setiap hari kita dibombardir berbagai potret kondisi absurd yang membuat semakin sanksi atas kompetensi pemerintah.
Mulai dari ledakan bertubi-tubi tabung gas elpiji, berbagai institusi hukum yang mendadak lebih suka menjadi polisi moral untuk kasus perzinahan daripada korupsi, dan ah… perlukah saya tambahkan lagi?
Saya pun mencoba ikut berkontribusi semampu saya dalam proyek tersebut, berbagi kisah cinta saya dengan bahasa Indonesia. Dan hari ini via twitter, tiba-tiba saya melihat ada
artikel NY Times ttg bagaimana penggunaan bahasa Indonesia mulai terkikis. Sebuah realita yang sudah lama terbaca, hanya saja mungkin kita menolak untuk benar-benar menyadarinya. Miris rasanya. Sungguh.
Tapi justru itu saya rasa, yang membuat proyek ini menjadi penting. Justru ketika rasa apatis semakin memuncak, kita perlu diingatkan bahwa kita tetaplah bagian dari bangsa ini. Bahwa jauh di dasar hati, ada benang merah yang mengikatkan kita ke negeri ini, yang membuat kita (pernah) jatuh cinta. Dan bahwa, kita perlu melakukan sesuatu, selain hanya berdiam diri dan merutuk dalam hati.
Sejarah Indonesia memperlihatkan kekuatan kaum muda, dan apa yang bisa dicapai oleh semangat membara. Meski sangat mungkin masih sedikit ‘mentah’ dan belum berwadah, tapi saya yakin dari 1000 hati yang tersentuh, minimal ada 1 yang bisa mewujudkan aksi nyata.
Dari tujuh kisah yang sudah masuk sejauh ini,
ini yang paling menyentuh saya. Coba luangkan waktu anda berkunjung setiap hari untuk menemukan kembali alasan mencintai negeri ini.
Atau lebih baik lagi, tanya pada diri sendiri, apa yang anda cinta dari negeri ini?

Posted with WordPress for BlackBerry.

aku (masih) ingin

Baru baca-baca post lama yang ini dan tergerak untuk melakukan monitoring-evaluasi progressnya.

1. Mau ntn cirque du soleil LIVE » ini cita-cita yang jauh tampaknya. Tapi setidaknya selangkah lebih dekat lah. Sore ini saya akan menonton Balagan Cirque of the World. Pertunjukan sirkus ini memang bukan termasuk rangkaian Cirque du Soleil, tapi diciptakan oleh kreatornya juga. Mungkin versi yg lebih ramping dan terjangkau ya. Bolehlah, teaser dulu sebelum suatu hari nanti menyaksikan pertunjukan sebenarnya.

2. Mau keliling Indonesia » alhamdulillah banget, tahun 2010 ini menjadi tahun yang sangat memungkinkan saya untuk mengeksplorasi Indonesia. Pulau Tidung, Kawah Putih, Pangandaran, Batu Karas, Green Canyon, Bali, wisata Kota Tua, dan (semoga) masih banyak lagi. Meskipun mayoritas lokasinya masih di kitaran pulau Jawa (dana terbatas ya soalnya), tapi tetap senaaaang 🙂 rencana berikutnya : Karimun Jawa, Belitung, Bromo, Bali (lagi), Makassar (lagi). Semoga berhasyillllll !

3. Work Life Balance » kalau ini kayaknya sih belum deh. Belakangan ini rasanya lebih seperti fase liburan. Hidup bahagia betul tapi karier agak nyangkut. Tapi kalau dipikir-pikir berhubung dari tahun 2006-2008 kemarin saya terlalu terfokus pada karier sampai tidak sempat menikmati hidup, mungkin tahun ini memang diberikan liburan untuk menyeimbangkannya ya. Semoga tidak terlena.

Yang lainnya… Uhm… Belum kayaknya. On my way. Semoga.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Just another cliché.

A friend asked me whether or not it would seem fake if he did a makeover (I’m talking personality-wise).
I didn’t even understand the question.
Because what I consider fake, is when you ask for other people’s judgments on whether or not it seems fake to do something with your life. Why should we even care what others think?
The decision should be based on two things :
1. Do we need to change?
2. Do we want to change?
NOT how the change would look like in other people’s eyes…
Some people try too hard to be original, while we are all actually clichés in some way or another. I have to confess that I’m also guilty of this sin. Earlier today, I was going to post some reflections on the 2010 World Cup. Then all of a sudden a friend posted her highlights of the same event. I lost the urge to post mine.
Seriously, in a world that’s been around for several million years, full of the cultural footprints of numerous civilizations, and as part of a species that rely more on modelling and social learning rather than pure instincts; I think it’s impossible to be thoroughly ORIGINAL (unless we’re talking about Colonel Sanders’ chicken recipe here).
I prefer to say that we are each unique, for although we are formed upon numerous clichés, but there are indefinite unique combinations and paradoxes of those clichés instilled in us. So perhaps there’s nothing better to do than be true to yourself. Another cliché statement. But doesn’t mean it’s not true.
As for my World Cup thingie, well you’ll see it soon. Maybe.

Posted with WordPress for BlackBerry.