HR Forum JadiJadian

berawal dari sebuah email di hari kamis sore, ditambah bumbu pancingan sana sini yang kemudian digigit oleh beberapa ekor ikan maka akhirnya jadilah hari ini kami bersua.
ikan ikan yang bertemu ini semuanya alumni dari fakultas psikologi sebuah universitas di Jakarta, dan masing-masing terdampar di daratan pekerjaan berjudul HR (ada yang bilang HRD, ada yang bilang HRM (baca : ha-er-em, bukan haram))…
semuanya punya agenda masingmasing untuk ketemuan hari ini. ada yang lagi excited karena baru mulai megang OD (meskipun beberapa minggu kemudian ternyata gak jadi megang OD dan terpaksa kembali ke comben hiksss…), ada yang lagi mempersiapkan untuk belajar comdev, ada yang lagi perlu belajar grading buat TA, pokoknya macem2 lah ya, terus ada juga satu orang yang hari ini didapuk menjadi keynote speaker-nya (cieeehhhhh…)
meskipun terpentok beberapa kendala seperti berkurangnya peserta karena sms yang salah dikirimkan, serta terlambatnya ibu keynote speaker karena pesawat-nya delay (maklum, harus diimpor dulu), bahkan sampai dengan venue yang ternyata TUTUP meskipun memproklamirkan diri buka 24 jam, tapi akhirnya sharing hari ini berhasil terlaksana.
sebuah angin segar ditengah realita keseharian yang yaaaahhh gitu dehhhhh…. lupakan sejenak masalah teori, anggaran, dan keterbatasan. hari ini kami menyerahkan diri pada mimpi.
…sebelum besok jam 8 berjumpa realita kembali

…broken promises..

Kemarin seharusnya adalah deadline gue untuk melakukan re-evaluasi atas beberapa hal di hidup gue. menjawab beberapa pertanyaan yang pernah gue tanyakan ke diri gue beberapa tahun lalu, dan melihat apakah ada perubahan yang cukup signifikan.

Perubahan signifikan sih ada, tapi kok sepertinya tidak ke arah yang gue inginkan ya…
well anyway, jadinya gak menarik lagi deh dan gue membatalkan re-evaluasi dengan metode menjawab pertanyaan2 itu, karena ternyata banyak yang sudah gak relevan dengan kondisi hidup gue saat ini.

kalau dulu gue selalu terfokus untuk menyelami rasa, sekarang mungkin sudah agak setengah mati (rasa). hanya menyentuh sedikit di permukaan tapi gak mau menyelam lagi, mungkin takut sesak nafas ya.

di tengah kegamangan ini gue yang sedang membuka blog teman gue, melihat ada link yang direkomendasikan dan mengikuti link itu. dan kalimat berikut membuat gue tersenyum (pahit) :

There are a million ways to bleed. But you are by far my favourite.

we choose our own pain. consciously or not, either by default, by example, by what we perceive as ‘normal’, or simply by circumstance. the ‘you’ doesn’t necessarily have to be a person. it can be a group of people, an institution, a situation, anything at all.

there’s always the choice of fight or flight. the fact that we (you, me, them, anyone) are wallowing in any kind of pain right now, means that we (you, me, them, anyone) chose to stay in it. STOP.

Great Expectations

Expectations are a very scary thing for me.

OK, wait, tunggu dulu, jangan mulai mengucapkan kalimat2 macam “hidup itu tidak bermakna tanpa harapan”, “manusia tidak boleh kehilangan kemampuannya untuk bermimpi”, dan bla bla bla lainnya… gue bukan membicarakan tentang harapan yang ITU. not hope. but expectations.

mimpi-mimpi gue (sampai saat ini) masih tersimpan rapi dalam sebuah kotak di belakang otak gue, menunggu suatu saat dilepaskan dan mengkristal jadi kenyataan. tapi yang gue bicarakan adalah ekspektasi gue atas berbagai hal kecil, setiap belokan tanjakan dan turunan mungil dalam keseharian gue.

hal2 semacam ketika gue ada janji kencan sama teman2 kuliah tercinta di sudirman, sedangkan gue mengkalkulasi bahwa perjalanan karawaci-sudirman memakan waktu sekitar 1 jam sehingga gue bisa bertemu mereka jam 7. tapi ternyata jakarta menginjak2 ekspektasi itu dengan memunculkan kawan lamanya bernama KEMACETAN di saat yang sangaaaatttttt tidak tepat dan membuat gue ingin berubah jadi KINGKONG supaya bisa mengangkangi kemacetan itu dan tiba di tempat tepat waktu. ekspektasi2 kurang penting semacam itulah pokoknya yang gue bicarakan.

So that’s why I say that expectations are a very scary thing for me. Because when they start to fly, they go all the way. UP. (which, of course, makes the fall down reaaaalllllyyy painful).

I have ‘learned’ along the years to stop expecting certain things from certain people or situations. To no avail. When it all comes down to it, I’m such an emotional masochist.

I see the sprout of an expectation, and quick as a flash I start to give it wings. Not just regular flying wings, but super big angel wings, along with a turbo jet booster with NOS so it can fly fast-and-furiously up up and away. Launch ’em up into space, just to go careening all the way down in smithereens.

People just never learn. Me in particular.

Let’s hope I change….oh, the irony…

green home

the past several years I am constantly dreaming of a green and environment friendly home. just wondering if the technology required will make it really expensive (after all, this is Indonesia, where all things beneficial will cost so much you’d rather be a villain to earth)… so a parallel project will be to gather any kind of information about building a green home. any suggestions?

What my wedding dress choice translates into

so there was this online quiz about how my choice of wedding dress can supposedly portray what kind of bride I will be. However, since I will be wearing a kebaya on my wedding day, I don’t know how the quiz results will be relevant. Some of it is pretty close.
I do want a small and intimate ceremony, wherever it may be. (I prefer it to be done in a neutral location though, no religion specifics needed)
I do agree that people can make deep and eternal commitments without a piece of paper to sanctify it.

but the description of marriage : so true… (and so hard to make it come true, I hear)… oh well…

Your Dress Says You’re Classically Stylish

Your Personal Style:
Modern and simple. You like clothes to accentuate who you are, not overwhelm you.

Your Ideal Wedding:
A small ceremony at an old church with a beautiful flower garden

Your Philosophy on Marriage:
You can have a deep commitment without marriage. It’s only a piece of paper.

Your Perfect Marriage:
Simply loving each other a little more every day

the first step. always the hardest part

I consider myself to be one of those people who are not very feminine. I don’t really fit into the mold of the norm of women (or perhaps more accurate : GIRLS) my age. I’m not in a rush to jump start my relationship into a permanent commitment just yet, I’m not constantly hinting/nudging for a proposal, and most important of all, I don’t want all that YET.

Growing up, like all girls, I fantasized about weddings. But in retrospect, it was always the wedding, and not necessarily the marriage that I fantasize about. Why so? Well obviously, in weddings the girl always get to be the star of the day, all dolled up and perched on the stage like a doll. But marriage, is a whole other story.

Maybe it’s my family history, maybe my inability to build stable and sustainable relationships, but I haven’t pictured myself in a marriage ever.

This sudden realization that someday I too may want to take part in a marriage, puts me in a very strange position. While other girls may have been planning and preparing for it since kindergarten, I know ZERO.

So as my friends start to embark one by one on their journeys to domestic bliss, I’m still here. However, I can’t help to be a little reflective on what I WOULD do (note the future tense) if I were in that stage of life. So this will probably be a crash course of me, getting to know myself and my preferences on the topic (and all the little details that come with it).

Wedding stuff, relationships, making a home, child rearing and all that jazz, here I come.

how do you feel?

trying hard to find out what in heaven’s name “twitter” is, and why there’s so many buzz about it, I stumbled upon this site, which is a project that harvests human feelings. huh? bingung yaaaa?

jadi project ini mengumpulkan emosi2 manusia yang ditulis di berbagai blog. kalimat2 yang ada kata2 “I feel…” dan semacamnya itu dikumpulkan dan direpresentasikan menjadi sebuah partikel warna-warni. kayaknya warnanya menggambarkan perasaan yang diungkapkan di kalimat itu, dan bahkan mereka bisa mengidentifikasi data2 demografik orang yang memposting perasaan itu.

partikel warna-warni ini kemudian melayang2 di layar secara random, kalau diklik salah satu, kita bisa melihat kalimat lengkap perasaan yang direpresentasikan partikel itu, bahkan ada beberapa yang dilengkapi foto yang terkait. lucunya lagi, partikel2nya merespon cursor kita, bisa tau2 mencar2 atau ngikutin cursornya. kereeeennnnn…

data demografis yang terkumpul juga sebenernya mungkin bisa digunakan sebagai metode research mungkin. idenya jenius tenan menurut gue… hebatt!