Lebaran Datang :)

Khilaf selalu ada, karena manusia tak sempurna.

Namun semoga Maaf yang juara atas ego kita.

Sebulan berlatih empati dan menahan nafsu diri,

bukan hanya untuk setahun sekali.

Semoga semangat Ramadhan terus mendorong kita untuk menang atas diri sendiri

Dan semoga suatu hari nanti saya bisa menemukan makna lebaran seutuhnya 🙂

practice makes perfect

The problem of self editing in this article truly shows what I’m going through the past few weeks.

Just like every other craft in the world, the secret of being a good writer is…practice. Just keep spewing those random train of thoughts that go through my tiny cramped brain, praying reaaal hard it will somehow be comprehensible enough to a human being.

Well of course imagination, ingenuity, a damn good topic, a fresh point of view and a story telling style that captivates the reader will also prove to be indispensable to good writing. But alas, I have got a really long road to go. Come on, write write write!!! I may be spamming this blog with uninteresting snippets of mundane everyday life, or half developed opinions on some issue, please just bear with me readers (are there any actual readers out there?).

You know what I need? A mentor! You know, the authority figure that will show me gently & lovingly the error of my ways thus far, the one that will selflessly cultivate my craft to perfection, making red circles on my drafts, and giving me chores of scrubbing the floors so I can learn about the importance of process instead of focusing on the end product (starting to sound like karate kid?)

Okay stop already with the daydream. Just practice.

papercut

Each and every day in life, we meet the chance of getting hurt. It’s something not to be avoided. It can’t be avoided, as it is an essential process in life itself. I believe that when something doesn’t kill us, it makes us stronger. Adversity is the thing that allows us -or rather, force us- to grow as a person.

However, I tend to look at pain differently when it happens to someone else. And when I am the source of that pain.

Being a very outspoken person, I always speak my mind. That is what you call assertive. On the flip side, I also always speak my heart out. THAT, may often prove to be abrasive, especially when done at the height of emotional turmoil and not granted with the privilege of self constraint.

Although I may not have any intention to hurt, but there is no denying the fact that someone got hurt. Just like a papercut. As small or minuscule it may seem to me, but the pain is real to that person.

As my lecturer in college once said,

when it comes to feelings, there are no rights or wrongs

So I’d have to say, the only thing wrong in this situation …… is me.
I don’t think a band aid’s going to do the trick 😦

Go Blog

Belakangan ini, mulai rajin nulis-nulisin blog lagi. Gak terlalu penting isinya, tapi yang penting nulis. Soalnya buat saya nulis itu jadi sarana untuk refleksi (bukan pijet releksi, jadi jangan bayangkan saya lagi mijit-mijit jempol kaki pake keyboard yah). Setelah seharian ngurusin orang lain (mulai dari urusan kantor, pacar, keluarga, temen, dll) kayaknya butuh banget aja waktu berdialog sama diri sendiri.
Soalnya yah saya merasa dalam keseharian itu kita udah menjadi robot-robot kota (meminjam istilah si papah dalam salah satu lagunya), terkadang udah disetel automatic mode, jadi kita melakukan segala sesuatunya tanpa benar-benar berpikir. Jadi di akhir hari rasanya sangat perlu mengingat kembali apa saja yang terjadi hari itu, dan memaknainya dengan sungguh-sungguh. Diolah dulu lewat sel abu-abu. Satu lagi usaha untuk menemui makna diri di dunia 🙂
Makin sering nulis jadi makin sering juga blogwalking dan baca blog-blog orang lain. Terus pastinya jadi membandingkan sama blog sendiri. Iri deh ih, sama blog-blog yang udah jelas konsepnya sehingga bener-bener terlihat utuh sebagai satu kesatuan.
Sedangkan blog saya? Di sana-sini terlalu banyak topik dan kategori bertebaran, belum tentu nyambung satu sama lainnya. Ada yang bahasa inggris, bahasa indonesia yang baik & benar, bahasa indonesia yang gak baik & gak benar, bahasa-bahasa (sok) puitis yang mungkin cuma saya aja yang ngerti, bahasa planet mungkin juga ada. Ada yang serius-serius reflektif gimanaaaa gitu, ada yang sok-sok kritik sosial, ada yang sama sekali gak penting. Haduuuuhhhhh…
Judulnya aja udah gak relevan. Nonsense and a cup of cake, karena dibikin waktu jaman masih semangat juang 45 bikin-bikin cupcake. Sekarang cuma nonsense aja yang masih berjalan, tapi cupcakenya ngadat.
Jadi?
Gak tau ah…

Hari ini lewat link dari seorang teman di twitter menemukan website kece tentang blogging
Disana cukup banyak pembahasan tentang blogging yang baik dan benar, dimana salah satunya adalah pertanyaan : apakah anda blogging dengan tujuan tertentu?
mmmhhh… saya punya sih tujuan, untuk katarsis ajah hihihihi…
Apa ini artinya saya nggak mau punya blog yang dibaca banyak orang? Mau. Tapi mungkin suatu saat nanti aja. Kalau udah ada hal-hal penting selain luapan-luapan emosi ataupun produk tidak sempurna dari kontemplasi sesaat, yang cukup penting untuk dibaca khalayak ramai.
Sekarang? Puas dengan begini aja deh…
Mungkin bisa dibilang tidak bertanggung jawab kepada pembaca. Tapi berhubung nggak ada pembacanya, jadi dimaklumi kaaannnn? 🙂

…PussyCAT doll

Tampaknya emak bapak saya udah nggak sabar ingin punya cucu. Beberapa kali hal ini disinggung dan sekian kali pula saya menanggapinya dengan cengar-cengir ala kura-kura dalam perahu (pura-pura tidak tahu).

Hasrat mereka semakin kentara ketika keluarga kami memutuskan mengadopsi seekor kucing kampung (sebenarnya si kucing itu yang secara sepihak dan semena-mena mendeklarasikan bahwa rumah kami = rumah dia).
Kucing ini secara khusus memang bukan orang kucing asing bagi kami. Kalau masih ingat cerita di posting sebelumnya tentang tem, bubu, kunkun + mamahnya, kucing sok asik ini adalah si kunkun dalam cerita tersebut. Jadi memang dia cukup sering main ke rumah, dan disambut dengan cukup ramah oleh segenap anggota keluarga.
Lama kelamaan dia keenakan. Setiap jam makan entah mengapa dia selalu sukses nongol di bawah meja makan (cerdasnyaaa kucing ini). Ikut nonton tv sama prt di rumah saya. Bahkan dia suka iseng nyelisip2 masuk lemari.
Kucing ini tidak sepenuhnya nggak tau diri sih. Sesekali dia ‘membalas budi’ dengan caranya sendiri : menangkap tikus. Diletakkannya tikus yang sudah almarhum itu, terkapar di luar rumah, seperti mau bilang “ini upah kalian untuk ngasih makan saya 2 minggu ke depan”.
Oke, mulai ngelantur. Apa hubungannya pengen punya cucu sama kucing ajaib? Karenaaaa sejak jaman dahulu kala ibu saya itu paling anti sama makhluk bernama kucing. Tapi kucing ini direlakannya tidur di kamar bapak ibu saya, seperti anak bayi.
Dan secinta2nya bapak saya sama kucing, nggak pernah sampai dia rela MENCUCIKAN PIRING MAKANAN SI KUCING. Bahkan piring makanan miliknya sendiri nggak pernah dicuci sama bapak saya.

Tau kan bagaimana kakek nenek itu selalu bangga sama hal2 paling kecil yang dilakukan cucunya? Bahkan ketika cucunya pup di atas baju kakek neneknya yang paling mahal pun bagi mereka adalah sesuatu yang sangat menggemaskan. “Ih opa opa liat deh si schaatje pup di atas baju oma yang Prada. Pinter banget sih maunya pup di atas barang mahal. Cucu siapa dulu dooong”. Gitu kali kira2 pembicaraannya ya.
Bapak ibu saya punya reaksi yang sama pada si kunkun. Setiap kali temperamen bapak saya agak kumat, atau ibu saya lagi bete di kantor, cerita2 kecil mengenai kenakalan si kunkun di hari itu selalu sukses membuat mereka tersenyum kembali.
Teman saya bilang “wah, ndied, beneran pengen cucu itu artinya”. Astaganaga. Matilah saya.
Selain saya sering mati gaya di depan anak kecil, rasanya lahir bathin kok ya belum siap untuk memunculkan andied-andied kecil di dunia ini.
Saya masih terlalu egois dan terlalu apatis. Gimana mau ngajarin anaknya kalau ibunya juga belum (sepenuhnya) matang?

Jadi ma, pa, berapa ekor kucing yang kalian mau (sambil menunggu)? 😀