tentang sepi

Tahukah, bahwa sendiri tidak selalu sepi, dan sepi tidak selalu sendiri.
Beberapa waktu lalu sempat sharing dengan seorang teman yang kisahnya kurang lebih mirip dengan saya. Mendadak sendiri setelah bertahun-tahun terlibat dalam sebuah relationship.
Bahwa kami limbung, itu pasti. Sedikit merasa hilang diri, karena bagaimanapun telah banyak proses yang dilalui bersama, sehingga ke’kami’an itu seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan ke’aku’an.
Bahwa sepi mulai hadir, juga pasti. Ketika selama ini ada tempat berbagi, mengupas dan memaknai fragmen-fragmen hari. Wajar sekali, bukan?
Saya bertanya pada teman saya ini (sudah lebih setahun sejak perpisahannya), berapa lama sampai dia akhirnya bisa mulai membuka diri kembali untuk kehadiran orang lain dalam hidupnya. Sekedar ingin tahu berapa lama hati bisa menyembuhkan sendiri lukanya, lalu siap menurunkan benteng berlapis-lapis untuk lagi-lagi menghadapi kemungkinan luka baru.
Teman saya tidak menjawab. Dia hanya bercerita, bahwa dia sudah memiliki tempat berbagi kesehariannya.
“Kamu sudah yakin akan orang ini?”, tanya saya.
Jawabnya, “Cukuplah, sekedar agar tidak sepi”.
Percakapan berlalu, kami berpisah jalan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Dan saya tak bisa berhenti berpikir : cukupkah?

Cukupkah sekedar tidak sepi?

sedikit pencerahan

Minggu ini banyak sekali yang terjadi. Mulai dari yang menyenangkan sampai yang yah…gitu deh. Tapi gue baru menyadari betapa beberapa bulan belakangan ini gue menjadi lebih sering bersyukur, atau tepatnya mengapresiasi berbagai hal dan kejadian dalam hidup gue.

Dan inilah, beberapa hal yang cukup menyentuh hati gue :

  1. Gue diberikan kesempatan belajar di divisi baru, dengan rekan-rekan baru yang (sejauh ini) sangat ramah, baik dan helpful. Dan atasan yang membimbing dan mengayomi. Really. She’s a dream come true.
  2. Gue mulai ‘belajar’ hidup mandiri lagi, kost di kota ajaib bernama Karawaci. Dan alhamdulillah banget kali ini gue langsung merasa nyaman dan ‘di rumah’. Seumur-umur baru kali ini gue bisa tidur cepet, dengan lampu dan TV mati, di kost.
  3. Tentunya nomor 2 tadi nggak mungkin terjadi tanpa teman-teman kantor yang ikut kost bareng gue. Yang (sejauh ini) mengisi hari-hari gue menjadi nggak sepi lagi.
  4. Dipertemukan dengan seorang teman yang benar-benar ‘lempeng’. Dalam artian, teman gue ini dulunya partner gue di divisi yang lama, dan kita dekat banget. Setelah gue pindah ke divisi baru, dan boss lama gue (yaitu boss si teman ini) ‘berperang’ dengan boss baru gue, dia tetap bisa netral-netral aja berteman dengan gue. Intinya gue senang karena dengan melihat teman gue, gue jadi bisa percaya bahwa tidak semua hal di dunia adalah politis. Bahwa masih ada relasi antar manusia yang tulus dan nggak oportunis.
  5. Gue memperoleh bocoran bahwa tampaknya kinerja gue tahun lalu tidak akan diapresiasi sebagaimana mestinya. Dan lucunya, gue sudah siap menghadapi ini, karena gue memang sudah menebak tipikal boss lama gue dan reaksinya dia terhadap keinginan gue untuk mutasi ke divisi lain. Jadi sebenarnya gue bersyukur, bahwa gue bisa ingat apa yang penting buat gue, dan apa yang nggak. Biarlah tahun lalu gue mendapat apresiasi lebih kecil dari seharusnya, yang penting tahun ini gue mendapat kesempatan baru untuk belajar, bekerja, dan pastinya dinilai secara lebih adil. Yang penting tahun ini kesempatan gue untuk berkembang dan mengaktualisasikan diri lebih baik daripada sebelumnya. Yang penting gue bisa pulang kantor dengan tenang dan nggak merasa melakukan sesuatu yang ‘salah’. Dan gue nggak mau ngotor-ngotorin hati gue dengan iri sama rekan lama gue yang memperoleh apresiasi lebih baik, karena itu rezeki dia kok, dan menurut gue dia pantas memperoleh itu.

Dan…boleh dong gue sedikit bangga bahwa…eh kok bisa ya gue mikir gitu. Biasanya gue kan misuhmisuh sendiri, ngomelngomel, gak bisa tidur berhari-hari karena kepikiran hal kayak gitu.
Hehehe…

Semoga ini bukan fase ya, tapi perubahan yang permanen ke arah lebih baik. Lebih mencintai hidup dan semua momen kecil di dalamnya. Dan bersyukur untuk setiap hela nafas 🙂
Amin.

Seksi

Bwahaahahahaha! *lhooo kok malah ketawa?*
Maaf maaf, tapi entah kenapa kata ‘seksi’ itu konotasinya kurang ciamik di mata saya. Tiba-tiba otomatis diasosiasikan otak saya dengan ‘inem pelayan seksi’.

Sexy, asal katanya, dideskripsikan wiktionary sebagai :

1. (of a person) Having sexual appeal; suggestive of sex.
2. (of a thing or concept) Very attractive or appealing.

Kenapa saya tiba-tiba membahas seksi sih? Hmm tadinya terinspirasi posting seorang teman tentang wujud laki-laki impian (balada gadis single deh), tapiiii baru-baru ini saya mengobrol dengan teman lain dan tersadarkan bahwa buat saya, sexiness itu lebih banyak ditemukan dalam sebuah ‘kesan’ daripada sebuah ‘penampakan’.
Teman saya pernah bilang, power is sexy. Saya kurang setuju, karena tergantung cara menggunakan kekuasaan itu.

Knowledge is sexy.
sense of humour is sexy.
Confidence, even more.
An air of mystery,
musical ability,
prevents you getting bored

Sebenernya kenapa juga ada sempalan pantun tak jelas di atas, saya kurang paham. Tapi memang kualitas-kualitas seperti di atas lah yang seringkali membuat saya meriang panas dingin napsir tingkat tinggi sama seseorang.

Knowledge : buat saya orang yang pintar itu sangat menarik. Bukan berarti harus bisa menyelesaikan perhitungan fisika di luar kepala, tapi pengetahuan yang luas. Dan paling penting, cara pandang yang tidak dogmatis.

Sense of humour : karena alangkah tidak menariknya menghabiskan waktu dengan seseorang tanpa sedikitpun tawa. Kebayang gak sih punya pacar yang kece sekece Gerard Butler tapi becandaannya norak atau setidaknya buat kita sama sekali nggak lucu? Lagi asik-asiknya membangun momentum, tiba-tiba kempesss aja gitu gara-gara dia membuat satu joke kecil atau komen yang bikin kita maless.

Confidence –> akan disimpan untuk dibahas belakangan.

Mistery : yah ini jelas lah ya, dimana-mana gak seru kalau semuanya diumbar di awal. Justru yang bikin penasaran itu yang mengundang kita untuk ingin tahu lebih dalam. Ibarat kata baju, kalau dibuka selapis-selapis, atau tersingkap-singkap sedikit, justru lebih seru daripada yang kebuka semuanya sekalian.

Musical ability : kalau ini sih subyektif banget. Karena saya memang sukaaaa banget musik, dan tidak punya kemampuan bermusik sam-sek, sehingga siapapun yang bisa bermusik (mau nyanyi kek, main gitar, main bass, main drum, main kecrekan, pokoknya A PA PUN), otomatis menjadi alangkah menariknya di mata saya.

Nahhhh sekarang baru bahas yang terakhir :
CONFIDENCE
Menurut saya, tidak ada yang lebih seksih daripada orang yang percaya diri. Yang tahu apa maunya, tahu bagaimana caranya mendapatkan apa yang dia mau, dan benar-benar melakukannya. Yang yakin akan jalan yang sedang ditempuhnya sekarang. Yang biarpun orang lain bilang norak, kampung, katro, cupu, atau apapun, tapi dia lempeng aja gitu karena menurut dia itu yang terbaik untuk dilakukan.

Dan semua kualitas lain di atas, akan berlipat ganda nilainya kalau dilakukan dengan penuh percaya diri. Bayangin orang yang suaranya bagus tapi kalau nyanyi cuma bisik-bisik lirih. Bayangin orang yang sebenernya kocak tapi karena ragu-ragu joke-nya jadi terlambat momennya. Bayangin orang yang cerdas tapi nggak pernah mau berbagi pendapat. Bayangin orang yang akhirnya membuka terlalu banyak rahasia diri cuma demi disukai.

Nah. Sekarang… Saatnya mencari. Hahaha.

Aroma Pagi

Buat saya, kopi identik dengan pagi. Pagi hari yang nyaman, ketika keluarga berkumpul di meja makan untuk sarapan dan berbagi cerita, dengan matahari mengintip sedikit dari luar jendela.
Sedikit mirip dengan telur setengah matang di postingan sebelumnya. Hanya saja, aroma telur setengah matang agak kurang nyaman untuk sering-sering dicium. Bisa mabok malah.
Belakangan ini saya pun sedang sering-seringnya mencari-cari kopi kapal api. Bukan untuk diminum sebenarnya, lebih untuk dihirup saja aromanya. Mencari sejumput ketenangan ditengah rumitnya dinamika ibukota.
Pun setiap kali saya masuk ke coffee shop, aura hangat itu otomatis melingkupi begitu saya mencium aroma kopi.
Jadi terpikirkan, tampaknya nanti kalau sudah punya rumah sendiri, ruang duduk/ruang tamu/area sarapan harus selalu diwarnai aroma kopi. Plus ditambah sinar matahari dan ventilasi yang cukup. Hmmm… 🙂 …
Meski sebenarnya, buat saya, minuman paling tepat buat memulai hari tetap saja : teh panas :p Lebih bisa ditoleransi perut, lebih sedap di lidah hahaha.
Nggak apa-apa toh, duduk-duduk minum teh di ruangan beraroma kopi?