rapuhnya asa

Beberapa saat lalu saya pernah membandingkan trust -atau kepercayaan- dengan gelembung sabun yang rapuh. Saya rasa analogi yang serupa dapat berlaku untuk harapan.
Harapan. Asa. Mimpi. Cita.
Pepatah berkata, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Dan setinggi itulah harapan bertahta. Ketika mungkin tubuh kita, terkungkung oleh gravitasi bumi dan realita di permukaannya, hanya serpihan sisa-sisa semangat juang kita yang bisa menolak.

Harapan terbang jauh, meski sesungguhnya ia rapuh.
Karena ia ringan tak terbeban, tanpa atribut norma dan realita.
Maka angin menjadi kawan, setia mengantar hingga labuhnya.
Karena ia jernih, ia bersih, tak terkotori prasangka.
Maka tak ada perih tersaji, melalui lensanya.

Mungkin karena itu, sampai sekarang saya senang sekali melihat gelembung-gelembung sabun beterbangan. Terbawa angin ke berbagai penjuru.
Seolah-olah kumpulan harapan sedang bersiap-siap, berpasrah diri dibawa semesta kepada tempatnya.
Maka jangan salahkan saya jika mata ini tak berhenti berbinar setiap melihat penjual cairan gelembung sabun. Pun jika kemudian saya membelinya dan tak berhenti meniupkan gelembung hingga habis.
Ijinkan saya menitip doa kepada semesta, saya bisikkan perlahan ke dalam masing-masing gelembung. Mengajak angin bersekongkol dengan saya sembunyikan gelembung-gelembung itu ke penjuru dunia, berharap tak kunjung pecah dia seakan-akan abadi asa.

test of time

This is my grandparents, who after 55 years are still in love with each other.
A stroke ruined the part of my grandma’s brain that controls speech ability, and so she hasn’t spoken for almost 7 years. My grandpa’s hearing has failed him gradually since I don’t know when.
One can’t speak, the other can’t hear. But their eyes always light up at the sight of each other. And it’s plain to see that for them, that’s enough.

My grandfather was admitted to a hospital several weeks ago. My grandmother insisted to visit him every morning. As she walks into the room, he would say proudly to the nurses “Have you met my girlfriend? She’s so pretty isn’t she?”. Since grandma can’t speak, all she does when she visits is take a chair at his bedside, and hold his hands. Sometimes they hold hands while watching TV, sometimes while gazing into each others’ eyes, sometimes they even fall asleep while holding hands.
Old people can be so stubborn, especially my grandpa in particular. He often refuses to eat, and nothing we say or do can make him eat. Then grandma comes to the rescue, just by glaring at him, or trying to feed him. Like a 5 year old, my grandpa obliges sheepishly.
I am a skeptic when it comes to love, but they continue to prove me wrong. Now I regret that I never probed deeper about their courtship. Who made the 1st move, where did they meet, where did they go on their first date, when did they know they were in love?
I sincerely hope I will have a love story this beautiful and longlasting…
And for my grandparents Uti & Aung, I’m so grateful they did. 🙂

—–this picture bears close resemblance :’)

see the resemblance?

#Trip : Singapore – Coldplay’s Viva La Vida World Tour

Satu hal yang cukup signifikan di dekade 2000-2009 kemarin (maaf ya kalo belakangan ini saya sering banget ngebahas masalah dekade-dekade ini :p), adalah hubungan saya dengan musik. Saya berasal dari keluarga dengan tingkat musikalitas yang cukup tinggi, dan sebagian besar keluarga saya adalah musisi. Tapi awal pertama kali saya benar-benar jatuh cinta dengan musik adalah mulai tahun 2000 (see, tepat di awal dekade ini kannnn. Spektakulerrr ☺).

Dan yang berhasil membuat saya jatuh cinta setengah mati adalah abang-abang bernama Guy Berryman, Johnny Buckland, Will Champion dan Chris Martin. Yap. Coldplay.

Awalnya sederhana. Saya suka sekali warna kuning. Dan ketika itu radio-radio ibukota sedang kecanduan memutar Yellow dimana-mana. Lagu Yellow sendiri, sebetulnya, tidak terlalu spesial untuk saya. Hanya lagu pop pada umumnya. Tapi ketika saya meminjam album Parachutes pada seorang teman dan mendengarkan semua lagu di album itu, saya jatuh cinta.

Bayangkan kelabilan seorang remaja kurang populer berusia 16 tahun. Anehkah jika sound yang gloomy, vokal yang lirih dan lirik yang ‘gelap’ menjadi demikian menarik untuk saya? :p

Setelah Parachutes, muncul A Rush of Blood to the Head, X&Y dan Viva La Vida yang sudah bergeser dari apa yang membuat saya pertama kali jatuh cinta sama mereka. Tapi toh, selalu ada warna baru yang membuat saya tetap setia meski untuk hal yang berbeda…

Dan maka alangkah bahagianya, ketika di penghujung akhir dekade ini saya berkesempatan menyaksikan mereka secara LIVE.

Menghirup udara yang sama dengan mereka dalam satu ruangan. Melihat sendiri bagaimana abang Chris jejingkrakan berkeliling panggung seperti kesetanan. Bagaimana dia berdansa diluar irama ketika tiga temannya justru menjaga irama. Menyanyikan lagu favorit saya bersama mereka.

Salah satu momen paling signifikan di tahun 2009 🙂

And here are the pretty people I spent it with

this picture courtesy of my lovely cousin. thankyou spups!

————– 19/11/11 ————–

Baru nemu setlistnyaaa di sini dan di sini

20111119-015030.jpg

Beberes Rumah

Hari ini menjadi hari kedua sebuah tahun yang baru, sekaligus dekade yang baru lhooo 🙂
Dan sepertinya alangkah baiknya periode baru ini kita mulai dengan beres-beres! Tapi untuk mulai bergerak membereskan kamar saya yang lebih serupa gudang itu, tampaknya saya terlalu em a el a es. Bisa habis satu tahun sendiri untuk itu, jadi mungkin nanti saja saya lakukan kalau saya sudah akan meninggalkan kamar itu. Pikiran dan hati saya, ternyata sama saja kondisinya dengan kamar ‘gudang’ saya itu.
Setelah saya sadari saya memang ternyata suka menggenggam erat remah-remah kenangan sekecil apapun: baik, buruk, maupun yang tidak penting sama sekali. Dan hal-hal kecil itu tak jarang bertumpuk menjadi sampah yang menghambat saya meletakkan hal-hal baru untuk menghias hidup. Perseteruan-perseteruan kecil di masa lalu terkadang membuat saya sulit maju dan menjalin hubungan baik dengan orang-orang tertentu. Atau kenangan indah di masa lalu membuat saya sulit menerima bahwa beberapa orang di sekitar saya telah berubah menjadi racun, dan malah terus berharap hal itu hanya sementara.
Jadi, saya akan mulai tahun -dan dekade- ini dengan beres-beres kehidupan saya dari sampah-sampah ajaib semacam itu.

Tahap pertama beres-beres tentunya adalah menyortir. Mana saja peristiwa-peristiwa yang memang signifikan dan menjadi media pembelajaran untuk pengembangan diri seorang Andied, dan mana yang cuma selewat lalu. Peristiwa signifikan ini akan menjadi ‘piala-piala’ saya, untuk terus dipajang di rak kehormatan memori. Akan sangat berguna nanti, ketika kita sedang terpuruk dan butuh diingatkan akan potensi diri. Tahap berikutnya, buang jauh-jauh sampah dan hal-hal remeh-temeh. Dendam masa lalu dan sakit hati yang sudah basi tidak lagi perlu disimpan-simpan. Analisa kondisinya, tarik kesimpulan, simpan lessons learned -nya. Lukanya tidak perlu dibawa-bawa, apalagi dikorek-korek.

Nah, sekarang lihat, lapang bukan sisa ruang di hati? Saatnya kembali menimba ilmu di sekolah bernama hidup 🙂